|
||||||||||||||||||
| Film Tak Sekadar Entertainment, tapi Gagasan dan Edukasi |
|
|
| Sunday, 04 December 2011 | |
|
Sutradara Kamila Andini, 25, barangkali masih hijau di jagat perfilman
Tanah Air. Namun, karya perdananya di layar lebar telah membawa harum
nama Indonesia di kancah internasional. The Mirror Never Lies
menahbiskan Dini-sapaan akrab Kamila Andini-sebagai sutradara muda penuh
talenta. Dimulai dari Festival Film Busan,Korea,mayoritas kritikus memuji film yang berlatar suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Selatan tersebut.Berlanjut di Festival Film Mumbai,Dini menyabet penghargaan Bright Young Talented Award.Belum lagi di Festival Film Tokyo dengan dua penghargaan.Jelas bukan perkara gampang menuai prestasi bergengsi itu.Apa arti film bagi Dini? Berikut petikan dengan putri sulung sineas Garin Nugroho tersebut: Sederet penghargaan untuk film debut sepertinya belum semua sutradara dapat melakukan.Bisa diceritakan proses ke sana? Iya Mirror(The Mirror Never Lies) itu sebenarnya pada Oktober kemarin itu sempat keliling-keliling yang international premier-nya itu di Busan.Kebetulan tidak dapat apaapa, namun kritikus memberikan pandangan positif untuk film ini. Setelah itu ke Mumbai,masuk ke international competition.Nah,di sini dapat penghargaan Bright Young Talented Award. Sudah memprediksi bakal menang di situ? Wah enggak nyangkabanget.Sama sekali tidak membayangkan akan menang.Pasalnya di Mumbai ini kan international competition,Mirror merupakan satu-satunya film dari Asia Tenggara.Di Asia bahkan hanya ada dua film yang lolos,filmku dan film dari India. Ada 13 film di situ. Aduuuhhh...enggak mikirakan dapat apa-apa,bener-benerenggak ngarepin deh karenakanunderdog.Karena itu sangat kaget ketika dapat penghargaan itu.Mungkin saat itu aku director paling muda sehingga mereka memberi apresiasi. Visual Mirrorsangat kuat dengan mengangkat latar Suku Bajo,apa yang mendasari karya itu? Sebenarnya sederhana.Pada film perdana ini aku ingin mengangkat tema laut karena aku suka diving (menyelam),aku suka sama laut,aku suka traveling.Aku ingin ngobrol soal laut dan Suku Bajo adalah orang yang paling dekat dengan laut.Merekalah pencerita yang paling tepat jika aku ingin bicara tentang laut,karena koneksi mereka terhadap laut.Sesimpel itu.Memang sejak dulu aku sangat tertarik dengan kehidupan mereka. Apa yang menimbulkan ketertarikan? Secara antropologi pasti menarik karena melihat kelompok-kelompok masyarakat yang menyandarkan kehidupan mereka di laut.Tapi, secara khusus aku melihat sesuatu di sana,semacam freedom,ada kebebasan cara mereka dalam memilih hidup. Itu menarik banget. Dalam film ini salah satunya terdapat kerja sama dengan WWF, adakah misi tertentu yang dibidik? Perlu kolaborasi yang tepat dalam membuat film ini.WWF seperti kita tahu mereka organisasi internasional yang sangat concernpada lingkungan dan konservasi.Kita memang banyak berdiskusi di awal tentang bagaimana film ini akan ditampilkan.Tapi,aku sendiri saat itu bilang jika semua masalah lingkungan itu tidak akan lepas dari masyarakatnya. Artinya,ada semacam representasi Indonesia di film ini? Tidak sekadar merepresentasikan Indonesia,melainkan untuk masyarakat Indonesia sebenarnya. Pertama kali aku ke Wakatobi pada 2009,awalnya untuk diving.Banyak yang tanya Wakatobi itu di mana sih,di Jepang ya? Intinya kita sendiri perlu mengenal negara kita lebih jauh.Film adalah medium yang tepat untuk membawa orang berkelana.Jadi singkatnya aku membuat film adalah ingin mengenalkan Indonesia kepada orang Indonesia. Pendeknya,film itu tidak didesain untuk berkompetisi di level internasional? Meraih penghargaan di sejumlah festival internasional itu bonus. Enggak lah kalau dari awal sudah mikirharus menang,ini untuk orang Indonesia. Aku percaya kalau memulai dari akarnya,akar itu akan tumbuh. Banyak yang menilai Mirrortak ubahnya film Garin Nugroho, sehingga muncul perbandingan antara Anda dan Garin. Sesungguhnya