VALAS

Kurs

Jual

Beli

USD

9425.00

9125.00

SGD

7532.20

7263.20

AUD

9446.65

9109.65

JPY

118.37

113.45

14 Mei 2012 / 11:23 WIB
 
Penelitian Ilmiah Jadi Jalan Tengah PDF Print
Saturday, 25 September 2010
SELAMAini wacana tentang komposisi otak sangat identik dengan otak kanan dan otak kiri. Keduanya mewakili kemampuan dan kelebihan masingmasing. Kini sejak satu tahun terakhir,muncul ”popularitas”otak tengah.Bahkan kemampuan otak tengah sering disebutkan berhubungan dengan kejeniusan.


Menurut penulis buku Dahsyatnya Otak Tengah Hartono Sangkanparan, otak tengah adalah bagian integral dari otak.Tidak dapat dipisahkan dengan otak kanan, kiri, depan, belakang.

Mereka semua terkait dalam satu kesatuan.Namun, banyak orang yang salah mengerti dan menjelaskan seolah-olah otak tengah adalah otak superior yang mengalahkan otak lain. Bahkan mungkin ada yang menyangka tidak perlu otak lain selain otak tengah. Hal ini menurutnya adalah pemahaman yang salah. Otak tengah adalah bagian dari otak manusia yang tidak dapat dipisahkan dari bagian otak yang lain. Dengan otak tengah yang aktif, fungsi otak yang lain akan menjadi semakin baik.Secara umum kecerdasan yang muncul adalah kecerdasan dasar yang sudah ada di otak anak, tetapi belum terlihat manifestasinya.

Beberapa di antaranya adalah meningkatnya konsentrasi, daya ingat, daya tangkap, kreativitas, daya analisis. Otak tengah menurutnya berfungsi sebagai manajer. Dia menghubungkan otak kanan dan otak kiri. Dengan adanya fungsi otak tengah itu,otak kanan dan otak kiri bisa bersinergi. Oleh karena itu, hasil yang dicapai pun akan lebih maksimal karena kerja kedua otak tersebut bisa maksimal dan bisa bekerja bersama karena ada koordinasi dari otak tengah. Kinerja dan hasil kerja otak tengah bisa dianalogikan dengan produk-produk teknologi produksi Jepang. Produk teknologi dari Negeri Matahari Terbit tersebut selain menghasilkan teknologi kelas tinggi, juga bentuk produknya artistik dan dapat diterima masyarakat luas.

Produk dengan spesifikasi tersebut menurut Hartono karena ada manajer yang menyinergiskan teknologi dan seni. Keduanya sebenarnya dua hal yang berlainan,tapi bisa disinergiskan untuk menghasilkan produk yang bisa memenuhi kedua unsur asalkan ada manajer yang bisa menyinergiskannya. Menurutnya, teknologi bisa dianalogikan dengan otak kiri karena otak jenis sebelah kirilah yang menjadi sumber dari kemampuan daya nalarsecarailmiah.Sementara otak kanan bisa dianalogikan dengan seni dan memang dari otak kananlah kemampuan seni muncul. Adapun otak tengah bisa dianalogikan dengan manajer yang menyinergiskan keduanya sehingga bisa menghasilkan hasil yang maksimal dari kemampuan dua otak lainnya.

Hasil dari kemampuan otak tengah inilah yang sering disebutkan dengan jenius. Jenius yang dimaksudkan adalah keseimbangan dalam memakai seluruh bagian otak secara bersamaan.Tidak ada lagi pemisahan-pemisahan karena otak sebenarnya memang bekerja secara terintegrasi dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Dengan kemampuan ini, diharapkan dapat dihasilkan generasi baru yang akan menjadi orangorang yang berpikiran terbuka,positif, kreatif, dan baik hati.

Karena otak tengah mempunyai fungsi koordinasi, dengan aktifnya otak tengah, kecerdasan secara umum akan meningkat. Hartono menambahkan, sebenarnya pada masa kelahiran, semua otak tengah manusia dalam keadaan aktif.Namun,sayang,otak tengah sangat sensitif terhadap stres dan kesedihan dan menjadi tidak aktif. Otak tengah akan berkembang dengan baik dalam lingkungan senang. Otak tengah juga diduga adalah otak yang mencari penghargaan (reward seeking). Kemampuan otak ini berkurang seiring dengan meningkatnya tingkat stres, pola pendidikan dan kebudayaan. ”Setiap orang beda ratepenurunannya.

