|
||||||||||||||||||
| Perbaikan Terhambat Tender |
|
|
| Saturday, 11 February 2012 | |
![]() Warga melewati mesin pemindai kartu Commet di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, kemarin. Sistem kartu Commet belum bisa diberlakukan karena mesin pemindai banyak yang rusak. JAKARTA – Perbaikan mesin pemindai kartu commuter electronic ticketing (Commet) terkendala proses tender. Kemungkinan besar perbaikan baru dimulai bulan depan, sementara kartu Commet ditargetkan efektif bulan April. Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Bambang Wibiyanto mengatakan, saat ini proses perbaikan masih dalam tahap tender. Menurut dia, tender dilakukan dalam pengadaan alat portable reader entry sekaligus dengan sistem teknologinya. Namun, untuk biaya yang dialokasikan,Bambang mengaku belum mengetahui. ”Soal anggaran nanti setelah proses tender tuntas,” kata Bambang kemarin. Pihaknya berjanji proses tender dimulai bulan ini, sehingga perbaikannya bisa dilakukan Maret. Dalam surat tender, pihak penyedia barang harus bisa melakukan perbaikan dalam jangka waktu 40 hari kerja. ”Setelah ada pemenang tender,baru bisa dijelaskan berapa biaya untuk perbaikan perangkat penunjang Commet,” jelasnya. Nantinya sebanyak 105 portable reader entry akan dipasang di 35 stasiun. Namun, tahap awal akan dilakukan pada 18 stasiun dengan 34 perangkat. Seperti diberitakan, penerapan kartu Commet sebagai alat pembayaran kereta rel listrik (KRL) Commuter Line terkendala. Mesin pemindai yang terpasang di stasiun sejak dua tahun lalu, ternyata tidak berfungsi. PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) harus terlebih dahulu memperbaiki mesin pemindai tersebut. Rusaknya alat pemindai tersebut diprotes pengguna KRL. Erik Wardana Irawan, 29, seorang pengguna KRL Commuter Line, mengatakan saat dirinya akan melakukan tapping di Stasiun Palmerah, ternyata tidak berhasil. Saat itu,di layar mesin pemindai tertulis ”kartu anda bermasalah silakan hubungi petugas”. Setelah ditanyakan kepada petugas, ternyata mesinnya sudah rusak. Erik menambahkan, dirinya sampai saat ini belum mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan. ”Saya berharap dengan adanya Commet ini bisa lebih mempermudah dan mempercepat proses pembayaran,” tuturnya kemarin. Bahkan, KRL mania menulis surat kepada Direktur Utama PT KCJ pada Rabu (8/2).Surat tersebut ditembuskan kepada Presiden RI,Wakil Presiden RI, Menteri BUMN,Menteri Perhubungan, Direktur Jenderal Perkeretaapian, Direktur Utama PT KAI,Kepala UKP4, Komisi V DPR RI, dan masyarakat serta media. Dalam suratnya tersebut, mereka menyoroti ketidaksiapan penerapan kartu Commet. Ada tiga persoalan utama yang dikeluhkan,yakni minimnya informasi terhadap penumpang. Bahkan, petugas memberikan informasi yang berbeda-beda.Kemudian, ketidaksiapan sumber daya manusia (SDM).Mereka tidak bisa memberikan penjelasan yang memadai dari segi teknis ketika ditanya soal pemakaian maupun masalah yang ditemui, misalnya detail aturan tarif,cara isi ulang,cara refund, dan prosedur penyelesaian kasus kesalahan transaksi (dispute transaction). Terakhir mengenai kerusakan alat pemindai di stasiun, serta lamanya waktu identifikasi kartu. Juru bicara KRL Mania Agam Fatchurrahman pesimistis perbaikan alat pemindai bisa tepat waktu,sebab saat ini belum terlihat ada upaya perbaikan. Tak hanya itu, Agam juga meragukan efektivitas penggunaan kartu Commet. ”Persiapan tidak matang, informasi kurang maksimal, banyak pengguna kereta yang belum tahu.Akibatnya, antrean masih akan terjadi,” kata Agam kemarin. Pihaknya menilai, setiap penerapan sistem baru KRL tidak dibarengi dengan persiapan yang matang, misalnya saat penghapusan KRL ekspres dan ekonomi AC diganti dengan commuter line, jadwal kacau. Bahkan, sejumlah penumpang mengamuk karena tidak terlayani perjalanan. Begitu pun dengan sistem loop line yang mulai diberlakukan akhir tahun lalu, tak dibarengi dengan persiapan memadai. ”Di sejumlah stasiun transit terdapat penumpukan penumpang,akibat jadwal kedatangan kereta sangat lama,”ujarnya. Dirinya berharap PT KCJ bisa lebih melihat bahwa pengguna adalah bagian dari kereta api itu.”Jangan karena banyak peminatnya,maka pembuatan kebijakannya terkesan hanya sepihak,”tuturnya. Agam menjelaskan bahwa kelemahan KCJ adalah kurang profesionalnya aspek manajemen. Sering kali PT KCJ mengambil keputusan tanpa dasar yang kuat. Akibatnya, pelaksanaan di lapangan terlihat tidak profesional. Seharusnya PT KCJ bisa benar-benar melayani para pengguna.”Percuma jika memiliki ide kreatif namun tidak sesuai dengan keadaan lapangan, jadinya akan semrawut,”tuturnya. ridwansyah |