|
||||||||||||||||||
| Sipir Diskriminatif, LP Kerobokan Dibakar |
|
|
| Thursday, 23 February 2012 | |
Beberapa polisi bersiaga di sekitar Lapas Kerobokan setelah terjadi kerusuhan Rabu (22/2) dinihari. DENPASAR– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan Bali dibakar ratusan narapidana (napi) hingga menimbulkan kerusuhan hebat sepanjang Selasa (21/2) malam hingga Rabu (22/2) pagi kemarin. Akibatnya, semua ruang perkantoran, dokumen, termasuk uang kas sebesar Rp100 juta, ludes terbakar. Begitu pun gudang persenjataan lapas yang berisi 30 pucuk senjata dan amunisinya. Beruntung, tidak ada napi yang menjadi korban. Hanya tiga orang napi dilaporkan mengalami luka tertembak aparat, sedangkan 1 polisi terkena lemparan batu saat meredam amarah napi. ”Seluruh bangunan sel juga rusak berat dirusak para napi,tapi tidak sampai terbakar.Tidak ada napi kabur,” ujar Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sihabudin kepada wartawan di Denpasar kemarin. Kerusuhan terbesar sepanjang sejarah lapas yang dihuni 1.015 napi,33 di antaranya WNA, merupakan buntut dari insiden keributan yang terjadi Minggu (19/2). Saat itu, tiga napi bernama Eko Mardianto, Dwi Wijayanto, dan Bashori menusuk seorang napi bernama Made Eriyasa.Namun kejadian tersebut tidak mendapat respons serius dari sipir. Markas Besar Polri menilai kerusuhan tersebut merupakan titik kulminasi dari para napi yang merasa tidak diperlakukan adil. “Ini yang dituntut para napi supaya pembinaan terhadap napi tidak dibedabedakan,” ungkap Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution di Mabes Polri Jakarta kemarin. Dari dokumen kronologi yang diperoleh, kerusuhan itu berawal Selasa malam sekitar pukul 22.30 Wita saat Eriyasa dan tiga napi lain menanyakan kepada seorang sipir Lapas soal pisau yang dipakai untuk menusuk dirinya.Namun karena tidak memperoleh jawaban memuaskan, mereka lantas mengeroyok sipir itu. Insiden tersebut kemudian menyulut aksi kerusuhan. Ratusan napi pun mulai merusak pintu sel,pintu portir,dan kemudian melempari sejumlah ruangan dengan batu,terutama ruang kepala lapas dan perkantoran. Kepala Lapas Bowo Nariwono saat itu berada di luar Bali. Kerusuhan pun meluas, para napi mulai membakar seluruh ruang perkantoran lapas.”Malamituyangbertugas 1 regu jaga sebanyak 20 orang dan harus menghadapi 1.015 napi, tentu jauh sekali. Tidak mungkin mereka bisa menahan,” ujar Kepala Pengamanan Lapas Anang Khuzaini. Sekitar 800 personel kepolisian dibantu satu kompi TNI Kodam IX Udayana yang diturunkan ke lokasi segera mengepung seluruh penjuru lapas lengkap dengan mobil water cannon.Seluruh akses jalan ke lapas juga ditutup. Namun kedatangan mereka justru disambut dengan lemparan batu dari dalam lapas. Kapolda Bali Irjen Pol Totoy Herawan Indra yang turun memimpin langsung pasukannya gagal bernegosiasi. Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga ikut datang ke lokasi dini hari itu untuk memantau situasi keamanan dan operasi penertiban. Kerusuhan selama delapan jam dapat dikendalikan Rabu pagi sekitar 07.00 Wita setelah polisi dan TNI memanjat tembok lapas setinggi 7 meter dan lalu melakukan aksi penembakan ke dalam lapas selama hampir 30 menit. miftachul chusna/ krisiandi sacawisastra |