VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Aktivitas Sinabung Meningkat Lagi PDF Print
Friday, 03 September 2010
Image

MENGUNGSI LAGI Warga Desa Perteguhan, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, kembali mengungsi dari sejumlah lokasi pengungsian menuju lokasi yang lebih aman, setelah aktivitas Gunung Sinabung meningkat lagi tadi malam. Foto diambil sekitar pukul 23.55 WIB.


KABANJAHE(SINDO) – Aktivitas Gunung Sinabung meningkat lagi tadi malam,mulai sekitar pukul 19.30 WIB.Kepala Pusat Vulkanologi,Mitigasi,dan Bencana Geologi (PVMBG) Surono bahkan mengkhawatirkan Gunung Sinabung dapat meletus kembali.

Secara khusus Surono lewat pesan singkatnya (short message service/ SMS) kepada SINDO meminta warga, khususnya yang masih berada di Desa Sukanalu, Kecamatan Naman Teran, segera meninggalkan wilayah itu. Keadaan itu jelas membuat warga menjadi panik, karena warga sebelumnya mengira keadaan sudah membaik, sehingga mereka bisa tidur lebih cepat. Dari hasil pantauan SINDO, warga yang sebagian sudah tertidur terpaksa harus bangun dan segera meninggalkan desa itu. Hingga dini hari tadi,warga terlihat begitu panik. Mereka berusaha sekuat tenaga meninggalkan lokasi. Para penjaga desa yang sebelumnya ditempatkan sebanyak lima orang di sekitar kaki Gunung Sinabung juga sudah dievakuasi ke luar desa dengan sepeda motor dan mobil, termasuk petugas kepolisian yang berjaga-jaga di desa.

Bukan itu saja, Surono saat dihubungi kembali via telepon seluler juga sempat mengatakan dirinya harus menyelamatkan diri bersama- sama warga dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Meski pun begitu, masih ada beberapa petugas kepolisian terlihat mengarahkan warga untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.Warga terlihat bergerak ke arah Simpang Empat menuju Berastagi atau Kabanjahe. Surono menggambarkan secara singkat bahwa getaran gempa di kawasan kaki Gunung Sinabung semakin intens. “Ya, aktivitas Sinabung meningkat,getaran gempa sangat intens.

Sudah ya,” ucapnya singkat sambil mengakhiri telepon saat dihubungi tadi malam Keadaan tadi malam sangat berbeda dengan kondisi pada pagi hingga sore hari. Ribuan pengungsi terlihat pulang ke kediamannya ataupun mengurusi ladang kian tak terbendung. Mereka pun mengabaikan peringatan bahwa aktivitas Gunung Sinabung masih tinggi dan diminta menjauh dari radius 6 kilometer. Mereka yang sebelumnya mengungsi di sejumlah tempat, kemarin semakin banyak mendatangi ladang.Warga tetap memilih bekerja walaupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) belum menurunkan status gunung yang sejak Minggu lalu dinyatakan awas. Namun,warga berkilah sengaja menentang peringatan PVMBG.

Kepulangan mereka ke desa hanya untuk sementara, sebab setelah bekerja mulai pagi, sore hari kembali ke pengungsian. “Ini (Gunung Sinabung) tampaknya sudah biasa-biasa. Sudah tidak ada lagi tercium bau belerang dan debu. Tapi, kami pun masih sangsi juga dengan kondisi seperti ini,” kata seorang warga Lias Bangun, 45, saat ditemui di ladangnya di Desa Sukandebi, Kecamatan Naman Teran, Karo kemarin pagi. Lias yang bekerja bersama suami dan lima pekerjanya baru tiba pukul 05.00 WIB dari pengungsian di Medan. Desa Sukandeli diperkirakan hanya beradius sekitar 5 km di sebelah tenggara Sinabung. Berbeda dengan Lias, Ahmad Rizki Sitepu, 25, warga desa yang sama memilih tidak pergi ke ladang walau dia sudah kembali dari pengungsian sejak tiga hari lalu.

Dia hanya berjaga di desa bersama pemuda lainnya. Geliat kehidupan di sejumlah desa yang berada kawasan Sinabung sejak kemarin berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Berdasarkan pantauan, beberapa desa yang berada di sepanjang jalan raya dari Kecamatan Payung hingga Kecamatan Tiganderket sudah ramai penduduk. Di sepanjang jalan yang menghubungkan Kabupaten Karo dengan Kabupaten Dairi ini banyak warung yang sudah buka. Namun, di tiga desa di Kecamatan Payung, yakni Suka Meriah, Guru Kinayan dan Selandi, yang paling dekat Sinabung masih sepi. Hal yang sama juga terlihat di tiga desa terdekat dengan Sinabung di Kecamatan Tiganderket, yakni Mardingding, Kuta Baru dan Perbagi.

Namun, di Kecamatan Naman Teran, tujuh desa yang harus dikosongkan masih sepi. Pada siang hari Surono sempat mengatakan, timnya belum bisa menurunkan status Sinabung dari awas menjadi siaga. Ini disebabkan peningkatan aktivitas vulkanik Sinabung. Berdasarkan data seismik, sejak pukul 00.00-12.00 tercatat 31 kali gempa vulkanik dan delapan kali semburan debu. Namun, gempa ini sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya berkekuatan kecil, yakni di bawah 2 SR.

