VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9150.008900.00
SGD7214.207199.20
AUD9772.209469.20
JPY115.12110.85
22-Feb-2012 / 11:45 WIB

 
PAN-Demokrat Koalisi Ideal PDF Print
Saturday, 28 January 2012
JAKARTA– Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) sangat mungkin telah merancang bersama agenda pemenangan pemilu legislatif, termasuk mempersiapkan paket koalisi di Pilpres 2014.

Pengamat politik Sukardi Rinakit mengatakan, dengan mencermati dinamika politik yang terjadi sejak Pemilu 2009 hingga kini,“koalisi dua biru” antara Partai Demokrat dan PAN itu bisa disebut sebagai sebuah keniscayaan. Terlebih, saat ini telah terjalin hubungan kekerabatan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat dan Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa.

Menurut Sukardi, bangunan koalisi ke depan hampir pasti dimotori Demokrat dan PAN. Parpol-parpol lain akan dengan mudah bergabung mengingat potensi suara dan kombinasi kekuatan Demokrat dan PAN. Dalam konteks pilpres, lanjut dia, Hatta Rajasa menjadi pilihan paling rasional dan representatif baik dari sisi politik maupun elektoral.Adapun dari sisi Demokrat, figur yang paling berpeluang didukung SBY adalah Menko Polhukam Djoko Suyanto.

“Hatta-Djoko paling masuk akal. Hatta akan didukung penuh untuk maju sebagai bakal calon presiden (capres) oleh Demokrat jika suara PAN signifikan,” katanya di Jakarta kemarin. Peneliti senior dari Soegeng Saryadi Sindicate (SSS) itu mengakui, secara teoretis, kepemimpinan nasional ke depan ditentukan oleh tiga partai besar, yakni Demokrat, Partai Golkar, dan PDIP. Demokrat akan mati-matian untuk mampu mencapai jumlah suara tertinggi atau posisi pertama di pemilu legislatif.

Mekanisme internal Demokrat bisa mengarahkan dukungan ke Hatta bila PAN berhasil meraih suara signifikan di antara parpol-parpol menengah atau setidaknya masuk empat besar.Target inilah yang sedang bersama dikejar oleh Demokrat dan PAN agar bisa mewujudkan koalisi biru di 2014. Pasangan capres-cawapres dari Demokrat-PAN dan koalisi yang akan dibentuk nantinya akan bertarung dengan dua kekuatan lain, yakni dari Golkar dan PDIP.

Sukardi memandang Golkar kemungkinan tetap akan mengusung ketua umumnya, Aburizal Bakrie atau Ical, sebagai capres karena sudah didukung secara bulat oleh semua daerah.Figur cawapres pendampingnya akan menentukan peluang memenangi Pilpres 2014 nanti. “Sementara capres dari PDIP tidak akan jauh dari figur yang nantinya disepakati bersama dengan Partai Gerindra. Prabowo Subianto sudah dikampanyekan sebagai capres, maka PDIP kemungkinan tinggal menyiapkan cawapres.Paling kuat ya Puan Maharani,” tandas Sukardi.

Sementara itu,Wakil Ketua Umum DPP PAN Dradjad H Wibowo mengakui bahwa partainya dan Demokrat memang memiliki kesepahaman dan tujuan bersama untuk 2014. Apalagi,kata dia,peluang pencapresan Hatta semakin besar. “Ini sesuai dengan hasil survei. Apalagi PAN punya kans kuat untuk double digit. Memang harus kerja keras. Tapi kita sudah menggarap berbagai dapil (daerah pemilihan) yang potensial untuk PAN,”katanya.

Soal dukungan terhadap Hatta sebagai capres,lanjut Dradjad, sikapPANsangatjelas,yakni menggantungkan pada kerja keras, tidak tergantung pada partai lain,termasuk Partai Demokrat.“ Tapi kalau partai lain ikut mencapreskan Bang Hatta, tentu kita senang,”ujarnya. Mengenai pasangan cawapres, Dradjad mengatakan bahwa hingga saat ini yang paling potensial memang Djoko Suyanto. “Jadi sekarang PAN berjuang untuk double digit sambil terus menyosialisasikan Bang Hatta sebagai capres,” tegasnya.

Sekjen DPP PAN Taufik Kurniawan menambahkan,konsolidasi PAN yang terus dilakukan kader hingga ke desa mulai terlihat hasilnya. Elektabilitas PAN dan popularitas Hatta terus meningkat. Kinerja Hatta sebagai Menko Perekonomian yang efektif dan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat cukup mendongkrak kepercayaan masyarakat. “Kalau masyarakat melihat figur lain masih menawarkan ide dan gagasan,Bang Hatta itu sudah bekerja nyata, riil, dan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Itu yang membuat kita semakin optimistis dengan di 2014,”katanya. Di tempat terpisah,peneliti dari Lingkar Survey Indonesia (LSI) Kuskrido Ambardhi memandang ketokohan SBY masih terlalu dalam untuk disaingi figur lain dari parpol yang ada saat ini.Kondisi ini pun bisa menjadi modal keuntungan besar bagi figur dan tokoh lain yang menerima dukungan langsung dari SBY.

“Kita patut menunggu siapa figur yang bakal didaulat SBY melalui Partai Demokrat untuk meneruskan estafet kepemimpinan nasional. Apakah Hatta Rajasa, Anas Urbaningrum, atau lainnya. Pasti peluangnya sangat besar untuk menang,” kata Kuskrido. Dosen ilmu politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu menambahkan, kuatnya elektabilitas SBY tak lepas dari lemahnya tokoh alternatif yang dimunculkan parpol. rahmat sahid/ mohammad sahlan/ hendry sihaloho