|
||||||||||||||||||
| Kepuasan Publik terhadap SBY Menurun |
|
|
| Thursday, 02 September 2010 | |
|
JAKARTA(SINDO) – Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menurun dalam setahun terakhir.Respons
pemerintah dinilai lamban terhadap isu penting. Survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam bulan Agustus ini menunjukkan kepuasan terhadap kinerja SBY berada pada level 66%, turun 19% dari tahun lalu yang berada pada level 85%. Survei LSI yang dilakukan pada Agustus 2010 dengan populasi survei seluruh WNI yang punya hak pilih dengan sampel 1.829 responden. Tingkat kepercayaan survei ini sebesar 95% dengan margin of error +/-2,8%. Dana survei berasal dari Yayasan Pengembangan Demokrasi Indonesia (YPDI).
Menurut Direktur Eksekutif LSI,Kuskrido Ambardi, ada beberapa isu penting yang memengaruhi kepuasan masyarakat terhadap kinerja SBY. Dua yang paling kuat adalah ledakan tabung gas dan kenaikan tarif dasar listrik. Untuk kasus ledakan tabung gas, proporsi responden yang mengetahui kasus ini adalah 91% atau sembilan dari 10 orang. Dari mereka yang tahu isu ledakan tabung gas itu,mayoritas menilai bahwa mereka kurang puas atau tidak puas sama sekali dengan cara penanganan masalahnya. Persentase kedua kategori ini mendekati 77%. ”Proporsi mereka yang kurang puas atau tidak puas itu di atas 70%,”katanya di Jakarta kemarin. Soal kenaikan TDL, sebagian besar responden atau 65,7% tidak setuju kenaikan TDL dengan alasan apa pun.Kebijakan pemerintah untuk menaikkan TDL dinilai memberikan pengaruh terhadap penurunan kepuasan kinerja SBY. Kesimpulan survei itu menyebutkan bahwa masyarakat cenderung menilai negatif atas respons pemerintah terhadap isu-isu yang krusial. ”Sikap partisan dari masyarakat tidak berpengaruh atas evaluasi mereka terhadap cara penanganan pemerintah terhadap dua isu populer di masyarakat,” kata Dodi menjelaskan. Meski turun, kepuasan terhadap kinerja SBY masih cukup tinggi. Masyarakat yang merasa puas dengan kinerja SBY sebagian besar berpendidikan rendah, berada di desa, dan lebih banyak ditemui di Indonesia timur. ”Faktor pendidikan berpengaruh terhadap tingkat kepuasan terhadap Presiden. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah tingkat kepuasan mereka terhadap kinerja Presiden,”kata Dodi. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman mengatakan, dengan gencarnya pemberitaan terhadap isu-isu penting, kepuasan terhadap kinerja Presiden SBY wajar turun. Namun, penurunan itu masih membuat kinerja SBY masih dalam kelompok tinggi. Terbukti, dukungan terhadap Partai Demokrat masih yang tertinggi yakni 26,6% ”Itu menunjukkan kepercayaan terhadap pemerintah masih tinggi. Meski, pemerintah juga harus melakukan koreksi,” katanya. Menurunnya kepuasan terhadap kinerja SBY memberikan dampak kenaikan dukungan terhadap PDIP sebagai partai oposisi. Bila Pemilu dilakukan pada bulan Agustus ini, maka PDIP mengalami kenaikan signifikan, yaitu bila pada April lalu hanya 9%,maka Agustus ini meningkat menjadi 15%. ”Rakyat memang tidak puas dengan TDL yang naik dan gas elpiji yang bocor dan meledak,” kata politikus senior PDIP Pramono Anung. Pramono meyakini, meski survei LSI tidak mencantumkan elektabilitas, penurunan kepuasan terhadap kinerja SBY akan memberikan pengaruh signifikan terhadap elektabilitas SBY. ”Saya kira, itu jadi alasan yang sulit ditolak bahwa tidak perlu perpanjangan masa jabatan presiden,” katanya. Jika PDIP naik,tidak demikian dengan Partai Golkar.Meski relatif memberikan kritik terhadap pemerintah, dukungan Golkar menurun. Pada April 2009 lalu, Golkar mendapat dukungan 14%, dan pada survei Agustus ini, Golkar turun menjadi 12%. Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengaku heran dengan perolehan Golkar itu. Mestinya, dengan kritik yang dilontarkan, dukungan terhadap Golkar patutnya naik ketika kepuasan terhadap kinerja SBY turun. Jika penurunan terhadap dukungan Golkar ini terus terjadi hingga 1–2 tahun ke depan, tidak menutup kemungkinan Golkar akan menghitung ulang posisi politik mereka yang kini bergabung dengan koalisi. ”Kan masih ada tahun-tahun depan. Kita ingin sih mendukung hingga tuntas,” katanya. Hanya, Priyo enggan memberikan komentar apakah penurunan dukungan terhadap Golkar karena peran yang diberikan terhadap partai berlambang beringin itu masih belum optimal. (helmi firdaus) |