VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
TAJUK, Prioritas pada Lalu Lintas PDF Print
Thursday, 02 September 2010
PENINGKATAN jumlah kendaraan dan keterbatasan jalan tidak hanya problem yang dimiliki Ibu Kota Jakarta. Problem ini akan terasa setiap tahunnya,terutama ketika musim mudik Lebaran tiba.

Tidak mengherankan jika pada kondisi puncak,kemacetan parah mudah terlihat. Fenomena yang bakal terulang kembali seperti tahun-tahun sebelumnya adalah penggunaan sepeda motor sebagai alat transportasi untuk mudik. Jika mobil untuk mudik yang diprediksi berjumlah 1.373.916 unit dan sepeda motor yang berjumlah 3.617.666 unit tumplek blek pada jalur yang sama,bisa dibayangkan dampak kemacetan yang akan dirasakan. Beberapa tahun belakangan, kemacetan di jalur pantai utara Jawa bahkan mencapai belasan kilometer. Begitu juga di jalur selatan Jawa.

Waktu tempuh Jakarta-Solo misalnya,yang pada saat normal berkisar 8–10 jam, pada musim mudik bisa ditempuh minimal 24 jam.Tentu hal yang sangat menyiksa berada di jalan dalam kurun waktu selama itu,belum lagi pemborosan bahan bakar akibat kemacetan. Ada dua unsur penting yang terlibat dalam setiap perjalanan mudik. Dua unsur ini akan sangat berpengaruh dalam menciptakan suasana perjalanan mudik yang aman dan lancar. Pertama adalah para pemudik.

Jika ingin aman dan lancar,pemudik harus disiplin. Selama ini, kemacetan banyak terjadi karena pemudik menyerobot lajur dari arah yang berlawanan.Akibatnya, arus lalu lintas dari arah berlawanan menjadi tersumbat.Perilaku ini terjadi di banyak titik jalan di pantura maupun jalur selatan. Jika sudah sulit diurai, kemacetan bisa berjam-jam. Pemudik seperti ini adalah tipe-tipe yang merasa seakan-akan dialah penguasa jalanan.

Bagi aparat kepolisian, perilaku seperti ini harus ditindak tegas tanpa pandang bulu. Berikutnya,bagi para pemudik juga harus tertanam kesadaran bahwa sepeda motor bukanlah alat transportasi untuk jarah jauh. Lebih baik sepeda motor dikirim lewat paket,mudik tetap dengan moda transportasi yang tersedia. Pengendara sepeda motor selalu mendominasi angka kecelakaan pada setiap musim mudik. Unsur lain yang tidak kalah penting selain pemudik adalah pemerintah.

Instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada rapat kabinet kemarin sudah jelas. Prioritas tugas penanganan mudik adalah pada lalu lintas. Selain pasar tumpah, Presiden juga menekankan pentingnya mengatasi sumbatan-sumbatan lalu lintas yang mendorong timbulnya kemacetan lalu lintas saat mudik Lebaran.Bottle neck harus diantisipasi. Penumpukan arus lalu lintas harus segera diatasi.

Cara penanganan harus jelas.Petugas, terutama kepolisian, harus ada pada saat-saat yang dibutuhkan. Petugas juga harus sigap dalam upaya mengatasi kemacetan.Tidak jarang, sebuah titik kemacetan dibiarkan tanpa terlihat satu pun petugas yang berusaha mengurai.Akibatnya,pemudik yang terjebak kemacetan hanya bisa pasrah menunggu nasib tanpa tahu di mana letak dan apa penyebab kemacetan.Andaikata ada informasi yang jelas,pemudik bisa berpikir untuk kemudian memilih jalur alternatif. Infrastruktur jalur alternatif ini harus betul-betul diperhatikan.

Jalur alternatif bisa sangat berguna untuk mengurangi kepadatan di jalur utama.Problem utama jalur alternatif adalah minim penunjuk arah.Selain itu,di beberapa lokasi jalan tidak mulus. Di luar upaya untuk mengatasi kemacetan, yang paling penting pemerintah harus bisa menyediakan moda transportasi yang murah dan nyaman untuk pemudik.

Beralihnya pemudik ke sepeda motor karena tarif moda transportasi seperti bus dan kereta api pada saat mudik sangat mahal. Perjalanan mudik setiap tahunnya pasti menyisakan pelajaran demi pelajaran agar bisa dibenahi menuju pelayanan lebih baik.Arus mudik tidak bisa dianggap remeh.Penanganan mudik Lebaran harus memperhatikan perkembangan situasi dan perkembangan permasalahan. Lebih penting lagi menemukan solusi yang cepat dan bijak.(*)