|
||||||||||||||||||
| Timpangnya Daya Saing Pariwisata |
|
|
| Sunday, 05 September 2010 | |
|
MEMBANDINGKAN Malaysia dan Indonesia dari sisi pariwisata, terasa
sangat timpang. Selain anggaran promosi pariwisata yang besar,
Indonesia juga jauh tertinggal dari sisi pengelolaan.
Untuk objek tujuan wisata, siapa pun tidak akan bisa membantah kalau Indonesia menang dibanding Malaysia.Namun, dari sisi pengelolaannya, Indonesia harus lebih banyak bekerja keras. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam laporan indeks daya saing pariwisata 2009. Di mana posisi Indonesia makin merosot dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan untuk indikator prioritas pembangunan pariwisata berkelanjutan posisi Indonesia termasuk terbawah. Sebagaimana laporan World Economic Forum dalam The Travel & Tourism Competitiveness Report (TTCR) 2009, peringkat Indonesia berada di urutan ke-81 dari 133 negara yang dinilai di seluruh dunia. Sementara secara regional Asia, posisi Indonesia hanya di urutan ke-15. Laporan tersebut mengungkapkan ada beberapa indikator penilaian di mana Indonesia mendapat nilai bagus. Di antaranya, dalam sumber daya alam Indonesia meraih peringkat 28 di dunia. Ini karena ada beberapa cagar alam dunia yang berada di Indonesia dan kayanya negeri ini akan fauna. Dalam hal kekayaan budaya Indonesia juga berada di urutan ke- 37, dengan lima cagar budaya dunia, beberapa acara dan pameran internasional, serta kuatnya industri kreatif di Indonesia. Bahkan, dari sisi harga secara keseluruhan Indonesia memiliki posisi ke-3 terbaik di dunia, salah satunya karena bersaingnya harga hotel yang berada di peringkat 7, rendahnya biaya pajak tiket dan bandara,dan harga minyak yang rendah pula. Bagaimanapun unsur-unsur kelebihan Indonesia ternyata tidak ditunjang sejumlah indikator lain. Sebab,menurut WEF, unsur kelemahan Indonesia ternyata cukup parah. Dalam hal tingkat kepercayaan terhadap sarana transportasi udara, Indonesia berada di peringkat 88, transportasi darat (89), infrastruktur pariwisata (88), dan infrastruktur teknologi komunikasi dan informasi (102). Bahkan, ada beberapa perhatian yang terkait dengan keamanan dan keselamatan, yakni minimnya kepercayaan terhadap kinerja pelayanan aparat kepolisian dan angka prevalensi kematian di jalan raya. Terlebih lagi, dalam hal indikator prioritas pembangunan sektor pariwisata secara berkelanjutan, Indonesia berada di urutan ke-130 dari 131 negara.Sektor pariwisata sangat tergantung dari kualitas lingkungan.Sehingga bisa dikatakan sektor pariwisata Indonesia belum mempertimbangkan pelestarian lingkungan. Dalam hal kebijakan dan regulasi pun posisi Indonesia berada di urutan ke-123. Indikator lain yang diukur di antaranya dalam hal keamanan dan keselamatan di peringkat 119, serta kesehatan dan kebersihan peringkat 110. Secara keseluruhan, skor indeks daya saing pariwisata yang diraih Indonesia tahun 2009 sebesar 3,79.Posisi Indonesia yang berada di urutan 81 tahun 2009 ini semakin merosot jika dibandingkan tahun 2008 yang berada di posisi 80 dan tahun 2007 di urutan 60. Dalam laporan yang dipublikasi (04/03) tersebut, posisi Indonesia memang hanya setingkat di atas Namibia (82) dengan skor 3,77 dan di bawah Macedonia (80) dengan skor 3,81.Bahkan,posisi Indonesia masih di bawah Sri Lanka yang pada tahun 2009 ini berada di ranking 78 dengan skor 3,82.secara rinci,beberapa negara ASEAN lain seperti Brunei Darussalam di posisi 69 dengan skor 3,99,Thailand (39) dengan skor 4,45,Malaysia (32) dengan skor 4,71, dan Singapura (10) dengan skor 5,24. Namun, ranking Indonesia masih lebih unggul dibandingkan Vietnam (89), Filipina (86), dan Kamboja (108). Sementara negara Asia lain, seperti China dan India berada di peringkat masing-masing 47 dan 62. Sementara, Malaysia meraih ranking 7 secara regional Asia dan ranking 32 dari 133 negara. Menurut catatan WEF, Malaysia memiliki kekayaan sumber daya alam dengan ranking 21,dan infrastruktur transportasi yang baik ranking 28. Selain itu, Malaysia memiliki harga pariwisata yang kompetitif (4), dengan murahnya harga sewa hotel, harga minyak, dan pajak. Kebijakan Malaysia dianggap kondusif untuk membangun sektor pariwisata (9), dengan prioritas pada sektor perjalanan dan wisata dengan mempromosikan wisatanya dalam berbagai pameran wisata internasional (1). Malaysia juga dianggap memiliki sistem evaluasi yang bagus terhadap pembuatan kebijakan promosi (12). Meski demikian, ada beberapa kelemahan seperti, indikator kebersihan dan kesehatan yang dianggap masih rendah di negara ini (94). Membandingkan sektor pariwisata antara Indonesia dengan Malaysia memang sering dianggap tidak aple to aple.Salah satunya dari sisi anggaran promosi pariwisata. Sebagai gambaran, perbandingan anggaran pariwisata Indonesia termasuk cekak dibandingkan negara- negara ASEAN. Data Kementerian Kebudayaan Pariwisata (Kemenbudpar) menunjukkan, pada 2007 anggaran promosi pariwisata Malaysia mencapai USD100 juta.Kemudian Singapura sebesar USD92 juta, Thailand sebesar USD80 juta, sementara Indonesia hanya sebesar USD15 juta.Artinya pada tahun 2007,anggaran promosi pariwisata Indonesia hanya kurang dari seperenamnya anggaran promosi pariwisata Malaysia. Bahkan, pada 2010 ini Malaysia menyediakan bujet sebesar USD150 juta untuk promosi pariwisata. Meski dana promosi terbatas, dari sisi capaian jumlah kunjungan wisman, Indonesia masih mampu mengimbangi negara tetangga,misalnya Singapura ternyata hasil akhirnya tidak terpaut jauh.Capaian kunjungan wisman ke Indonesia sebesar 5,51 juta orang, Singapura 7,96 juta. Sementara kunjungan wisman Malaysia yang tinggi yakni sebesar 20,97 juta, kabarnya didominasi wisman lintas perbatasan Johor-Singapura maupun kunjungan wisman ke Genting Island sebagai pusat wisata judi. Namun, berdasarkan catatan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, bagi Malaysia, Indonesia merupakan salah satu negara asal wisatawan asing paling besar dengan jumlah wisatawan mencapai 1.952.928 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Malaysia pada 2009. Sementara itu, dengan menghitung dampak krisis ekonomi global, diproyeksikan 930 ribu turis asal Malaysia akan berkunjung ke Indonesia tahun 2009. Pada tahun 2009 Malaysia mengklaim telah dikunjungi 23,6 juta wisatawan asing. Tingginya arus kunjungan wisatawan asing ke Malaysia tidak terlepas dari faktor promosi di luar negeri yang sangat gencar, kondisi infrastruktur yang memadai, tersedianya fasilitas pendukung lainnya dan program Malaysia My Second Home yang menjadikan banyak warga asing bermukim di Malaysia. (abdul malik/islahuddin) |