VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Monumen Diklaim Tak Bebani APBD PDF Print
Sunday, 05 September 2010
SALATIGA (SINDO) – Pemkot Salatiga tetap berencana merealisasikan pembangunan monumen di Bundaran Tamansari Jalan Diponegoro,Kota Salatiga. Alasannya,proyek itu tidak membebani APBD.

Wali Kota Salatiga John Manuel Manoppo menegaskan,pihaknya tetap akan merealisasikan pembangunan monumen tersebut.Pembangunannya sudah masuk dalam rencana penataan wajah Kota Salatiga. “Pembangunan tugu itu untuk memperindah wajah kota. Soal anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan tugu ini juga tidak membebani keuangan daerah.

Kami telah menganggarkan dana ratusan miliar untuk kegiatan pembangunan lainnya (bukan tugu),” kata John kepada wartawan, akhir pekan lalu. Rencana pembangunan tugu yang akan dibangun secara monumental itu tidak muncul dengan tiba-tiba. Dia menuturkan, perencaannya sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu.Konsepnya diambil dari hasil dari sayembara yang diselenggarakan Pemkot pada 2002 lalu.

John menjelaskan, berdasarkan master plan-nya, pembangunan monumen bukan hanya sebatas membangun tugu saja.Monumen juga akan dilengkapi dengan sejumlah patung pahlawan seperti Pangeran Diponegoro dan Jenderal Sudirman.“Yang jelas, pembangunan monumen ini untuk menunjang keindahan kota.Yang jelas pembangunan monumen tidak membebani keuangan daerah,”tegasnya.

Dikatakan, pembangunan monumen didasari kondisi Tugu Jam Bundaran Tamansari yang sudah tidak layak untuk menunjang tata kota.“Saya kira untuk membangun tidak ada salahnya karena dengan kondisi saat ini,Tugu Jam di Bundaran Tamansari masih kalah dengan tugu yang ada di kota kecamatan di pulau Jawa,”katanya berargumen. Sementara itu, Majelis Ulama (MUI) Kota Salatiga tetap akan menolak pembangunan monumen tersebut.

Alasanya, pembangunan monumen bisa memicu polemik di antara umat beargama.“Jika Pemkot tetap ngotot akan membangun monumen, kami siap menghentikannya. Dari pada untuk membuat monumen,lebih baik dana yang digunakan untuk membantu rakyat miskin yang jumlahnya masih banyak. Apabila pembangunan monumen tetap dipaksakan, kami akan melakukan perlawanan,” ancam Ketua MUI Kota Salatiga Syaifudin Zuhri.

Menurut dia, pembangunan monumen yang akan dijadikan sebagai simbol Kota Salatiga ini bisa menimbulkan suasana yang tidak kondusif di tengah masyarakat.Pasalnya, pembangunannya menuai pro kontra. Pembangunan monument,sambung dia, hanya sebagai bentuk pemborosan anggaran yang dilakukan Pemkot Salatiga. Semestinya, Pemkot bisa mementingkan skala prioritas dalam melaksanakan pembangunan. Sebab, masih banyak daerah yang belum tersentuh pembangunan yang bisa bermanfaat langsung bagi masyarakat. (angga rosa)

 
coverjateng