seperti apa? Kalau influence(pengaruh) itu jelas ya.Itu tidak bisa dihindari.Aku dari bayi bahkan hidup dari pemikiranpemikiran papa,dari bukunya papa, dari film-filmnya papa.Papa yang mengenalkan aku pada semua jenis seni.Tapi,pada Mirror,sebenarnya papa dari awal sudah memberi pernyataan tegas tidak akan memberikan fingerprint. Dia saja tidak pernah ke Wakatobi sebelumnya.Karena itu,film pertama aku harus jujur pada yang aku punya. Tapi,karena influencetadi ya, sehingga tetap tidak terhindarkan.Yang menarik,waktu aku ke Korea,Jepang, banyak yang bilang filmku beda banget dengan film-film papa. Dari sisi mana? Kalau film papa kanromantis, imajinasinya luas,eksplorasi ruangnya beda.Sementara aku cewek sehingga mungkin ada sisi feminin di filmku. Aku sebenarnya tidak tahu persis apa yang membuat beda,tapi mereka bilang itu beda banget.Mungkin di Indonesia film-film kayak gini sedikit,sehingga begitu ada film seperti itu dianggap mirip sama film papa. Terus mau apa? Apalagi papa satusatunya yang bikin film seperti itu, tapi enggak ngerti juga sih hahaha.. Banyak kritik terhadap kualitas sinema Indonesia ketika film-film bertema horor dan seksualitas menjamur.Pendapat Anda? Pengalamanku,orang yang mengkritik itu biasanya mereka yang tidak menonton film-film Indonesia. Maksudku,tahun ini banyak lho film bagus lahir,Sang Penari,Tanda Tanya, Lima Elang,Catatan Si Boy,dan banyak lagi.Jadi sayang kalau orang melihat hanya dari satu sisi.Yang penting itu adalah kita juga punya film-film yang jadi penyeimbang. Berarti tidak ada yang salah? Tahun ini adalah tahun yang kaya untuk perfilman Tanah Air.Kita punya banyak film bagus.Sebenarnya yang sangat dibutuhkan adalah ruang dan apresiasi dari masyarakatnya. Bisa dijelaskan? Pertama,soal ruangnya,karena banyak film jadi menumpuk-numpuk sehingga dua minggu sudah harus ganti film karena banyak yang mengantre. Kedua,soal apresiasi, kita mau bikin film bagus kayakapa kalau tidak ada apresiasi yasulit.Misalnya Sang Penariyang sampai sekarang belum 100.000 (penonton),sementara Pocongsudah 20.000 dalam sehari, bagaimana enggak mau tumbuh filmfilm seperti itu.Jadi apresiasi dari masyarakat yang dibutuhkan.Kalau mau bagus,ya nontonfilm bagus. Tentang paradoks antara mengejar kualitas dan jumlah penonton,Anda sendiri memilih mana? Ada yang menyebut film Anda adalah ”film festival”? Sebenarnya,seperti papa,aku atau siapa pun,pasti enggak maulah film yang dihasilkan jadi sekadar film festival.Pasti akan lebih senang kalau filmnya diapresiasi di negeri sendiri. Tapi,sekarang ini mau tidak mau kita harus ke sana karena ruangnya tidak ada.Orang-orang tidak sempat nontonfilmku,di bioskop cuma dua minggu,kecuali aku bisa buat copy yang banyak,terus mau di mana lagi? Nah,satu-satunya ruang yang di festival internasional. Apakah menumbuhkan apresiasi masyarakat itu susah? Menonton itu harus dijadikan budaya,menonton itu perlu.Kalau sekadar ingin melihat film yang bikin kita senang,pasti nonton-nya filmfilm Hollywood.Tapi,film itu kan bukan sekadar entertainment,melainkan juga gagasan dan edukasi.Kadang-kadang kita juga perlu nontonfilm yang membosankan sampai akhir karena kita ingin mendapatkan sesuatu yang lebih jelas.Kalau kita bisa melakukan itu,semua film pasti bisa ditonton. Ini tentang mimpi film Indonesia hadir di Academy Award,misalnya di kategori best foreign language film, mungkinkah itu bisa jadi kenyataan? Kalau mungkin,pasti mungkin banget.Intinya kita harus kompak. Dari mulai investornya,pembuatnya, sampai penontonnya harus kompak kalau mau ke sana.Kompak itu dalam arti saling mendukung,tidak semua berada pada kepentingannya sendirisendiri. Jangan seperti sekarang, misalnya dari sisi penonton masih pilih-pilih film.Karena terus terang semakin penonton tidak ada, kesempatan kita bikin film juga semakin tidak ada. Bagaimana kita mau lebih baik kalau kesempatan saja tidak ada.Dan satu lagi, pemerintah juga harus kompak dengan kita. zen teguh |