|
||||||||||||||||||
| Caroline Wozniacki, Petenis Kurang Beruntung |
|
|
| Saturday, 28 January 2012 | |
|
MELBOURNE – Australia Terbuka 2012 menjadi akhir kekuasaan Caroline
Wozniacki. Petenis asal Denmark itu kehilangan predikat nomor satu dunia
setelah tersingkir lebih awal.
Perjalanan Wozniacki di Melbourne Park terhenti setelah tumbang 3-6,6-7 dari Kim Clijsters (Belgia) di babak perempat final. Kekalahan itu memastikannya turun dari puncak klasemen peringkat WTA.Paling menyedihkan,dia belum sempat menunjukkan kelayakannya sebagai petenis terbaik putri sejagat. “Orang berbicara seolah karier saya sudah berakhir.Usia saya masih muda.Jadi,saya masih punya banyak waktu untuk meningkatkan prestasi,”ujar Wozniacki,dikutip Reuters. Wozniacki mencuri perhatian pada awal Oktober 2010.Dia ditahbiskan sebagai ratu tenis setelah menjuarai China Open menggantikan Serena Williams.Dia digadanggadang akan menjadi bintang baru tenis putri. Maklum,saat itu dia masih berusia 20 tahun. Tapi,ekspektasi itu tidak terpenuhi. Setelah merebut predikat nomor satu,prestasi Wozniacki justru tidak ada peningkatan.Dia tidak pernah lagi memenangkan turnamen hingga pergantian tahun. Imbasnya,dia turun tingkat setelah berkuasa 18 pekan. Wozniacki tidak tinggal diam.Petenis kelahiran Odense itu mencoba bangkit.Itu dibuktikan dengan menjuarai Dubai Tennis Championships (2011) yang memungkinkannya kembali merebut predikat nomor satu.Kali ini prospeknya cukup menjanjikan. Wozniacki kerap membukukan hasil mengagumkan.Terbukti,lima gelar direbutnya sepanjang 2011.Alhasil, posisinya sebagai nomor satu tetap terjaga.Namun,catatan itu sedikit ternoda.Sebab,dari seluruh trofi tersebut,tidak ada yang berasal dari grand slam. Itu membuat statusnya sebagai nomor satu dunia dipertanyakan.Maklum,dia tidak bisa berbuat banyak di kancah grand slam. Torehan terbaiknya hanya melangkah ke semifinal. Dia berkesempatan memperbaikinya saat bertandang ke Negeri Kanguru musim ini. Sayang,dia cuma bertahan di perempat final. Wozniacki akhirnya harus rela masuk jajaran petenis yang belum pernah memenangkan grand slam ketika berstatus nomor satu dunia. Dia mengikuti Jelena Jankovic,Dinara Safina, dan Kim Clijsters,serta Amelie Mauresmo. Clijsters pertama kali merebut predikat nomor satu dunia pada 11 Agustus 2003 dan hanya bertahan 10 pekan.Selama periode itu, dia belum pernah memenangkan grand slam. Begitu juga ketika kembali berkuasa pada 27 Oktober.Sampai turun takhta pada 9 November, dia juga gagal menjuarai grand slam. Namun,Clijsters pada akhirnya mampu memenangkan grand slam,yakni saat AS Terbuka 2005 walau saat itu tidak berstatus nomor satu dunia. Selama kariernya,dia sukses mengumpulkan empat gelar grand slam. Hal serupa dialami Mauresmo.Ketika naik takhta pertama kali pada 13 September 2004 hingga 17 Oktober 2004,petenis asal Prancis itu belum pernah menjuarai grand slam.Tapi,pada akhirnya dia dapat berjaya saat memenangkan Australia Terbuka 2006,hasil yang membantunya kembali ke puncak pada 20 Maret 2006. Prestasi Clijsters dan Mauresmo jauh lebih baik ketimbang Wozniacki,Safinah,maupun Jankovic. Pasalnya, ketiganya belum pernah memenangkan grand slam sepanjang kariernya, baik saat masih berperingkat 1 dunia maupun setelah turun takhta. Jankovic,yang sempat dua kali bertengger di puncak atau total selama 18 pekan,belum pernah menjuarai grand slam. Nasib Safina setali tiga uang.Selama total 26 pekan memangku jabatannya,dia selalu gagal di turnamen paling bergengsi tersebut. ●m mirza |