|
||||||||||||||||||
| Sebuah Kilas Balik |
| Thursday, 27 December 2007 | |
|
Dua belas bulan perjalanan Indonesia, dari tahun ke tahun,penuh dengan pasang surut.Pada setiap pasang surut tersebut muncul seorang tokoh yang berperan penting untuk mengendalikan alur, entah sebagai pengambil kebijakan, pemberi solusi, pendingin situasi ataupun inspirator. Koran SINDO mencoba menangkap siapa tokoh itu lewat ajang People of The Year (POTY). Diawali dari POTY 2005, SINDO menyelenggarakan ajang pemilihan tokoh terbaik.Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data survei telepon, SINDO berhasil menjaring 1.000 responden yang tersebar di 10 wilayah kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang,Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Bali, Balikpapan, dan Palembang). Hasilnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipilih sebagai POTY bidang politik, Kapolri Jenderal Pol Sutanto sebagai POTY bidang hukum, dan KH Abdullah Gymnastiar (AaGym) sebagai POTY bidang agama. SINDO kembali menggelar ajang yang sama tahun berikutnya. Kali ini dilakukan perubahan formasi dalam kategori bidang.Jika semula bidang yang ditetapkan adalah politik, agama dan hukum, pada 2006 sendi ekonomi dan budaya dimasukkan. Sementara kategori agama ditiadakan. Alasannya, pada 2006 persoalan agama tidak terlalu dominan. Sementara kategori budaya ditambahkan dengan landasan bangsa ini sedang berupaya keras dalam pembangunan karakter. Saat itu, SINDO mampu menjaring 2000 responden yang diambil secara acak di tujuh kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Makasar, Denpasar, dan Medan). Melalui pertanyaan terbuka yang dilemparkan kepada masyarakat, terpilihlah nama SBY sebagai POTY 2006 kategori politik, Kwik Kian Gie untuk kategori ekonomi, Emha Ainun Nadjib untuk kategori budaya, dan Sutanto dalam kategori hukum. Terpilihnya SBY dan Sutanto membuktikan bahwa peranan mereka masih diakui masyarakat luas. Berbagai kelemahan yang dimiliki SBY ternyata belum sanggup melunturkan karismanya di mata publik. Sepak terjangnya dalam percaturan politik Indonesia sangat jelas terlihat.Walaupun sering mendapat cibiran dengan banyaknya bencana alam yang terjadi sepanjang kepemimpinannya, SBY masih sanggup menarik simpati publik dengan sikap down to earth-nya. Terpilihnya Kwik Kian Gie sebagai tokoh ekonomi terpopuler menjadi kejutan tersendiri. Nama Kwik tenggelam pada pemerintahan SBY. Hanya saja publik telanjur mengenalnya sebagai sosok yang kritis dalam mengomentari kebijakan pemerintah. Bahkan, tokoh ekonomi yang eksis pada 2006 seperti Sri Mulyani, Aburizal Bakrie, Boediono sampai Jusuf Kalla tidak sanggup menggeser pamor Kwik sebagai ekonom yang prokepentingan rakyat kecil. Persis dengan SBY, Sutanto tetap menunjukkan komitmen dan konsistensi pada bidangnya. Pada 2005, Sutanto menargetkan pembalakan liar (illegal logging) bisa dihapus di bumi Indonesia. Acara sarasehannya yang dibawakan secara underground terbukti ampuh membawa nama Emha (Cak Nun) menarik perhatian publik. Grup musik bentukannya, Kiai Kanjeng, selalu memadukan seni dan agama secara harmonis. Pertunjukannya dari satu daerah ke daerah lain, bahkan luar negeri sekalipun, tak pernah sepi pengunjung. Hal itu tak aneh karena pesan moral yang dibawakannya selalu bertema pluralisme. Wajar saja jika kemudian masyarakat dari berbagai latar belakang pun sangat menghormati sosok sederhana ini. Untuk POTY 2007, proses pemilihan dibuat berbeda. Bila pada dua tahun sebelumnya SINDO menyediakan pertanyaan terbuka bagi respondennya,kali ini SINDO menyuguhkan sistem sebaliknya. Kalangan ahli dari empat bidang dipercaya untuk menentukan para nomine (calon unggulan yang masuk daftar nominasi) yang berkualitas, kompeten dalam bidangnya, dan sanggup memberikan inspirasi. Hasil keputusan kalangan ahli tersebut kemudian dilempar ke responden untuk menentukan urutan tokoh-tokoh yang dianggap layak menyandang gelar POTY 2007. (*) |