VALAS

Kurs

Beli

Jual

USD9105.009180.00 
SGD6676.80 6756.80 
AUD8683.85 8792.85 
JPY84.58 85.95 
25-Jul-2008 10.24 WIB


 
Dapatkan account e-mail gratis @sindotechno.net
Mas Don…
Thursday, 27 December 2007

Setiap orang belajar banyak dari setiap orang. Dan setiap orang bisa saja tak sadar telah memberi pelajaran kepada setiap orang.Saya pun belajar banyak dari Mas Don, panggilan seniman Sardono W Kusumo, penerima Bintang Budaya Parama Dharma Indonesia 2003, yang mungkin tanpa Mas Don sadari

Yang paling membekas adalah kisah ketika tokoh kelahiran Surakarta, 6 Maret 1945 ini belajar tari alusan,tarian halus, kepada RT Kusumo Kesowo, master tari Keraton Surakarta. Cukup lama dia digembleng pola gerak alusan oleh salah seorang tokoh sendratari kolosal Ramayana di Candi Prambanan ini.

Namun tahun 1961, ketika Pak Kusumo Kesowo bikin produksi yang melibatkan 250-an penari di halaman candi, Sardono tidak diminta menari alusan. Misalnya memerankan Rama maupun adiknya, Lesmana. Sardono yang sejak 2004 jadi guru besar di Institut Kesenian Jakarta ketika itu malah diminta menarikan tokoh Hanoman. Jelas meskipun sakti dan bijak, Hanoman tetaplah monyet. Gerakannya tak bisa mengalir lembut laksana ksatria Rama.

Gerakan kera kepercayaan Rama itu cenderung ”kasar”,lincah dan konyol. Mas Don sempat frustrasi menghadapi saat-saat menjelang pergelaran. Gerakan-gerakan dalam komik Tarzan akhirnya mengilhaminya untuk memoles gerak-gerak baku Hanoman. Jauh setelah pementasan, Mas Don baru dapat mengambil hikmah dari keputusan gurunya. Bahwa tak selamanya orang lebih kenal diri sendiri ketimbang orang lain mengenalnya. Mas Don menyangka bakatnya ada di tari alusan. Ternyata orang lainlah, yang kebetulan gurunya, yang justru dapat jernih melihat dan menemukan potensi Sardono sebenarnya. ***

Mungkin tokoh yang pernah mengenyam pendidikan SMA di Surabaya ini ndak tahu telah memberi pelajaran berarti buat saya. Sekarang saya kasih tahu via forum ini. Saya hampir selalu kasih bumbu cerita sampeyan itu setiap kali ngomong klise bahwa ”jangan pernah mengadili dirimu sendiri”. Ada teman yang sudah tinggi jabatannya lantas kena kasus korupsi. Saya bilang, introspeksi saja.Ndak usah terlalu menyudutkan diri sendiri. Sumber kesalahan pasti tak pernah berasal dari satu orang.Minta saja orang lain untuk jadi ”hakim”.

Lantas saya tambahkan bumbu riwayat sampeyan, Mas Don. Maksud saya, agar kita tak terlampau cuma bertumpu pada diri sendiri untuk menilai kita sendiri. Ada teman mau cerai. Saya juga bilang hal serupa, Mas. Saya tambahkan bumbu-bumbu tentang keputusan Pak Kusumo Kesowo dalam berbagai tafsir. Kalau ada yang kebetulan tak kenal sampeyan, karena sebesar apa pun sampeyan pasti kalah top dibanding Pak SBY,Tukul maupun Ungu,biasanya saya selintas bercerita bahwa sampeyan itu pakar tari yang membawa tarian tradisi Indonesia ke kancah internasional.

