VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Mereka juga Kokoh di Perbankan PDF Print
Sunday, 05 September 2010
DIIndonesia,bank asing (termasuk asal Malaysia) bisa dengan mudah masuk. Menurut data Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Research Center, investasi Malaysia di Indonesia dalam bidang keuangan (bank/non bank) sudah mencapai USD2 miliar.Banyak di antara mereka bukan sekadar membuka cabang tetapi juga melakukan akuisisi.


Sebaliknya, perbankan nasional sangat kerepotan untuk membuka cabang di negara lain, khususnya Malaysia. Bank nasional yang paling gencar membuka cabang di Malaysia adalah Bank Mandiri. Pada 2011 Bank Mandiri berencana menambah kantor cabang internasional (remittance) di Malaysia menjadi 15. Rencana penambahan ini semestinya bisa terlaksana pada akhir tahun ini.Tapi, karena terkendala persetujuan Bank Sentral Malaysia, penambahan remittance ini harus ditunda. Saat ini Bank Mandiri memiliki enam remittance di Malaysia yang khusus melakukan transaksi valas.

Pengajuan penambahan remittance sudah diajukan sejak beberapa bulan lalu.Menurut Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini,penambahan remittance di Malaysia tidak hanya di Kuala Lumpur tapi di daerah lain yang banyak terdapat tenaga kerja Indonesia (TKI). Terkait memanasnya Hubungan Indonesia-Malaysia beberapa waktu terakhir ini,dia yakin masalah tersebut tidak ada akan berdampak pada sektor perbankan. ”Memang izin tambahan remittancedi Malaysia belum keluar. Kita harapkan tahun ini tetapi kelihatannya belum dapat persetujuan dari Bank Sentral Malaysia,” kata Zulkifli.

Zulkifli tidak tahu persis penyebab tersendatnya perizinan dari otoritas perbankan Malaysia. Setidaknya, hal ini membuktikan begitu sulitnya membuka kantor cabang di Malaysia.Padahal,Mandiri telah lama mengajukan izin pendirian kantor cabang di negeri jiran itu. Menurut Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, seharusnya Bank Sentral Malaysia tidak bisa melarang pembukaan cabang baru Bank Mandiri di Malaysia. Sebab, pelarangan itu melanggar konsensus internasional yang diatur Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organisation/ WTO) di mana kesepakatan tersebut berlaku secara internasional. Jika bank asal Indonesia begitu sulit beroperasi di Malaysia,maka yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya.

Bank asal negeri jiran bisa dengan mudah beroperasi di sini. Bahkan, perbankan Malaysia telah melakukan aksi akuisisi. CIMB Niaga misalnya, adalah salah satu bank papan atas dan berada di urutan ke lima bank terbesar di Indonesia. CIMB Niaga yang merupakan penggabungan Bank Lippo dan Bank Niaga dikendalikan perbankan asal Malaysia. Pemegang sahamnya adalah CIMB Group Sdn Bhd sebesar 56,1%,Santubong Ventures Sdn Bhd 16,65%, Greatville Pte Ltd 2,58%, dan publik memiliki saham sekitar 24%. Begitu juga dengan PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII). BII adalah salah satu bank papan atas di Indonesia. Bank ini semula milik Grup Sinar Mas, belakangan diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan dilepas kepada konsorsium Sorak pada Desember 2003.

Pada 30 September 2008, sekitar 55,51% saham Sorak diambil alih Maybank Offshore Corporate Services (Labuan) Sdn. Bhd, anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Malayan Banking Berhad (Maybank).Maybank adalah salah satu grup bisnis perbankan besar di Malaysia. Kini Maybank melalui BII melepas unit syariah BII.Maybank memang bank yang paling gencar beroperasi di Indonesia.Di BII, Maybank menguasai 97,5% saham. Maybank menilai, ekonomi Indonesia akan menjadi mesin pertumbuhan di kawasan ASEAN.Karena itu,mereka menjadikan Indonesia sebagai basis pertumbuhan bisnis.Total Aset Maybank di Indonesia tercatat 336,7 miliar ringgit (USD106,3 miliar).

Menurut President and Chief Executive Officer (CEO) Maybank Datuk Seri Abdul Wahid Omar, pertumbuhan di Indonesia ke depan sangat tinggi. Potensi Indonesia diprediksi akan terus meningkat seiring rencana dibentuknya integrasi ekonomi ASEAN pada 2015. Integrasi ini akan membuat Indonesia menjadi mesin utama pertumbuhan.Pertimbangan lain, tingkat penetrasi perbankan di Indonesia masih sangat rendah. Berbeda dengan Singapura dan Malaysia yang sudah tinggi. ”Kita berharap Indonesia jadi mesin pertumbuhan kita di masa mendatang,” ujarnya.

Maybank akan mendorong BII untuk terus ekspansi dengan membuka kantor cabang.Pada 2010 BII telah membuka 18 kantor dan akan ada 70 kantor cabang lagi hingga Juni 2011. BII menargetkan bisa masuk jajaran lima bank terbesar pada 2015. Aset ditargetkan bisa naik menjadi Rp180 triliun. Saat ini aset BII tercatat sebesar Rp67,6 triliun.Pada April 2010,Maybank telah menyuntikkan dana Rp1,3 triliun melalui right issue BII.

Di Indonesia, bank asing dan bank milik asing dalam beberapa tahun mengalami pertumbuhan luar biasa.Pada 1999,total asetnya masih 11,4% dari total perbankan namun pada 2008 tumbuh menjadi 41,6%, sedangkan pangsa kreditnya meningkat dari 19,2% pada 1999 menjadi 41,3% pada 2008,demikian pula pangsa dananya naik dari 11% pada 1999 menjadi 40,2% pada 2008. Pertumbuhan yang cepat itu salah satunya disebabkan blue print terkait dengan modal minimum perbankan yang diharuskan. Selain itu banyak bank asing yang bermain” di Indonesia melalui pintu akuisisi karena mudahnya syarat yang berlaku.

Peraturan BI menyebutkan, bank baru tidak perlu memenuhi syarat modal disetor Rp3 triliun jika dibentuk melalui akuisisi. Sehingga mendorong mereka melakukan akuisisi masif terhadap bank-bank kecil. Dibandingkan negara lain, seperti Malaysia, Singapura, dan China, Indonesia lebih terbuka dalam menerima perbankan asing. (abdul malik/islahuddin)