|
||||||||||||||||||
| Kreasi yang Lahir dari Laboratorium |
|
|
| Saturday, 04 September 2010 | |
|
SEJUMLAH produk hasil kreasi anak bangsa muncul dari balik kampus.
Kreativitas para mahasiswa,peneliti kampus bukan tidak mungkin bisa
menjadi produk yang membanggakan.
Laboratorium menjadi kawah candradimuka mobil nasional. Salah satu mobil yang berasal dari meja laboratorium adalah Arina. Mobil ini dihasilkan dari kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes). Maka tidak heran jika Arina adalah singkatan dari Armada Indonesia buatan Unnes.Arina dirancang Widya Aryadi,dosen di jurusan Teknik Mesin Unnes,bersama enam mahasiswanya pada 2006. Arina mempunyai mesin berkapasitas mesin 150 cc. Mampu mencapai kecepatan hingga 70 km/jam. Konsumsi bahan bakar cukup hemat yaitu mencapai 40 km untuk 1 liter bensin. Mobil mikro Arina terus dikembangkan sehingga menjadi 100% buatan Indonesia.Harganya pun hanya sekitar Rp30 juta per unit. Jika dilihat dari bentuknya,Arina terlihat seperti perpaduan bajaj yang bergaya Karimun (Suzuki).Mobil ini bisa memuat 3-4 orang.Arina memiliki panjang keseluruhan 1,8 meter dan lebar 1,0 meter.Rangka depan mobil ini diadopsi dari rangka sepeda motor Scudeto 125cc. Sehingga tidak salah jika Arina disebut mobil bermesin sepeda motor. Kini dengan hasil karyanya itu,Widya Aryadi tidak sekadar dosen. Wiyda juga aktif di Asosiasi Industri Automotif Nusantara (Asia Nusa) sebagai ketua bidang teknologi dan aktif memasarkan Arina yang menjadi kebanggaannya. Arina pernah hadir di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) ke-17 tahun lalu walau belum melakukan penjualan. Mobil lain yang lahir dari kalangan akademisi di kampus adalah Wakaba (Wahana Karya Bangsa). Pengembangan mobil bermesin bensin 500 cc ini dilakukan di Universitas Pasundan (Unpas) dengan melibatkan tiga orang peneliti dan 12 mahasiswa. Dana pengembangannya selain dari Pemda Jawa Barat juga dari Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) serta Unpas dan Working Group yang menghabiskan dana lebih dari Rp200 juta. Mesin yang dipakai buatan BPPT Kementerian Ristek dengan tingkat kecepatan yang low speed. Yang terbaru dari mobil hasil kreasi anak negeri adalah mobil Sapu Angin. Mobil ini dikembangkan oleh tim dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Dengan berbahan bakar gasolin, Sapu Angin merupakan mobil hemat energi dan ramah lingkungan.Hanya dibutuhkan 1 liter bahan bakar mampu menempuh jarak 1.000 km dan ada juga yang hanya menempuh 300 km. Mobil ini murni kreasi tim Fakultas Teknik Mesin ITS dan pengerjaan seluruhnya di ITS. Ide pembuatan Sapu Angin ini berawak satu terinspirasi dari model mobil serupa yang dibuat di Amerika.Rangka dan bodi mobil terintegrasi sehingga menghemat bahan bakar. Tim terdiri dari 14 mahasiswa teknik mesin ini sudah terbentuk sejak Agustus 2009 dan langsung melakukan riset dan pengerjaan teknis.Seluruh tim bekerja all outdan didampingi oleh dosen. Pada Juli lalu tim mobil perkotaan ”Sapu Angin 2” ITS berhasil menjuarai lomba mobil hemat energi se-Asia di Malaysia. Tim ini menantang pemerintah untuk mewujudkan kemandirian di sektor automotif. ”Kalau dibanding negara lain, ternyata bangsa kita tidak kalah dengan bangsa-bangsa di Asia,”kata pengemudi mobil ”Sapu Angin 2” Alfian Hudan Nuzula sebagaimana dilansir Antara. Jika melihat berbagai kreativitas yang menghasilkan berbagai produk asli Indonesia, optimisme akan hadirnya banyak produk asli Indonesia semakin jelas.Namun, produk yang dihasilkan sejumlah peneliti termasuk dari perguruan tinggi tersebut tentunya tidak bisa hanya berhenti di kegiatan penelitian saja. Jika hal itu yang terjadi maka,produk yang dihasilkan sangat minim dan mungkin saja masih sulit diterima masyarakat. Apalagi akan menjadi primadona yang akan dipakai secara luas. Menurut Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, pembangunan iptek harus terintegrasi dengan baik ke dalam proses pembangunan ekonomi secara khusus dan pembangunan nasional secara umum. Sehingga, bisa mewujudkan pembangunan nasional yang bernilai tambah tinggi (high value-added) dan berkelanjutan.Hal ini disampaikan Suharna usai melantik sejumlah pejabat baru eselon II,III dan IV lingkungan Kementerian Ristek Juni lalu. (abdul malik/islahuddin) |