VALAS

Kurs

Beli

Jual

USD9475.00 9600.00 
SGD6488.65 6597.65 
AUD7172.95 7306.95 
JPY90.38 92.31 
06-Okt-2008 / 09:25 WIB

 
Dapatkan account e-mail gratis @sindotechno.net
Keberimbangan Unsur Budaya dan Prestasi
Thursday, 27 December 2007

Saya menyambut baik adanya pemilihan People of The Year 2007 versi koran SINDO. Artinya,koran SINDO berusaha menangkap fenomena di masyarakat terkait penilaian mereka terhadap tokoh menonjol yang bisa mereka anuti.

Secara tidak langsung, People of the Year merupakan sarana memberikan penghargaan masyarakat karena memberikan peluang mereka untuk berpartisipasi memberikan pilihan. Dan bagi tokoh yang terpilih, tentu ini pun juga berarti suatu penghargaan terhormat. Perlu diingat, media memang mempunyai peran besar sekali dalam penokohan seseorang.

Dia bisa membentuk orang biasa menjadi besar. Bahkan, kadang orang yang tidak tepat pun bisa menjadi tersohor karena media. Dengan jangkauan yang begitu luas di berbagai elemen masyarakat, media menjadi sarana efektif untuk membentuk opini. Di sinilah kemudian perlu diperhatikan tentang metode pemilihannya. Ini penting agar hasilnya bisa menjadi representasi masyarakat.

Namun, tentu untuk bisa mendapatkan hasil yang benar-benar bisa merepresentasikan kehendak masyarakat tidak bisa dilakukan walau beberapa metode-metode statistik bisa digunakan. Adanya beberapa keterbatasan untuk memilih People of the Year ini, bagaimanapun, tetap bagus juga.Masyarakat tentu akan mereaksi hasil pemilihannya j i k a ternyata tidak sesuai keinginan mereka, dan dinamika perdebatan seperti ini tentu lebih menarik daripada hasilnya semata—bahwa kenapa seseorang dianggap pantas atau tidak pantas mendapatkan predikat itu.

Yang penting, bagaimana pemilihan seperti ini menimbulkan tanya jawab atau reaksi dan antiaksi yang dapat memicu kesadaran masyarakat bahwa mereka membutuhkan tokoh-tokoh. Bagi penerima, predikat People of The Year secara tidak langsung juga memberikan efek.Dengan predikat itu,terasa melekat sebuah tanggung jawab moral yang membuat dia makin bersemangat untuk menjadi anutan masyarakat.

”Achievement” versus Atributif

Seperti kita ketahui, unsur nilai-nilai budaya tradisional dan primordial lebih banyak mempengaruhi masyarakat dalam memberikan pandangannya terhadap sosok tertentu. Masyarakat akan lebih mudah memilih tokoh yang memiliki kedekatan atau kesamaan agama, budaya, tradisi, etnis, dan ras.

Sementara kecenderungan nilai-nilai komunal ini lalu mengabaikan unsur yang jauh lebih penting: performa atau prestasi seseorang. Unsur-unsur budaya ini memang tak mudah dihilangkan. Di Amerika Serikat saja, faktor kedekatan emosi tidak bisa dihindari dalam suatu proses pemilihan tokoh pemimpin. Hal yang sama juga terjadi di Australia.

Meski demikian, dalam era transisi demokrasi ini, kita harus mulai berani mencoba supaya faktor-faktor budaya atributif seperti itu perannya makin sedikit— karena untuk dihilangkan mungkin tidak bisa—dalam proses pemilihan tokoh-tokoh pemimpin. Di sini,media— termasuk koran SINDO lewat People of The Year 2007—harus membuat masyarakat mampu untuk lebih menilai orang atau pemimpinnya berdasarkan achievement, bukan berdasarkan kedekatan emosionalnya semata.

Dalam perspektif saya, pemimpin ideal bisa jadi adalah sosok yang bisa melakukan sesuatu secara nyata (performance oriented) dan tidak mengumbar janji-janji saja.Lebih lanjut,tidak cukup bagi seorang pemimpin untuk merasa dirinya sukses hanya karena berhasil mendekati sisi emosi pemilihnya,sementara prestasi kepemimpinannya kurang atau nol.Jadi yang ideal,keduanya—baik dari sisi budaya dan juga achievement— bisa dipenuhi secara proporsional.

Untuk mengimbangi pengaruh budaya, tentu di sini diperlukan parameter guna mengukur prestasi seorang figur. Perlu disadarkan, mereka yang akan atau sudah menjadi tokoh publik, mau tidak mau semua kehidupannya harus bisa disorot, termasuk kehidupan pribadinya. Di sinilah mentalitas kepemimpinan seseorang juga terlihat,mulai kekonsistenan, kejujuran, wawasan, hingga integritas.

Pemimpin Muda

Di era sekarang boleh dikatakan pemimpin- pemimpin muda kurang begitu muncul.Yang terlihat, justru dominasi wajah-wajah lama. Saya menilai faktor ini tak lepas dari kenyataan bahwa bangsa kita masih kolektif. Misalnya jika ada pemimpin muda yang cemerlang, tetapi tidak mendapat akses untuk masuk dalam kelompok kolektif itu, dia akan sulit muncul ke permukaan.

Di sini peran media (sekali lagi) bisa penting untuk memberi sorotan lebih atas sepak terjang tokoh-tokoh muda, diberi publisitas yang baik.Simpati yang banyak dari masyarakat tentu akan bisa memberi sang tokoh muda ini kesempatan untuk lebih terangkat ke permukaan. Dan jika dia seorang kader dari satu partai tertentu, bisa jadi partai yang bersangkutan pun terpaksa mencalonkannya. (*) Disarikan dari wawancara eksklusif SINDO pada 21 Desember 2007

Prof Arief Budiman
Guru Besar Studi Indonesia Asian Institute, University of Melbourne