|
||||||||||||||||||
| Wine Pairing |
|
|
| Tuesday, 24 January 2012 | |
|
Memadukan keju dengan wine memang sudah pakemnya. Termasuk memadukan
wine dengan steak ataupun main course lain. Lantas, bisakah memadankan
wine dengan makanan lokal? Wine and cheese is a good marriage,while beer is the mistress. Begitulah pernyataan yang dilontarkan maestro keju Neil Willman dalam kunjungannya ke Jakarta tahun lalu.Dikatakan Neil,hal yang perlu diperhatikan saat memadankaan wine dengan keju,jangan memilih keju berkarakter strong dengan segelas wineyang full body. “Sebab,karakter keduanya berbeda, perlu perpaduan yang harmonis,”kata Neil. Sebagai contoh keju cheddar,cocoknya dengan Chardonnay atau Semillon.Bisa juga dengan Cabernet Sauvignon.Di sisi lain,blue cheeseakan terasa pas disantap dengan Riesling atau Gewurztraminer. Pada dasarnya,ide menyerasikan winedengan keju ini semata-mata untuk keseimbangan rasa dan tekstur.“Kuncinya adalah bereksperimen sendiri untuk mencari pilihan winedan keju yang sesuai dengan selera,”kata Neil. Bukan hanya aturan dalam memadukan keju dengan wine,rupanya untuk menikmati berbagai jenis keju pun ada rambu- rambunya.Semakin “kuat”rasa atau karakter keju,maka sebaiknya Anda memilih wineyang lebih manis. Dengan begitu,karakter asli keju ataupun wineyang dipilih sama-sama bisa tetap terasa. Taruhlah di hadapan Anda ada camembert, cheddar,blue cheese,dan parmesan.Mana yang akan dinikmati dulu? Menurut Neil,jika ada beberapa pilihan keju di depan Anda,mulailah dengan keju yang berkarakter lebih lembut dahulu,kemudian meningkat ke keju yang lebih strong.Jadi, sebaiknya Anda memilih camembert,parmesan, cheddar, dan terakhir blue cheese. Ya,keju dan wine memang sudah pakemnya. Termasuk memadukan wine dengan steak ataupun main course lain.Pertanyaannya sekarang, bisakah memadankan winedengan makanan lokal? Bisa.Beberapa penikmat wine melakukan padu-padan makanan ini atau dikenal dengan wine pairing,sebagai pengalaman tersendiri. Burhanuddin Abe misalnya,mencoba menyandingkan masakan khas Padang seperti gulai kambing dengan jenis yang light seperti riestling. “Rasanya yang segar matchingdengan karakter gulai yang kaya bumbu,”kata penikmat wine itu.Dia bahkan berani mengatakan,semua makanan pada dasarnya bisa dipadankan dengan segelas wineselama makanan tersebut tidak terlalu strongkarakternya. Benang merahnya adalah daging merah disantap bersama red wine,sementara daging putih seperti ikan dan ayam dengan anggur putih. “Yang penting, antara makanan dan winerasanya tidak saling bertentangan,”kata Abe lagi. Sebaliknya,William Wongso malah berpendapat wine tidak diciptakan sebagai padanan masakan Asia,apalagi Indonesia.Bila masakan Indonesia dipadankan dengan winemahal,rasanya amat mubazir,kecuali mengejar gengsi. “Tapi,karena selama ini winesudah menjadi bagian dari gaya hidup,ada keinginan dari penikmat winekalau makan harus dengan wine,” kata pakar kuliner Indonesia itu. Alhasil,terjadilah eksperimen memadankan winedengan masakan tradisional.Dia mencontohkan,white wineyang tidak terlalu dry cocok untuk menemani bersantap gulai,kari,atau makanan lain yang tidak terlalu pedas.Sementara Champagne cocok untuk makanan yang digoreng karena gelembung gasnya seolah menyapu residu minyak.Adapun red wineyang juga tidak terlalu pekat,bisa dinikmati dengan aneka jenis sate. Tapi,yang pasti jenis pepesan tidak bisa masuk dengan semua karakter wine. Lantas,apa sebenarnya kunci wine pairing ini? Antara logika dan dipaksakan.Contohnya,apakah kalau makan fine diningsebanyak lima masakan utama juga harus memesan lima jenis botol wine yang berbeda? “Yang ada yasang chefmenyajikan wine and food pairing.Jadi,hanya satu wineuntuk semua masakan,”tutup William.sri noviarni |