VALAS

Kurs

Jual

Beli

USD

9425.00

9125.00

SGD

7532.20

7263.20

AUD

9446.65

9109.65

JPY

118.37

113.45

14 Mei 2012 / 11:23 WIB
 
Suara Mahasiswa, Anomali Itu Bernama PSSI PDF Print
Tuesday, 01 March 2011
DENGAN menggunakan kacamata kuda atau kacamata biasa, kita bisa melihat bahwa kondisi persepakbolaan Indonesia sangatlah mengecewakan. Alih-alih bermimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia atau sekadar berpartisipasi dalam perhelatan empat tahunan tersebut, cabang olahraga yang digemari rakyat banyak ini tidak pernah bisa mendatangkan prestasi.

Dalam olahraga, selain mempertontonkan suguhan yang menarik, para penonton tentunya ingin melihat kemenangan. Sayangnya rasa haus akan prestasi sepak bola Indonesia belum mampu terobati dengan baik.Piala AFF yang diharapkan sebagai pengobat rasa penasaran pecinta sepak bola Tanah Air dibawa kabur oleh Malaysia. Timnas yang digadang-gadang mampu menjuarai turnamen tersebut keok di tangan negeri seberang. Jika kita mencoba untuk melihat prestasi sepak bola Indonesia,semenjak dahulu sebenarnya kita terus mengalami degradasi prestasi.

Dahulu Indonesia sempat diperhitungkan sebagai salah satu tim sepak bola yang garang di Asia,namun sekarang untuk level Asia Tenggara saja kita sulit untuk meraih prestasi.Kondisi ini tentunya terjadi karena banyak hal, kompetisi yang belum terlalu maksimal, kurangnya perhatian terhadap pembinaan pemain muda, infrastruktur penunjang yang kurang memadai, serta kemelut di tubuh induk organisasi sepak bola Indonesia, PSSI. Tidak maksimalnya performa timnas ini ditengarai oleh buruknya kinerja dari PSSI itu sendiri.

Organisasi sepak bola Indonesia ini dianggap telah gagal dalam memajukan persepakbolaan dalam negeri. Semenjak tahun kepemimpinan Azwar Anas, PSSI telah dilanda banyak masalah.Tahun 1998 pada Piala AFF (Tiger Cup),sepak bola kita terkena skandal sepak bola gajah.Sebuah skandal yang mencoreng sportivitas dan nama baik sepak bola Indonesia. Penerus Azwar Anas,Agum Gumelar, pun mengalami kondisi yang sama.Timnas kita gagal pada Piala AFF 2000 dan 2002 serta menjadi bulan-bulanan timnas negara lainnya.

Agum Gumelar yang menjabat selama satu periode ini akhirnya digantikan oleh Ketua Umum PSSI sekarang yang bernama Nurdin Halid. Semenjak tahun Nurdin Halid inilah kondisi sepak bola kita benar-benar merosot.Tidak ada prestasi yang membanggakan, justru berita buruk selalu tersemat kepada sepak bola nasional. Isu suap yang semakin menyeruak, korupsi yang merajalela, pengaturan skor yang gila-gilaan, serta lagi-lagi minimnya prestasi timnas kita di kancah Internasional.

Dari kurun waktu 2003 hingga sekarang kita benar-benar berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Kekecewaan langsung disuarakan para pecinta sepak bola kepada para pengurus PSSI. Mereka beranggapan bahwa pengurus sekarang telah gagal membangun sepak bola Indonesia menuju arah yang lebih baik lagi. Sayangnya seruan tersebut kurang didengarkan dengan baik. Saat ini Nurdin Halid kembali maju sebagai calon Ketua Umum PSSI untuk periode ketiga.

Padahal sudah semua masyarakat Indonesia yang tidak ingin lagi PSSI dipimpin oleh Nurdin.Begitu ngototnyaNurdin Halid untuk memimpin PSSI tentunya menimbulkan anomali tersendiri karena selama dia memimpin Indonesia minim prestasi,tetapi Nurdin tetap maju sebagai salah satu calon ketua PSSI. Sebagai seorang pecinta bola, saya sendiri berharap agar Nurdin Halid mengurungkan niatnya untuk maju sebagai salah satu calon Ketua PSSI.

Kita sudah berada pada titik di mana perubahan menjadi satu hal yang mesti terjadi.Seluruh fungsionaris PSSI sekarang ada baiknya tidak lagi mengurusi sepak bola Indonesia karena sudah terbukti selama mereka mengurusi organisasi ini tidak jelas nasib sepak bola kita. Berikanlah kesempatan kepada para pemuda dan pecinta bola untuk mengurusi PSSI. Kita butuh orang-orang baru yang bisa memberikan warna baru bagi PSSI dan sepak bola nasional.●

JAHEN FACHRUL REZKI
Mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia