|
||||||||||||||||||
| Polisi Dalami Dugaan Kelalaian |
|
|
| Friday, 03 September 2010 | |
|
MAKASSAR (SINDO) – Penyidik kepolisian belum bisa memastikan asal
muasal dugaan zat beracun arsenik yang terkandung pada hidangan takjil
yang menyebabkan tewasnya delapan warga Dusun Salopuru, Desa Passappa,
Kec Pujananting,Kab Barru,Rabu(1/9). Hingga kemarin,Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri Cabang Makassar dan Tim Food Sekurity Polda Sulselbar masih meneliti sejumlah sampel makanan dan air liur korban. ”Kuat dugaan musibah keracunan arsenik ini lebih disebabkan oleh kelalaian warga,”ungkap Kapolda Sulselbar Irjen Pol Johny Wainal Usman,kemarin. Dia mengungkapkan, sampai saat ini polisi belum menemukan adanya unsur kesengajaan atas musibah nahas yang menimpa warga Barru. Yang paling kuat, kata dia,adalah faktor kelalaian. Johny yang ditemui di selasela Apel Gelar Pasukan Pengamanan Lebaran 1430 Hijriah di Lapangan Karebosi pagi kemarin. Dia mengatakan, di lokasi kejadian ditemukan sejumlah bungkusan racun hama tanaman serta racun binatang, yang kemungkinan secara tidak sengaja tercampur ke dalam hidangan makanan berbuka puasa tersebut. ”Ada semacam bubuk pembasmi rumput, racun tikus, serta racun babi yang kita amankan. Ratarata juga di sekitar TKP warganya bekerja sebagai petani. Ini murni keteledoran dan penyidik masih mendalaminya,” ujar jenderal berbintang dua ini. Bisa saja, lanjut mantan Waka Brimob Polri ini,warga yang membuat hidangan tersebut bisa secara tidak sengaja mencampurkan bubuk yang mengandung arsenik ini ke dalam adonan. ”Mungkin tidak tahu membedakan, dan mengira bubuk arsen itu sebagai bahan makanan,”bebernya. Meski demikian,pihaknya juga masih menunggu perkembangan hasil dari penyelidikan Puslabfor Mabes Polri Cabang Makassar dan Tim Food Sekurity Polda, untuk mengetahui dari mana bahan makanan mana zat berbahaya ini bisa berada di dalam menu takjil. Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabidokkes) Polda Sulselbar Kombes Budyo Prasetyo menyebutkan,seluruh hasil pengujian sampel makanan telah diserahkan kepada Tim Puslabfor untuk diteliti lebih lanjut. Perwira tiga melati ini menegaskan, zat arsenik yang dikomsumsi warga sudah melewati ambang batas normal pemakaian,sehingga terhadap warga yang menyantapnya, bisa terserang keracunan akut karena dosisnya sangat tinggi.”Dari hasil penelitian awal,kami menemukan kandungan arsenik di atas 1,7 miligram di makanan warga.Berapa kadarnya kami belum tahu,yang jelas ini sudah sangat mematikan sehingga menyebabkan delapan warga tewas hampir bersamaan,”kata dia. Sedangkan terhadap tujuh warga yang selamat,lanjut Budyo Prasetyo,itu dikarenakan daya tahan tubuhnya masih cukup memungkinkan untuk melawan zat beracun itu. Meski,hingga kini ketujuh warga tersebut masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Wahidin Sudirohusodo. ”Kami masih teliti kandungannya dari bahan makanan apa. Racun ini sangat cepat bekerja karena dosisnya yang cukup tinggi. Kalau sampai 3 miligram,ini sudah sangat mematikan,” tambah Budyo didampingi Ketua Tim Food Sekurity Polda Mauluddin Mansyur kemarin. Terpisah, Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Hery Subiansauri menyatakan, dua korban selamat atas kasus ini akan dimintai keterangannya secara intensif, karena diketahui sebagai pembuat hidangan takjil yang diduga beracun. Kedua korban selamat tersebut diketahui bernama Nurlela dan Ani, yang kini masih terbaring lemah di RSU Wahidin Sudirohusodo.” Dari mereka inilah kami akan mengorek apa-apa saja yang dicampurkan sebagai bahan makanan pembuat kue dadar.Hanya, kita masih menunggu kondisinya membaik,”lanjut Hery. Dari pantauan SINDO di RSU Wahidin,ketujuh korban tersebut masih menjalani perawatan intensif. Enam korban dirawat di Ruang Perawatan Lontara VI,dan Nurlela dirawat di Ruang Lontara I.”Dari laporan yang kami terima, semua korbannya sudah membaik dan kembali sadar.Kesehatannya sudah ada perkembangan, namun belum bisa dimintai keterangan,” aku Kabid Humas. Diberitakan, takjil maut menelan delapan korban,masing-masing Mami,14,Asni,13,Syamsidar, 19, I Pasau, 6O, Iwaleng Ambo Sattu, 70, Rehan, 2, Sami, 23, dan Juheni, 31.Tujuh korban selamat yang saat ini dirawat RSU Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar, Akbar,12,Lela,26,Ambo Tang,30, Tawe, 25, Aco, 2, Masnia, 8, dan Yusri,12.Dua korban selamat lainnya yang kondisinya tidak terlalu parah, Sakka, 55 dan Ilyas, 56 dirawat di rumah masing-masing. Perketat Pengawasan Terkait musibah yang menimpa warga Dusun Salopuru, Desa Passappa, Kec Pujananting,Kab Barru, anggota DPRD Sulsel meminta Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) memperketat pengawasan penjualan obat dan makanan di pasar-pasar tradisional di seluruh wilayah Sulsel. Pengawasan itu dilakukan dengan menggandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), apalagi selama periode Ramadan ini tingkat konsumsi masyarakat cenderung mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hari biasa. Anggota Komisi E DPRD Sulsel Kadir Halid mengatakan, pengawasan terhadap peredaran makanan kadaluarsa dan juga tidak layak konsumsi lainnya perlu diperiksa karena tidak tertutup kemungkinan masih diperjual belikan secara bebas di pasarpasar tradisional. ”BPOM bersama dengan Disperindag perlu mengintensifkan pengawasan terhadap peredaran obat dan makanan, utamanya yang telah kadaluarsa. Hal ini perlu dilakukan agar kejadian keracunan makanan seperti yang terjadi di Barru, tidak terjadi di daerah lain,utamanya selama Ramadan,” tandasnya di Gedung DPRD Sulsel kemarin. Sementara itu,mengenaipengawasan takjil saat Ramadan,BPOM Makassar mengaku sudah melakukan pengawasan terhadap penjualan jajanan buka puasa di sejumlah pasar tradisional di Makassar. Hanya saja, kasus di Barru agak berbeda karena menu berbuka puasa itu dibuat sendiri atau tidak dibeli jadi dari pasar tradisional. Berdasarkan pemantauan jajanan saat Ramadan di enam lokasi, sejak awal Ramadan, Kepala BPOM Makassar Maringan Silitonga mengatakan, dari 60 sampel yang diteliti tercatat 25 takjil mengandung bahan berbahaya atau rhodamin B. Enam lokasi itu,Pasar Terong, Pasar Pa’baeng-baeng, Pasar Maricaya, jajanan buka puasa Mappanyukki, di kabupaten Maros dan di kabupaten Gowa. Selanjutnya, kata dia, BPOM kini fokus melakukan pengawasan makanan yang dijadikan parcel. Rencananya, hari ini, BPOM kembali turun melakukan pengawasan di sejumlah wilayah yang banyak menjual paket parcel. (wahyudi/ yakin achmad/ suwarny dammar) |