VALAS

Kurs

Jual

Beli

USD

9425.00

9125.00

SGD

7532.20

7263.20

AUD

9446.65

9109.65

JPY

118.37

113.45

14 Mei 2012 / 11:23 WIB
 
Republik Twitter - Dunia Maya versus Realita PDF Print
Saturday, 11 February 2012
Republik Twitter adalah film lokal pertama, dan bisa jadi di dunia, yang menceritakan fenomena jejaring sosial Twitter. Sayangnya, modal dasar yang apik ini kurang tergarap baik dan abai pada beberapa detail.


Bermula dari kisah cinta klise ala dunia maya.Lewat Twitter, Sukmo (Abimana Aryasetya), mahasiswa tingkat akhir di Yogyakarta, bisa berkenalan dan akrab dengan Hanum (Laura Basuki), wartawan cantik di Jakarta yang baru merintis karier. Saling tertarik, Hanum pun menantang Sukmo untuk datang ke Jakarta. Sukmo pun memenuhi tantangan itu dengan menumpang mobil Andre (Ben Kasyafani), teman kosnya yang asal Jakarta.

Namun,saat melihat Hanum di restoran, Sukmo langsung minder. Gadis itu lebih cantik dari fotonya di Twitter.Apalagi, dia melihat ada lelaki lain yang sedang bersama gadis pujaannya itu. Selagi patah hati itulah dia ditawari pekerjaan oleh Belo (Edy Oglek), orang yang lagilagi dikenalnya lewat Twitter.

Pekerjaannya membuat follower palsu untuk beberapa akun Twitter.Namun, ada juga pekerjaan besar lainnya yang datang dari konsultan komunikasi bernama Kemal (Tio Pakusadewo). Kemal ingin memanfaatkan nama Arif Cahyadi (Leroy Osman), yang dikabarkan berniat maju sebagai calon gubernur pada pilkada,untuk kepentingannya sendiri. Dengan bantuan Belo dan Sukmo,nama Arif Cahyadi pun menjadi trending topic di Twitter.

Pada satu titik, ada benang merah antara cerita cinta Sukmo-Hanum dan ambisi yang diusung Kemal. Sebuah konflik yang tak cuma mengguncang dunia Twitter, juga dunia nyata. Dengan bahan baku cerita seperti ini, sutradara Kuntz Agus (Agus Nugroho) dan penulis skenario E.S Ito harusnya bisa membuat Republik Twiiter sebagai film romansa era Twitter dengan bumbu politik yang lumayan kentara.

Namun, sedari awal keduanya seperti sudah salah langkah. Ini sudah bisa dilihat dari pembuka cerita yang kurang menarik, lamban, tapi malah tidak kena sasaran. Penonton tiba-tiba disajikan cerita bahwa Sukmo ingin ke Jakarta demi mengejar Hanum.Tidak ada prolog sedikitpun tentang bagaimana hubungan keduanya lewat Twitter. Jadi, agak sulit untuk mengikuti euforia seperti yang dialami Sukmo. Sampai di Jakarta, lagi-lagi ada keanehan.

Mengapa Andre yang tidak punya akun Twitter, yang membuat penonton jadi berpikir bahwa Andre adalah sosok yang hidup di “dunia nyata” bukan di “dunia menunduk”( karena selalu melihat ke ponsel), ternyata pacaran dengan Nadya (Enzy Storia), anak SMA yang tak bisa lepas dari ponsel dan Twitter-nya. Pertanyaan ini memang akhirnya terjawab setelah pertengahan film.

Namun, jawaban ini terasa terlambat karena sudah banyak kisah yang terlewati. Sosok Kemal dan Arif Cahyadi juga tidak diperkenalkan dengan baik kepada penonton. Sosok Kemal, bahkan seperti diplot untuk menjadi antagonis sepenuhnya, tanpa dijelaskan latar belakangnya. Belum lagi saat heboh artikel yang ditulis Hanum, menjadi aneh saat Sukmo dkk mengetahuinya dari majalah.

Padahal, sebagai aktivis Twitter, seharusnya mereka sudah tahu karena artikel tersebut sudah heboh di jejaring sosial itu. Ini hanya beberapa contoh dari cacat atau detail yang terlewatkan Agus dan Ito. Sebenarnya, di pertengahan cerita keduanya sudah berhasil menguasai cerita dan lebih rileks dalam melontarkan lelucon.

Beberapa dialog bahkan memorable. Hanya saja, untuk masuk menjadi sebuah film yang emosional dan membuat penonton bersimpati terhadap karakternya, jadi sulit terwujudkan. Pada akhirnya, Republik Twitter hanya berakhir sebagai film remaja tentang fenomena Twitter dan kehidupan di dalamnya. Tak lebih dari itu. ● herita endriana