Ada juga beberapa orang yang otak tengahnya tidak tertutup. Secara umum anak di atas 5 tahun otak tengahnya sudah mulai tertutup,“ kata Hartono. Untuk mengaktifkan kembali otak tengah menurutnya perlu melibatkan gerakan tubuh (brain gym) dan rangsangan melalui audiovisual. Otak tengah adalah relay station dari penglihatan dan pendengaran. Itulah sebabnya rangsangan utama dilakukan pada penglihatan dan pendengaran karena mereka berhubungan langsung dengan otak tengah. Dalam aktivasi otak tengah,pelatihan harus dilakukan pelatih/ trainer yang dilengkapi dengan komputer dan peralatan khusus. Tidak bisa dilakukan tanpa itu.Dia menambahkan, sebenarnya ada beberapa metode aktivasi otak tengah di dunia ini.

Yang sekarang banyak dilakukan di Indonesia adalah metode baru dengan mempergunakan teknologi komputer. Pelatihan aktivasi otak tengah yang dilakukan sekarang tidak menggunakan teknik dari psikolog atau ahli kedokteran saraf. Namun hal ini menurutnya jangan disalahartikan. Dia mengakui jika berhubungan dengan anak, tentu saja perlu mempertimbangkan aspek psikologi anak secara umum. ”Secara umum anak umur 5 hingga 15 tahun berpotensi mengaktifkan otak tengah mereka, dengan syarat mereka adalah anak normal,“ tambah Hartono. Model pelatihan otak tengah dipelopori David Ting yang berkebangsaan Malaysia.

Hartono kenal Ting secara pribadi.Tim riset pelatihan ini berasal dari beberapa pihak seperti Malaysia, Taiwan, serta input dari Indonesia dan Australia. Indonesia sebenarnya adalah salah satu negara pionir dalam hal ini. ”Mungkin selama ini kita kebiasaan menganggap sesuatu yang impor itu hebat dan biasanya penelitian dari luar sudah jelas. Teknologi ini sekarang masih terus dikembangkan.Seperti juga layaknya suatu cabang ilmu baru,masih banyak pihak yang bingung dan heran.Wajarlah terjadi kebingungan di titik awal perkembangannya, ”papar Hartono.

Secara umum negara yang sudah mulai berkenalan dengan aktivasi otak tengah adalah Jepang, Malaysia, Indonesia,Tibet, Rusia, Singapura, Sri Lanka, Australia, Thailand, China,Hong Kong.Tingkat apresiasi setiap negara berbeda. Jepang,Tibet, Rusia memakai cara mereka sendiri.Jepang sudah menelitinya sejak 40 tahun lalu, tetapi tidak disebarkan. Tibet sudah mempelajarinya sejak lama sekali. Rusia mengambil metode yang diajarkan di Tibet. Negara selain Jepang,Tibet, Rusia menggunakan teknologi modern dengan komputer. Hartono mengakui masih banyak keraguan yang berkembang di masyarakat tentang fungsi otak tengah, apalagi jika dihubungkan dengan aktivasi dan dampaknya. Dia juga mendengar sejumlah sanggahan dari pakar psikologi dan mungkin juga kedokteran.

Namun, dia tidak berwenang berbicara tentang keraguan yang dilontarkan sejumlah pakar tersebut. Hanya, dia bersedia mendukung penelitian yang berhubungan dengan aktivasi otak tengah ini. ”Jadi alih-alih ribut dengan segala keraguan,marilah kita buat penelitiannya. Setahu saya penelitian seharusnya netral dan tidak memihak. Jika dilihat lebih teliti, sebenarnya Indonesia memiliki potensi penelitian yang paling baik. Sekarang ini Indonesia memiliki jumlah anak yang teraktivasi otak tengahnya terbanyak di dunia.

Saya sudah mendapat tawaran kerja sama penelitian dari Amerika dan Australia.Saya masih ingin menundanya sampai ada putra bangsa Indonesia yang memulai penelitiannya,” pungkas Hartono. (abdul malik/islahuddin)