Semburan debu atau asap yang keluar dari puncak Sinabung masih terus terjadi dengan ketinggian rata-rata 50 meter. Gempa ini meningkat dengan dua hari sebelumnya, di mana sejak pukul 00.00-24.00 tercatat 50 kali gempa vulkanik. Sedangkan tiga hari sebelumnya, tercatat 31 kali gempa vulkanik. “Artinya, aktivitas vulkaniknya masih terus meningkat. Oleh karena itu masih belum bisa diturunkan statusnya,” ucapnya. Mengenai banyaknya warga yang tidak mengindahkan imbauan PVMBG, Surono enggan memberi tanggapan karena bisa menimbulkan perdebatan. Dia mengembalikan masalah ini kepada kesadaran warga yang disarankan harus mengosongkan desa dari radius 6 km dari Sinabung.“Yang penting rekomendasi kita sudah jelas dan tegas,” tandasnya.

Pengungsi Kecewa Dipindahkan

Sebelumnya sekitar 3.500 pengungsi korban letusan Gunung Sinabung yang mengungsi di Jambur Lige Kabanjahe dipindahkan ke tempat lain yang tidak jauh dari situ. Pemindahan ini karena hari ini akan diadakan pesta perkawinan di jambur tersebut. Sebulan sebelumnya, jambur tersebut memang sudah dipesan untuk acara ini. “Di mana tanggung jawab pemerintah kepada pengungsi ini. Hanya karena pesta kami yang harus dikorbankan,” kata Sampang Sitepu, pengungsi dari Desa Guru Kinayan,Kecamatan Payung. Keluhan yang sama juga diungkapkan Ferdinan Sembiring, pengungsi dari Desa Simacem, Kecamatan Naman Teran.

Dia hanya bisa bergegas meninggalkan jambur bersama seorang anaknya. Menurut koordinator pengungsi di Jambur Lige, Kiniulin Surbakti, pengungsi ini dipindahkan ke dua lokasi berbeda hanya satu hari. Hari ini juga mereka bisa kembali ke Jambur Lige setelah pesta usai. Para pengungsi dibagi dua.Warga dari Desa Berastepu, Desa Simacem dan Desa Bekerah dipindahkan ke Jambur Haloho di Jalan Irian Kabanjahe. Sementara warga dari Desa Guru Kinayan dipindahkan ke GPDI Jalan Kutacane Kabanjahe. Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Karo Makmur Ginting, Jambur Lige merupakan milik pribadi yang biasa disewakan untuk acara-acara adat.

Oleh karena itu, pemerintah tidak bisa berbuat banyak atas pemindahan tersebut. Kemarin, 3.500 pengungsi korban letusan Gunung Sinabung yang mengungsi di Jambur Lige Kabanjahe dipindahkan ke tempat lain yang tidak jauh dari situ. Pemindahan ini karena hari ini akan diadakan pesta perkawinan di jambur tersebut. Sebulan sebelumnya, jambur tersebut memang sudah dipesan untuk acara ini.

Debu Vulkanik Tidak Berbahaya

Hasil uji laboratorium yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan selama dua hari menyimpulkan debu vulkanik dari muntahan Gunung Sinabung masih cukup aman bagi kesehatan masyarakat. Kepala Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Regional Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kementerian Kesehatan Ansari mengatakan, hasil pemeriksaan di laboratorium terhadap debu vulkanik terdapat partikel CO2 dan H2X yang mengandung gas.

Dua kandungan ini memang berbahaya, karena gas ini bisa menyebabkan keracunan yang mampu menyerang syaraf dan kematian. “Namun, saat ini kadarnya masih di bawah ambang batas, dan masuk katagori aman,” ujarnya. Selain kedua partikel itu, ada juga NO2 dan SO2 yang ternyata ada kandungan gas berbahaya. “Kesimpulan kita aman, namun karena kuantitas debunya banyak pasti menggangu pernafasan dan penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) yang paling berpeluang mengenai pengungsi,” ungkapnya. Menyoal sayuran yang terkena debu, menurut Ansari, juga aman untuk dimakan, sepanjang dicuci bersih.

“Sebenarnya sayurannya tidak aman, karena letusan gunung di Senin (30/8) pagi yang masih tersisa. Lantaran debu tidak melekat di daun, maka sayuran bisa dikonsumsi sepanjang dicuci bersih. Begitu juga dengan sungai yang airnya masih bisa digunakan karena air yang terus mengalir,” imbuhnya. Dia juga menjelaskan soal keselamatan hewan ternak. Sejauh ini dia mendata tak ada satupun hewan yang sakit karena aktivitas gunung yang menyemburkan debu maupun lahar. “Untuk ternak mungkin pengaruhnya pada perut seperti menceret.Tapi, setahu saya hingga saat ini belum ada yang terkena,” pungkasnya.

Warga Gelar Ritual Sinabung

Sejak kemarin malam, Sinabung terus tertutup kabut. Kabut yang cukup tebal ini menutupi gunung dan desa di bawahnya hingga sore hari. Kabut sempat menipis pada pukul 09.00-11.00, saat sejumlah tokoh masyarakat dari beberapa desa di Kecamatan Naman Teran menggelar ritual di Desa Suka Nalu. Ritual ini digelar di bawah sebuah pohon yang tidak jauh dari desa.

Warga meletakkan sirih yang biasa dimakan kaum perempuan Karo di bawah pohon itu. Mereka juga menghidupkan rokok yang dijepitkan pada kayu yang ditancapkan ke tanah. Dalam ritual ini, dua perempuan yang dianggap sebagai keturunan leluhur desa sempat kerasukan. Mereka berbicara tentang kondisi Sinabung yang belakangan tidak mendapat perhtian dari masyarakat. (rijan irnando purba/ suharmansyah/nina rialita)   

 
covermedan