VALAS

Kurs

Jual

Beli

USD

9425.00

9125.00

SGD

7532.20

7263.20

AUD

9446.65

9109.65

JPY

118.37

113.45

14 Mei 2012 / 11:23 WIB
 
Warga China Sambut Perayaan Imlek-Ratusan Juta Orang Berebut KA untuk Mudik PDF Print
Sunday, 22 January 2012
ImagePenumpang kereta api di Stasiun Shanghai China kemarin berdesakan saat akan mudik untuk merayakan Imlek bersama keluarga.

BEIJING – Besok, warga keturunan etnik China di seluruh dunia bakal merayakan Tahun Baru Imlek yang pada saat ini jatuh sebagai Tahun Naga Air. Seperti halnya Hari Raya Idul Fitri di Indonesia, perayaan tahun baru ini sekaligus menjadi momentum untuk bisa berkumpul dengan keluarga.

Di China,ratusan juta orang telah memadati berbagai stasiun kereta api (KA) sepanjang akhir pekan ini untuk bisa pulang kampung dan merayakan Imlek bersama keluarga tercinta. Diperkirakan ada sekitar 250 juta warga di seluruh Negeri Tirai Bambu itu mudik untuk Imlek tahun ini. Sebelumnya, pemerintah memperkirakan jumlah total perjalanan penumpang, baik yang menggunakan kereta, pesawat, kapal atau bus, akan mencapai 3,2 miliar selama musim liburan itu atau naik 9,1% dari tahun lalu.

Dari total jumlah tersebut, sekitar 235 juta akan mudik dengan menggunakan kereta atau naik 6,1% dari tahun sebelumnya. Sekitar 900.000 bus berukuran besar dan sedang akan diterjunkan untuk mengangkut sekitar 80 juta orang per hari,sementara pemerintah juga telah menambahkan 14.000 penerbangan untuk mengakomodasi para pemudik itu.Di kawasan selatan, polisi menerjunkan mobil dan helikopter untuk mengawal puluhan ribu migran yang mudik dengan sepeda motor.

Mengutip Kementerian Perkeretaapian China, harian China Dailymelaporkan,hingga Kamis lalu (18/1), lebih dari 6 juta orang sudah terangkut dengan kereta api dan angka itu adalah puncak dari empat hari mudik menjelang perayaan Imlek yang jatuh besok,23 Januari. Akibat membeludaknya jumlah penumpang, kementerian itu memerintahkan penambahan 703 kereta di seluruh negara untuk bisa mengangkut semua penumpang yang ingin mudik Imlek.

Di seluruh stasiun kereta api di China, antrean penumpang mengular hingga sampai keluar stasiun. Tapi, tak ada insiden yang terjadi.Para penumpang tertib dan teratur saat hendak memasuki kereta api meski pergerakan mereka lambat karena tahun ini pemerintah meminta para pengguna jasa kereta api menggunakan nama asli untuk pembelian tiket sebagai prosedur identifikasi tambahan.

“Sebagian besar penumpang menyadariproseduridentifikasi itu dan bekerja sama selama check-in,” ujar seorang sukarelawan di Stasiun Shanghai. China mensyaratkan seluruh pembeli tiket kereta agar mendaftarkan nama dan membawa kartu identitas untuk pemeriksaan sebelum boarding. Sistem nama asli ini diperkenalkan untuk membendung penjualan tiket dari calo yang merajalela ketika musim mudik Imlek tiba selama bertahun- tahun.

Untuk mempermudah pembelian tiket, Kementerian Perkeretaapian juga mengizinkan pelanggan mem-booking tiket secara online atau lewat telepon.Cara ini juga mengurangi antrean tiket di stasiun. Tapi, tak semua orang senang dengan sistem itu. Para pengguna jasa kereta yang berusaha memesan tiket dari internet mengaku kesulitan mengakses situs kereta api. Mereka bahkan harus berusaha log on ratusan kali,tapi tak ada respons dari situs itu.

Adapun yang sukses log on justru melihat tiket yang mereka inginkan telah terjual habis hanya beberapa menit setelah ditayangkan. “Saya harus me-refreshlayar saya beberapa kali untuk mendapatkan tiket.Situsnya benarbenar buruk,”keluh Annie Lu, 21,yang berdiri di luar Stasiun Beijing kepada LA Times.Nasib Lu lebih baik ketimbang Li Zhuqing, seorang pekerja migran. Dia harus rela menginap selama enam hari di sebuah booth penjual tiket di stasiun dan harus menghadapi kenyataan bahwa tiket yang dia inginkan telah habis terjual.

Sementara itu,Huang Qinghong, 37, seorang sopir di pabrik peranti keras di Wenzhou, mendapatkan perhatian media nasional karena menulis surat terbuka kepada petugas stasiun mengenai kemarahannya atas sulitnya dirinya dan rekan-rekannya untuk mudik Imlek. Dia bahkan menyebut untuk membeli tiket kereta seperti membeli lotre.“Kalaupun ada tiket tersisa, kami masih harus memiliki sesuatu bernama online banking untuk membayar,” tulis Huang.“Kami ini pekerja pabrik, bukan pekerja kantoran.

Bagaimana kami tahu membuka yang seperti itu?” Di Stasiun Beijing, Yang Shengshu juga tidak beruntung. Tukangkayuberusia51tahunitu setidaknya menghabiskan 13 jam perjalanan ke Yinchuan di kawasan barat dengan tiket “berdiri”seharga USD25, satusatunya tiket yang tersedia ketikadiamembelinya.“ Saya nggak tahu bagaimana mem-booking tiket online,”papar Yang. Petugas perkeretaapian mempertahankan sistem itu meski banyak terjadi keluhan. Menurut mereka, sistem itu mengurangi jumlah orang yang harus mengantre hingga sepertiganya. alvin