VALAS

Kurs

Jual

Beli

USD

9425.00

9125.00

SGD

7532.20

7263.20

AUD

9446.65

9109.65

JPY

118.37

113.45

14 Mei 2012 / 11:23 WIB
 
Perayaan Imlek- Indonesia Ruang Besar Tanpa Diskriminasi PDF Print
Saturday, 04 February 2012
ImageJAKARTA – Presiden Susilo  Bambang Yudhoyono (SBY)  menegaskan saat ini bangsa  Indonesia telah memberi  ruang besar bagi masyarakat  Tionghoa tanpa ada diskriminasi.  


Hal ini ditunjukkan dengan  semaraknya atraksi barongsai,  temaram beraneka  lampion, dan beragam asesori  budaya etnis Tionghoa yang  menghiasi perayaan Imlek di  berbagai daerah.  ”Perayaan Tahun Baru Imlek  bukan hanya milik umat  Konghucu dan masyarakat  Tionghoa, melainkan telah  menjadi pesta rakyat di seluruh  pelosok Tanah Air.Ini menunjukkan  bahwa bangsa kita  benar-benar menjunjung tinggi  nilai-nilai kebersamaan, meneguhkan  semangat Bhineka  Tunggal Ika,”ungkap Presiden  SBY dalam sambutannya pada  perayaan Tahun Baru Imlek  2563 Tingkat Nasional di Jakarta  Convention Center (JCC)  kemarin.  

Menurutnya, kenyataan ini  patut disyukuri. Selain merupakan  pengakuan, penghargaan,  dan penghormatan  kepada etnis Tionghoa serta  umat Konghucu, hal ini juga  menjadi bagian terpadu dari  bangsa yang majemuk. Kenyataan  ini bahkan menunjukkan  semakin kokohnya kebersamaan  masyarakat Indonesia  sebagai bangsa yang multikultural.  Kebersamaan antara etnis  Tionghoa dan berbagai etnis  lainnya di seluruh Tanah Air,  lanjut Presiden, telah menjadi  kesadaran bersama untuk  saling menghormati dan menerima  perbedaan yang ada.  ”Melalui perayaan Tahun Baru  Imlek, persaudaraan kita sebagai  sebuah bangsa harus  makin kuat dan makin kokoh,”  katanya.  

Saat menghadiri perayaan  Imlek Nasional, Presiden SBY  didampingi Ibu Negara Ani  Yudhoyono,Wapres Boediono,  dan Ibu Herawati Boediono.Beberapa  menteri Kabinet Indonesia  Bersatu II turut hadir  antara lain Menpora Andi  Mallarangeng, Menkumham  Amir Syamsuddin,dan Kapolri  Jenderal Pol Timur Pradopo.  Pada perayaan Imlek kali  ini Majelis Tinggi Agama Konghucu  Indonesia (Matakin)  mengangkat tema ”Insan Beriman  dan Luhur Budi, Hidup  Rukun meski Berbeda”.Tema  ini,menurut Presiden,sungguh  tepat untuk meningkatkan  kembali pentingnya hidup  rukun dan bersatu.  

Di hadapan ribuan umat  Konghucu, Presiden menegaskan  perbedaan bukanlah kendala  untuk hidup rukun dan  bukan untuk dipertentangkan.  Perbedaan akan selalu ada di  dalam realitas kehidupan.  Pemerintah dengan peran  dan tugas yang diembannya  akan terus berupaya mengayomi,  melindungi, dan memberikan  kesetaraan kepada  segenap warga bangsa tanpa  kecuali.”Persaudaraan kita sebagai  sebuah bangsa tidak boleh  terganggu dan tidak boleh  terpisahkan oleh perbedaan  etnis dan perbedaan agama  yang kita yakini,”katanya.  

Ketua Matakin Wawan  Suratna mengingatkan bahwa  sebagai bangsa yang majemuk,  Indonesia memiliki ras, suku,  etnik, agama, dan status sosial  yang amat beragam. Namun,  hal itu bukan alasan untuk  hidup tak menjadi rukun.  ”Bangsa yang beriman harus  bisa meninggalkan semua perilaku  yang tak pantas sehingga  bangsa kita senantiasa  menjadi yang lebih baik dan  maju. Mari kita jadikan perbedaan  yang ada sebagai kekuatan  dan bukan sebagai bibit  perpecahan,”ungkapnya.  rarasati syarief