VALAS

Kurs

Beli

Jual

USD9125.009200.00 
SGD6443.20 6520.20 
AUD7887.95 7988.95 
JPY83.06 84.40 
28-Agt-2008 10.57 WIB


 
Dapatkan account e-mail gratis @sindotechno.net
Wawancara Sardono Waluyo Kusumo, Pada Intinya Adalah Penciptaan
Thursday, 27 December 2007

Indonesia di mata Sardono Waluyo Kusumo makin jelas sebagai proses penciptaan. Dalam budaya pun Sardono menyebut intinya adalah penciptaan. ”Selama mereka masih mencipta, materinya apa pun, dari mana pun (itu tidak apa-apa), ” kata pria asal Solo itu.

Selama puluhan tahun kariernya, dunia tari mengenal luas sang maestro ini. Dia sudah kenyang penghargaan lokal maupun internasional. Hampir tiga jam wawancara di sebuah kedai kopi di Kemang, Mas Don –begitu Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini biasa disapa– bicara banyak, dari reog, tari, lingkungan hingga telur busuk. Berikut ini petikannya.

Sekarang ini banyak produk budaya Indonesia yang diklaim Malaysia. Bagaimana menurut Anda? Apanya yang salah dengan kondisi ini?

Kalau saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Dalam budaya itu bukan produk (yang penting), tapi kita lihat (produk itu) sebagai proses membudaya. Kita dulu malah senang kalau ada orang asing belajar gamelan. Melihatnya jangan untung rugi materiil dulu, proses itu harus kita amati. Seringkali malah kebudayaan itu merupakan suatu proses memberi dan menerima. Seperti Ramayana dan Mahabarata dari India, apakah nanti orang India akan bilang, “Jangan, lupain Ramayana Mahabarata.” Atau kemudian kita tidak lagi takut orang Kanada nembang (menyanyi) sinden nanti dicurigai. Jadi kalau mau ekstrem begitu. Ada ekstrem jual beli, tapi sebenarnya kita senang.

Artinya seringkali malah diuntungkan ya?

Kalau milik, itu persoalan etika saja. Jadi harus diajak ngomong saja. Kita harus mulai terbiasa bahwa memang akan terjadi banyak sekali. Sebagai contoh dulu di Singapura sudah banyak pertunjukan reog dan sebagainya yang ternyata dari Jambi dan Lampung. Di Malaysia juga banyak orang Jawa yang bikin jaran kepang. Kita akan siap terjadi sebuah diaspora. Orang Jawa di mana-mana seperti di Suriname juga bikin begitu. Artinya tidak sederhana dan itu bukan seperti barang. Kalau barang hanya ada satu yang kalau diambil hilang. Tapi kalau reog dibikin lagi. Atau tari Jawa dan gamelannya. Seringnya malah diuntungkan juga. Lho itu ada reog bagus, akhirnya orang kan mencari sejarahnya, oh ternyata sejarahnya di Ponorogo. Itu kan promosi juga. Misalnya sekarang ini kan diklaim milik Malaysia. Itu boleh disebut. Tapi bahwa akan terjadi fenomena reog ponorogo itu ya karena keberhasilan reog itu sendiri.

Itu berarti budaya itu sendiri aslinya memang universal?

Budaya itu selalu dibentuk oleh sebuah dialog, saling menerima. Bayangkan kalau sekarang not balok tidak boleh digunakan di Indonesia karena itu milik Belanda. Ya kita tidak bisa nyanyi. Orang Jawa kan cuma slendro pelog dan itu belum lama kita nyanyi do re mi fa so la si do. Paling belum ada 100 tahun. 

Artinya apakah itu bukan karena kita sendiri, karena apresiasi budaya Indonesia rendah?

Bukan, itu proses membudaya lagi. Kita selalu kalau sudah memiliki kemudian kita malas sendiri, bosan juga. Saya itu orang Solo, penari keraton Jawa, penari klasik. Sekarang kalau saya ke Solo mau nonton tari Jawa tidak ada. Di Sriwedari (taman budaya) itu yang nonton cuma sedikit dan itu bukan jenis tari Jawa yang baik. Kalau dulu setiap kali ada pernikahan, pasti ada gamelan Jawa. Tapi sekarang makin lama makin menyusut.

Keroncong misalnya, di mana-mana, termasuk di Jakarta, tidak hidup. Nanti kalau di Malaysia ada keroncong, kita ribut, wah jangan-jangan nanti keroncong mau dibikin di sana. Proses membudaya itu ada proses pergantian, pembaharuan, ada naluri manusia biasa yang menginginkan hal yang baru.

