VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Anak Bangsa Sendiri Juga Bisa PDF Print
Saturday, 04 September 2010
JIKAtidak terganjal perizinan,seharusnya sejak 17 Agustus lalu pasar automotif Indonesia sudah diwarnai dengan hadirnya produk dalam negeri,yakni mobil Esemka.


Sesuai dengan namanya,mobil ini adalah karya siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). Sebelumnya banyak orang memandang sebelah mata kepada sekolah dan siswa SMK.Mereka banyak dinilai hanya bisa memperbaiki dan melakukan perawatan kendaraan. Setelah lulus mereka juga diperkirakan Cuma menjadi teknisi yang bekerja di bengkel dan perusahaan perakitan. Tetapi, pandangan itu harus diubah.Terbukti,melalui bimbingan para pakar mobil di Indonesia, para siswa SMK ternyata mampu merakit sejumlah model mobil yang bisa menjadi embrio mobil nasional yang telah lama didambakan.

Tenaga Ahli Direktorat Pembinaan SMK Ari Setiawan mengungkapkan, saat ini ada tiga mobil Esemka yang terdiri dari model sport utility vehicle (SUV), double cabin (kabin ganda), dan pick-up yang sedang menjalani uji kelayakan jalan di tingkat Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Pengujian di lembaga pemerintah tersebut meliputi pengujian dimensi dan performa. Bila langkah- langkah ini selesai dilewati, barulah mobil Esemka tersebut bisa resmi diluncurkan.”Kalau izin dari Kemenperin sudah masuk mungkin bulan depan bisa kita luncurkan karena kita juga perlu menyiapkan sekolah-sekolah SMK yang akan jadi service center-nya,” demikian tutur Ari pertengahan bulan lalu.

Sebenarnya bukan hanya tiga model tersebut yang berhasil diproduksi siswa-siswa SMK. Mobil Esemka memiliki lima jenis varian yakni SUV, pick-up double cabin, sedan,pick-up single cabin,dan van. Namun, tidak semua sekolah dan siswa SMK berkonsentrasi menciptakan mobil dalam negeri. SMK 1 Singosari Malang, Jawa Timur, terlihat lebih menonjol dari SMK yang lain dalam perakitan mobil. Kemungkinan mobil Esemka SUV akan dibandrol Rp175 juta. Mobil Esemka SUV dari Singosari ini diberi nama Esemka Rajawali. Selain SMK 1 Singosari, beberapa SMK lain juga merakit mobil Esemka yaitu SMK 2 Solo, SMK 5 Solo, SMK Warga Solo, dan SMK Muhammadiyah Borobudur.

Selain Rajawali,ada Esemka Digdaya yang bermodel double cabin.Mobil Esemka Digdaya menggunakan penggerak empat roda atau 4?4 dengan DOHC injection buatan siswa SMKN 1 Singosari dengan mengusung mesin 1.500 cc. Sanggup mencapai 76 km pada 5.500 rpm dan pada putaran 4.000 rpm bisa mencapai torsi maksimal 147 Nm.Kedua mobil ini nantinya akan mengadopsi mesin berkapasitas 1.800 cc, 2.000 cc, 2.200 cc, dan diesel 2.500 cc. SMK Singosari menjadi yang terdepan dalam memproduksi mobil Esemka.

Menurut Direktur SMK Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Joko Sutrisno sebagaimana dilansir Antara, SMK 1 Singosari memiliki keunggulan di bidang automotif karena program keahliannya membuat siswa menjadi tenaga terampil. Baik di bidang perbaikan dan perawatan automotif serta penguasaan teknologi mekanik. Menurutnya, saat ini karoseri mobil buatan siswa SMK ini sudah semakin halus seperti produk mobil buatan Jepang.Suara mesinnya pun sudah lebih halus terdengar sehingga layak untuk dipakai buat aktivitas harian. Teknologi mekanik yang dikembangkan SMKN 1 Singosari meliputi perbaikan motor bakar, kelistrikan,dan rangka kendaraan.

Siswa dibekali kemampuan dasar kelistrikan, pengelasan, perbaikan, dan penyusunan ulang.Dengan kemampuan seperti itu, Joko berharap, SMK dilibatkan dalam pengembangan industri manufaktur Indonesia. ”Industri manufaktur seperti automotif akan tumbuh dan bisa diawali peran SMK,”ujarnya optimistis. Mobil-mobil Esemka sejak tahun lalu banyak mendapatkan perhatian masyarakat. Dalam sejumlah pameran mobil-mobil Esemka kerap mendapatkan pujian. Misalnya pada pameran perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun lalu di ITB Bandung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat membubuhkan tanda tangan di mobil Esemka. Presiden SBY juga berharap karya ini bisa dilanjutkan.

Hal ini tentunya merupakan wujud dukungan pemerintah. Kehadiran mobil-mobil produksi dalam negeri hasil kreasi para siswa SMK juga mendapat dukungan positif dari Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Sebagaimana yang disampaikan Ketua III Gaikindo Johnny Darmawan, kehadiran mobil-mobil Esemka ini patut didukung semua pihak.”Kita harus memberi support. Bila melihat jiwa inovatifnya, itu yang tidak ada di generasi sekarang,” tegas dia (okezone18/8). Johnny menuturkan, Gaikindo sebagai wadah penampung para agen tunggal pemegang merek (ATPM) dan produsen mobil di Indonesia sangat mendukung apa yang dilakukan siswa SMK di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu.

”Ini tandanya mereka mulai belajar bagaimana cara membuat mobil. Kita patut puji kreativitas mereka. Gaikindo dengan senang hati akan mendukung,”tegas Johnny. Dia mengatakan, kreativitas akan inovasi teknologi di bidang automotif tersebut harus terus dimotivasi agar makin hari semakin membaik. ”Semua ini jangan dimatikan, harus terus ditingkatkan,” ucapnya. Kreativitas SMK juga mendapatkan dukungan dunia industri. Bukan hanya di bidang mobil, sejumlah produk lain juga mengalir dari SMK.

Misalnya produk motor yang bekerja sama dengan produsen Kanzen yang menghasilkan Esemka Kanzen. Begitu juga di teknologi informasi (TI) siswa SMK ”menggandeng” Zyrex, perusahaan komputer lokal, untuk membuat laptop dengan mereka Esemka Zyrex.Kerja sama di TI juga dilakukan dengan perusahaan yang menghasilkan merek ”Nec” sehingga muncul mereka baru NecSMK. Sementara itu, SMK Penerbangan Kartika Aqsa Bhakti Semarang dan SMK Negeri 29 Jakarta mampu menghadirkan pesawat ”Jabiru J200”.

Muatan lokal terlihat dalam produk ini karena memang 55% hasil karya rakitan kedua, sedangkan sisanya berasal dari Australia. Produk ini berjenis pesawat latih dan pesawat pribadi dengan kapasitas dua orang penumpang. Tetapi, komponen pesawat ini sebagian besar masih impor. Sejumlah kreativitas dan terobosan ini tentunya diharapkan terus berlanjut agar produksi dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Jika siswa di tingkat sekolah menengah atas saja bisa memberikan harapan tinggi, harapan yang lebih besar tentunya juga dilayangkan pada pihak lain yang mempunyai jenjang pendidikan lebih tinggi. (abdul malik/islahuddin)