Bahwa sampeyan telah menggubah lebih dari 25-an karya-karya besar koreografi. Di antaranya Samgita Pancasona (1968), Sumantri Gugur dan Rama Bargawa (1971), Damarwulan dan Dongeng dari Dirah (1974), 10 Menit dari Borobudur (1987) serta masih yang lain-lain lagi seperti Opera Diponegoro, Kerudung Asap/Hutan Terbakar, Passage through the Gong sampai Urbanfest (2007).

Kepada teman-teman yang kira-kira agak asing terhadap dunia tari,biasanya saya bilang sampeyan itu sejawatnya banyak banget sampai di Negeri Paman Sam. Dan rata-rata bukan orang sembarangan. Bahwa sampeyan temenan ama Robert Redford dan lain-lain.Biasanya mereka baru manggut-manggut, ”Oooo,hebat….” Kepada temen-temen yang kayaknya nggak suka tradisi dan Hollywood, tapi suka gosip dan cerita konflik, biasanya saya bilang sampeyan itu pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada dan fakultas serupa Universitas Indonesia.

Di dua-duanya sampeyan ndak selesai. Sampeyan drop out sehingga memenuhi kriteria untuk menjadi orang-besar-pelopor yang biasanya memang orang-orang drop out. Bedanya ama orang-orang drop out lainnya, sampeyan sebagai penerima penghargaan Prince Claus Awards dari Kerajaan Belanda 1997 masih terhitung sebagai salah seorang ”raja” dalam kebudayaan Jawa.

”Raja” lain adalah Suprapto Suryodarmo yang punya buanyak banget murid ”tari-kebatinan” di Eropa dengan pusat Padepokan Lemah Putih di kawasan Solo.Dan menurut kabar burung serta gelagat yang saya lihat sendiri, sampeyan dan Mas Prapto nggak bisa nyambung. Untuk pembaca,saya kurang tertarik menyimak siapa yang lebih betul di antara keduanya.Saya lebih tertarik untuk bilang bahwa kedua tokoh ini berbeda.

Mas Prapto karya tarinya lebih buat meditasi sehingga kurang enak ditonton. Mas Don karya tarinya lebih untuk ditonton, terutama oleh orang-orang kota, karena kebetulan, meski tinggal di Solo, pergaulan Mas Don ada di kota-kota, dari para peragawati, Jay Subiyakto sampai para petinggi. ***

Selain ada kandungan kuat selera urban, nonton karya-karya Mas Don rasanya seperti menyaksikan pembacaan puisi cinta oleh Rendra. Rasanya mengandung tradisi, tapi kok modern. Rasanya biasa-biasa saja, tidak gegap gempita seperti sajak-sajak sosial Rendra maupun tidak gegap gempita seperti karya-karya tari Guruh Soekarno, tapi kok tetap mengandung daya pikat.

Dan bukan cuma di Jakarta. Saya pernah kebetulan jumpa Mas Don di Tokyo, lantas diajak nontonpementasannya di sebuah kuil. Orang-orang Jepang juga tertarik menontonnya. Mungkin karena ayah seorang anak, Hani, dan suami pengelola kesenian Mbak Amna ini sering jalan-jalan sehingga dia tahu selera berbagai orang. Mungkin juga karena orang yang menyangka penari alusan ini dipaksa oleh gurunya untuk mengenal diri sendiri lewat ”jalan-jalan” sebagai penari gagahan.

Dengan kerap melakukan ”jalanjalan” psikologis bukankah orang makin banyak bekalnya tatkala mudik ke jati diri yang disangkanya semula. Dalam kasus Sardono, penerima penghargaan Distinguished Artist Award dari International Society for the Performing Arts Foundation, Singapura 2003, jati diri yang disangkanya adalah penari alusan.

Sejujurnya, benang merah dari seluruh karya Sardono sampai karyanya yang terakhir adalah upaya dia untuk mudik atau setidaknya meninjau kembali tari alusan di dalam dirinya setelah mengembara ke tari gagahan dan kotakota ota dunia. (*)

Sujiwo Tejo
Dalang Edan