Dan apakah hal ini yang mendasari Anda untuk mengubah pakem tari tradisional?

Bagus. Jadi artinya yang penting bukan bendanya. Tapi kita harus terus kreatif memakai warisan itu menjadi sumber penciptaan untuk terus kita menjadi senang kembali. Dan kalau kita senang, itu biasanya sudah ada perubahan yang sesuai dengan selera kita yang berkembang. Seperti halnya baju kan kita berkembang terus.

Proses kreatif yang lahir dari Anda kan ada tantangan dari pihak luar yang tidak sependapat. Bagaimana menjelaskannya?

Ya itu makanya seringkali diperlukan “orang-orang gila”. Justru karena saya penari klasik yang tahu betul klasik itu bagaimana. Ketika zaman berubah saya rasakan betul, ketika saya ingin menari tetapi badan saya sudah tidak lagi bisa begini.

Nah, ketika zaman dulu ketika menari dan senang, Kota Solo itu gelap. Dulu semua masih naik sepeda yang pakai lampu minyak. Zaman itu guru-guru tarinya kalau duduk diam, nari-nya halus.

Nah, sekarang ini orang Solo itu nari begini ini (menggerakkan pergelangan layaknya menari), pelan tapi keluar dari situ sudah  jalannya 70 km/jam. Ya susah kayak gitu. Jadi ritme kehidupan, kebutuhannya, dan sistem syarafnya berbeda banget. Ya, nggak mungkin dong kita harus meloncat bus terus kemudian begitu (nari halus), kan sudah tidak relevan.

Pada awal pementasan kreasi baru, yakni tari pancasona, Anda sempat dilempari telur busuk di atas panggung. Bagaimana perasaan Anda saat itu?

Ya itu nasib 1968, dilempari telur kemudian di Bali dilarang. Saya sendiri dianggap penari klasik yang bagus. Makanya tahun 1964 saya sudah dikirim ke Amerika Serikat (AS) saat saya masih berusia 19 tahun mewakili Indonesia. Di AS saya menari selama satu tahun. Tapi (berubahnya karya) saya karena merasakan zaman yang sudah berubah dan bertemu dengan berbagai macam jenis tarian di Indonesia. Justru ketika saya bertemu dengan tarian dari Dayak, itu saya senang. Kebetulan saya berteman dengan anak kepala suku Kenyak di Jakarta. Dia itu nari tidak ada bentuknya, tidak seperti tari Jawa atau Bali yang terlihat bentuknya secara jelas. Ini cuma ngolet-ngolet tok, kemudian loncat sambil teriak. Wah, saya itu malah senang dari yang biasa halus-halus begitu. Saya pelajari, kok enak banget ini. Meledakkan emosinya, bebas. Ada kebutuhan itu (untuk berubah) karena saya sudah punya kehidupan lain. Saya sudah pakai (kesadaran untuk berubah) ketika dari Solo dikirim ke New York tinggal setahun lebih di sana, sendirian jalan di kota besar. Ritme hidup itu berbeda lho. Jadi di badan saya yang masih anak mudah 19 hampir 20 tahun (saat itu) sudah beda. Badan saya sudah lain, sekitar saya berubah. Jadi saya membutuhkan suatu cara-cara lain menyatakan perasaan. Jadi perubahannya bukan karena ingin merusak-rusak itu, tetapi karena memang hidup saya berubah.

Saya bikin lakon Sugriwo-Subali, gerakannya itu bebas, enak. Terus berkembang, Ramayana yang saya tafsirkan dengan cara saya sendiri. Saat pementasan di Solo saya dimusuhi orang, katanya merusak tradisi. Hanoman kok kayak begitu, jadi pentas itu dilempari telur busuk. Penarinya belepotan telur, wah baunya sialan.

Jadi sebenarnya mereka yang susah. Karena setelah selesai itu saya diminta (menyuguhkan) pementasan tari Jawa yang halus (klasik), saya juga masih bisa.

Setelah kejadian itu, bagaimana Anda menjelaskan kepada orang-orang yang tidak sepaham?

Saya waktu itu tidak bisa menjelaskan kepada mereka. Tapi banyak tokoh budayawan yang membela saya. Pada waktu itu di pusat kesenian Jawa Tengah ada seorang tokoh, Gendon Humardani (alm) yang punya pengalaman banyak dan paham. Dia yang bela saya dengan argumentasi karena dia kan ahli kebudayaan dan ahli tari. Dia yang berani mementaskan saya, yang lain tidak ada yang berani.

