VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Sawit Bisa Jadi Penengah PDF Print
Sunday, 05 September 2010
TANAH Indonesia yang luas dan subur adalah kekayaan yang diakui semua bangsa di dunia. Berbagai macam tumbuhan bisa tumbuh, termasuk sawit yang beberapa tahun ini telah menjadi primadona dunia.


Banyak negara yang berburu kerja sama sawit dengan Indonesia, termasuk Malaysia. Hingga 2009 data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat,penanaman modal asing (PMA) di sektor perkebunan dan industri kelapa sawit (CPO) ada 71 proyek senilai USD1,5 miliar. Itu terdiri dari 20 izin usaha tetap (IUT) senilai USD226,93 juta (2005), 17 IUT senilai USD477,91 juta (2006), 16 IUT senilai USD330,05 juta (2007), 11 IUT senilai USD224,64 juta (2008), dan tujuh IUT senilai USD245,77 juta (2009). BKPM memberikan persetujuan PMA untuk sektor perkebunan dan industri kelapa sawit sebanyak 187 proyek senilai USD8,12 miliar selama lima tahun terakhir.

Adapun 19 proyek mencapai USD630,99 juta (2005), 30 proyek USD924,15 juta (2006), 44 proyek USD1,69 miliar (2007), 55 proyek USD2,19 miliar (2008), dan 39 proyek USD2,68 miliar (2009). BKPM mencatat, persetujuan PMDN sektor perkebunan dan industri kelapa sawit periode 1 Januari 2005–31 Desember 2009 sebanyak 143 proyek senilai Rp76,55 triliun.Yaitu sebanyak 26 proyek dengan nilai Rp6,79 triliun pada 2005, 17 proyek Rp8,54 triliun (2006), 41 proyek Rp22,34 triliun (2007), 33 proyek Rp20,16 triliun (2008), dan 26 proyek Rp18,72 triliun (2009).

Sedangkan khusus untuk Malaysia, berdasarkan data Hipmi Research Center, investasi di bidang perkebunan dan tanaman pangan mencapai USD454,6 juta. Sebagian besar dari investasi tersebut berada di bidang kelapa sawit. Malaysia memang menjadikan Indonesia sebagai tempat investasi kelapa sawit. Dengan lahan yang sangat luas, masih terbuka lebar bagi negara lain untuk membuka lahan sawit di Indonesia. Investor asal Malaysia mulai membuka lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia sejak tahun 1990-an Indonesia sendiri adalah penghasil sawit terbesar di dunia.

Sayang banyak lahan sawit yang dikuasai investor Malaysia baik secara langsung ataupun tidak. Sehingga, keuntungan sawit tersebut banyak lari ke negeri jiran. Kedua negara memang terus berlomba menjadi produsen minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia. Pada 2008 produksi CPO dunia mencapai 42.904.000 ton. Dari jumlah itu Indonesia menyuplai 19.100.000 ton sedangkan Malaysia berkontribusi 17.735.000 ton. Sementara itu. dari produktivitas, Menteri Pertanian Suswono mengakui, produktivitas lahan sawit Indonesia masih kalah jauh dibanding Malaysia.Menurut dia, jika Indonesia meningkatkan produktivitas sampai 4 ton CPO per hektar, maka produksi Indonesia bisa dua kali lipat dari Malaysia.Di Malaysia, dengan luas lahan 4 juta hektar, bisa menghasilkan 16 juta ton CPO.

Sementara Indonesia dengan luas 7,9 juta hektar baru menghasilkan 18 juta ton CPO. Menurut juru bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat, Pemerintah Malaysia meminta Wapres Boediono melakukan kemudahan izin bagi Malaysia untuk ekspansi lahan sawitnya di Indonesia.Mereka berharap perizinan bisa dilaksanakan di pusat.Pernyataan Yopie ini disampaikan usai pertemuan Wapres Boediono dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Dato Haji Muhyidin Mohd Yassin di Kantor Wapres akhir Juni lalu. Malaysia memang gencar memburu lahan sawit di Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga, investor Malaysia menguasai sekitar 15–20% dari total lahan sawit di Indonesia.

Investor Malaysia juga terus berusaha mengakuisisi lahan- lahan sawit investor lokal (existing) melalui mekanisme kerja sama. Saat ini luasan areal sawit 8% dimiliki PTPN, 34% petani, Malaysia sekitar 15–20%. Artinya,hanya 35% lahan sawit yang dimiliki pengusaha lokal. Dengan data ini, Malaysia bisa menjadi negara penghasil sawit terbesar jika produksi sawit dalam negerinya diakumulasikan dengan hasil investasi mereka di Indonesia. Memanasnya hubungan Indonesia- Malaysia juga mengangkat isu sawit, khususnya di kalangan politisi. Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo misalnya, mengatakan bahwa banyak aset sawit Malaysia yang bisa merugi jika terus mengusik Indonesia.

”Ingat, Malaysia tidak ada tenaga kerja di sini tapi punya aset kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan,” ujar Tjahjo. Dilihat dari angka investasi di bidang sawit, Malaysia sangat bergantung kepada Indonesia.Wakil Ketua Komisi I DPR Hayono Isman juga mengatakan, Malaysia akan merugi jika hubungannya dengan Indonesia tidak baik. ”Akan rugi Malaysia kalau tidak menghargai Indonesia.Investasi Malaysia akan hancur karena mereka bergantung pada Indonesia,”kata Hayono. Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Greenomics Elfian Effendi.

Menurutnya, Investasi perkebunan kelapa sawit Malaysia di Indonesia terancam oleh memburuknya hubungan diplomatik Indonesia dengan Malaysia yang kurang harmonis belakang ini. ”Jika pemerintah Indonesia tegas terkait dengan hubungan diplomatik dengan Malaysia, saya pikir pemerintah bisa saja membekukan 2,1 juta hektar izin usaha sawit yang saat ini dipegang investor Malaysia,” kata Elfian sebagaimana dilansir Antara.

Bahkan, jika izin sawit dibekukan, seluruh TKI yang bekerja di Malaysia bisa dipulangkan ke Indonesia dan bisa dilibatkan dalam melanjutkan bisnis usaha sawit milik Malaysia tersebut. (abdul malik/islahuddin)