VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Pemerintah Resosialisasi Elpiji PDF Print
Sunday, 05 September 2010
DALAM rapat dengar pendapat antara Panitia Kerja (Panja) Konversi Minyak Tanah ke Elpiji 3 kg dengan Direksi Pertamina, Minggu lalu, terungkap salah satu penyebab terjadinya insiden tabung elpiji 3 kg karena human eror (kelalaian manusia).


Untuk mengatasinya, pemerintah akan melakukan resosialisasi (sosialisasi ulang).Langkah ini dilakukan pemerintah tentu saja sebagai upaya untuk menjawab permasalahan yang kini masih membelit konversi minyak tanah ke elpiji.Sekalipun istilah resosialisasi itu sebenarnya kurang tepat. Mengapa demikian? Karena yang namanya sosialisasi itu tidak lepas dari proses edukasi, di mana untuk mengubah perilaku masyarakat perlu dilakukan sosialisasi secara terus-menerus, bahkan berkelanjutan agar terjadi transformasi. Istilah resosialisasi itu seakan mengesankan bahwa sosialisasi penggunaan elpiji yang dilakukan sebelumnya adalah salah.

Padahal dalam konteks sekarang ini yang terjadi sesungguhnya karena minimnya sosialisasi, bukan resosialisasi.Persoalan dalam sosialisasi itu ada perbaikan baik dari sisi konten maupun volume, rasanya tidak tepat bila disebut resosialisasi.Pendek kata sosialisasi harus dilakukan sebanyak mungkin dan berulang-ulang. Sosialisasi itu penting dilakukan karena kurangnya pengetahuan tentang produk elpiji. Pada sisi lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang lingkungan. Akibat kelalaian manusia tersebut, banyak jatuh korban mulai luka-luka, meninggal, hingga rusaknya properti yang harus ditanggung masyarakat.

Bukan Persoalan Mudah

Penggunaan tabung elpiji 3 kg secara aman dan nyaman ini diharapkan lahir dari sebuah kesadaran dalam masyarakat yang berwujud dalam bentuk keterampilan dan perilaku yang signifikan terhadap penggunaan elpiji secara aman dan nyaman. Menurut Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, terdapat prinsip-prinsip utama yang biasa dipakai sebagai landasan dasar untuk menciptakan budaya keselamatan.

Prinsip itu, antara lain utamakan keselamatan, selalu ada proses untuk mengerjakan sesuatu dengan selamat,semua kecelakaan bisa dihindarkan, zero accident bisa diwujudkan asalkan ada komitmen,semua pekerjaan harus direncanakan untuk diselesaikan dengan keselamatan,keselamatan adalah tanggung jawab semua orang, patuhi semua aturan dan perundangan keselamatan yang berlaku, kelola lingkungan secara bijaksana, patuhi batas-batas keselamatan, pastikan adanya alat pengaman yang akurat, dan lain sebagainya. (usman/info)