Ketika Anda membuat tarian Jawa dengan baju yang berbeda, bagaimana dengan kepuasannya?

Lho itu bukan tarian Jawa lagi. Unsur-unsurnya (memang) yang ada di Jawa, misalnya tema, lakonnya, suaranya. Saya (sendiri) sudah kerja dengan cara lain. Nah, naluri penarian Jawa saya selalu muncul. (Namun) saya sendiri tidak mengatakan ini tari Jawa, bukan.

Kalau dalam tari-tarian keraton kan ada gerakan-gerakan tertentu. Kalau Anda sendiri, pemaknaan pakem itu bagaimana?

Kalau saya bukan pakemnya yang penting, tapi manusianya. Jadi saya itu selalu kalau bikin karya itu memahami setiap penarinya, latar belakangnya, dan selalu saya latih itu untuk mengungkapkan apa yang unik pada dia, dirinya sendiri. Pengalaman hidup dia sendiri, itu bebas. Akhirnya dia menciptakan geraknya sendiri. Polanya bukan saya ambil dari mana-mana tetapi yang diciptakan oleh penari-penari tersebut. Tentu saja sering saya memiliki bingkai, tetapi penafsiran dari setiap penarinya itu buat saya penting. Itu membikin baru terus.

Ketika menciptakan karya, semata-mata hanya ingin memuaskan hasrat berkesenian atau ada pesan yang ingin disampaikan?

Sebenarnya kompleksitasnya banyak. Hasrat berkesenian itu sebuah intuisi yang menyeluruh dari kebutuhan atas banyak hal dan kesadaran yang ada di luar dan di dalam. Bila kita menulis kan juga otomatis begitu. Sekarang Anda kan tidak (selalu) dengerin saya, tapi dengerin diri sendiri juga. Obyeknya saya, tapi sebenarnya rekamannya lain-lain karena sebenarnya Anda menulis tentang diri sendiri juga. Sebenarnya memahami seni itu begitu. Jadi seniman itu sebenarnya sama saja dengan lainnya. Menuliskan pengalaman di luar yang diserap. Tapi ketika menyerap, saya membuka referensi. Seperti kalau saya ngomong Yogyakarta, Anda langsung terpancing tentang Malioboro, Keraton, dan seterusnya.

Selama tinggal di Bali kan seniman di sana dalam berkesenian sangat konvensional dan memegang pakem dalam melestarikan tradisi. Apa Anda  tidak berbenturan dengan mereka?

Anda bilang Bali itu pakem, sebenarnya tidak. Dan orang Bali sendiri, pemikir-pemikirnya, juga menyadari tidak. Seringkali karena kebutuhan pariwisata, itu semua dilegalisasi. Menjual legong, semua legongnya disamakan. Padahal, Anda tahu gamelan Bali yang keras itu kan sepertinya ratusan, bahkan ribuan tahun. Padahal itu baru dibikin 1930. Sebelumnya gamelan itu bentuknya tidak seperti itu, tapi lebih soft.

Nah, kenapa tradisinya hidup terus? Karena berubah, rela untuk berubah. Dan perubahannya tetap bagus, tetap berkesinambungan. Jadi sebenarnya Bali itu tidak tradisionalis, tapi kreasionis. Cuma sekarang saja pada mengeluh karena terlalu standar pariwisata. Baru mulai itu tahun 1980, bahwa legong harus begini supaya kalau dijual itu sama dianggap sebagai produk. Nah itu pemerintah. Kalau senimannya sebenarnya nggak akan seperti itu.

Tahun 2000 Anda menampilkan karya No Body Bodys. Nah sekarang ini apa yang sedang Anda kerjakan?

Banyak hal. Sekarang saya sedang membikin film tentang Raden Saleh. Saya juga membantu kerja sama dengan orang Dayak untuk Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) karena saya juga senang dengan orang Dayak. Film yang saya bikin itu film tari, banyak unsur tari yang saya bikin koreografi.

Kemarin Anda tampil di UNFCCC. Kritik apa yang ingin Anda sampaikan dalam tari tersebut?

Saya sering mementaskan tari dengan tema alam. Tahun 1979 saya bikin Meta Ekologi. Untuk pertama kali kata ekologi itu saya pakai untuk tema. Mulai (saat) itu saya berbicara mengenai alam. Alam itu bukan fenomena di luar kebudayaan. Justru kebudayaan tradisi kita itu lahir dari kesadaran tentang itu. Termasuk teknologinya, teknologi sawah.

Tari-tarian Dayak itu lahir dari hubungan manusia dengan alam. Kenapa orang Dayak itu, ideal keindahannya itu alisnya dihilangin, dicabut, termasuk bulu matanya juga? Ternyata ketika saya 10 hari jalan-jalan di hutan, saya tidak pernah lihat matahari. Dan kalau ada rumah yang panjang itu, gelap sekali. Jadi alis mata dan bulu mata itu malah membikin sulit. Jadi ini proses adaptasi juga.

Pada saat konferensi lingkungan saya juga bikin Hutan Plastik. Ketika itu (itu respons saya), sampai sekarang sudah terasa dampaknya, Jakarta itu sudah jadi hutan plastik. Dari dulu saya selalu merespons peristiwa alam.

Budaya pop banyak digemari. Pandangan Anda, sebenarnya budaya itu mempunyai roh atau tidak? 

Ya rohnya yang populer itu. Jadi yang punya roh itu bukan yang mistik, yang kuno, yang klasik. Semua punya roh. Nyatanya yang dianggap adiluhung itu malah mati.

Katanya yang adiluhung hebat itu dari Jawa. Tapi kalau saya ke Solo mau nonton bedoyo tidak ada. Nanti setahun sekali di keraton. Nah, di keraton yang boleh nonton cuma berapa orang. Jadi itu hanya hidup di dalam angan-angan. Ketika kita ngomong tentang budaya itu seringkali disebut Indonesia itu kaya, tetapi kalau Anda lihat faktanya tidak ada.

Maksudnya selalu ingin yang baru terus?

Nyatanya itu. Orang Jawa itu tidak ada yang ingin pakai batik lagi tiap hari. Atau pakai sarung atau jarik lagi. Sudah berubah semua. Kalau Anda ke India atau Myanmar masih pakai kain dan sarung terus.

Bagaimana Anda melihat kondisi Indonesia saat ini?

Indonesia itu merupakan sesuatu yang kita ciptakan secara terus-menerus, ditafsirkan secara terus-menerus. Bentuk objektifnya itu apa? Mungkin kalau orang hukum, objektifnya UUD. Kalau ditanyakan ke saya, saya tidak pernah tahu itu. Tapi bahwa saya menciptakan, berkarya, hidup, realitasnya saya ada di bumi (Indonesia) ini lebih lama dari saya ada di mana pun. Dalam (hal) Indonesia, itu makin jelas sekali kalau itu proses penciptaan. Jadi Indonesia itu banyak. Indonesia kamu, kamu, kamu, kamu, saya. Indonesia itu lain-lain. 

Bagaimana dukungan pemerintah terhadap kebudayaan?

Saya itu tidak menginginkan pemerintah itu terlalu mengurus masalah kebudayaan. Itu nanti malah jadi masalah. Yang penting jangan ngarang-ngarang. Dan sekarang sudah mulai bagus. Dulu itu bayangkan, zaman Orde Baru, kalau mau pentas harus minta izin.

Kalau sekarang itu muncul tudingan bahwa seniman itu sulit bertahan hidup, bagaimana menurut Anda?

Berdasarkan survei, sekarang ini ibu-ibu malah lebih banyak yang mengirim anak-anaknya ke bidang seni. Jadi artis, jadi desainer, fashion desainer, fotografer, arsitek. Artinya (apa pun) pengertian seni di penjabaran mereka buat saya tidak apa-apa. Intinya adalah penciptaan. Selama mereka masih mencipta, materinya apa pun dari mana pun (itu tidak apa-apa).

Kalau kita kan materinya dari India, Mahabarata dan Ramayana itu. Kan (dengan mencipta dari materi itu) kebudayaan Jawa tidak ditakutkan hilang, Jawa malah menjadi besar. Yang besar di Jawa, candi itu, dari India juga. Buddha itu juga dari India. Tapi karena dipahat orang Jawa, Buddha-nya jadi Buddha Jawa.
Terus not balok bukannya budaya Barat? Kalau tidak ada kebudayaan Barat, kita tidak punya lagu Indonesia Raya. Jadi yang penting itu penciptaannya, materinya bisa dari mana saja. Indonesia Raya itu materinya jelas dari Barat, ada biola, menciptakan lagu yang membangkitkan nasionalisme kita. Jadi nanti kalau anak muda, tidak apa dengan menggunakan band dia bisa menciptakan satu rasa yang memang kebutuhan mereka sendiri. Yang penting mencipta.

Intinya itu, bagaimana selalu mampu menciptakan ruang. Kita selalu mampu melihat peluang, untuk menciptakan ruang tempat kita mampu untuk menjadi diri kita sendiri. (*)