|
||||||||||||||||||
| Balita AR Sembuh dari Kecanduan Rokok |
|
|
| Thursday, 02 September 2010 | |
SELESAI TERAPI, Balita AR digendong ibunya, Diana, di Jakarta, kemarin.
JAKARTA (SINDO) – Masih ingat dengan AR,balita asal Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang sempat menjadi sorotan publik karena kebiasaan merokok hingga 40 batang sehari? Kini setelah sebulan menjalani terapi, bocah berusia 2 tahun 8 bulan itu dinyatakan sembuh dari kecanduan rokok. ”Setelah menjalani terapi medis, psikologis dan sosial,AR sudah tidak merokok lagi dan tidak pernah lagi meminta rokok,” ujar Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait dalam acara serah terima balita AR kepada perwakilan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin di Jakarta kemarin. Belajar dari kasus AR yang beritanya menjadi bahan perbincangan hingga di luar negeri,Komnas PA mendesak pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang ketat dan tegas demi melindungi anak dari bahaya rokok. “Pemerintah harus bertanggung jawab dengan memberikan perlindungan khusus bagi anak-anak dari bahaya rokok,”tandasnya. Menurut Arist, upaya membebaskan AR dari jeratan candu rokok telah dilakukan secara intensif sejak sebulan lalu. Proses rehabilitasi dilakukan secara simultan oleh tim terpadu yang terdiri dari Komnas PA,Pusat Terpadu Psikologi Universitas Indonesia, Rumah Sosial Perlindungan Anak (RSPA), dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Hasrifah, pekerja sosial yang menangani terapi AR di RSPA Bambu Apus mengungkapkan, AR sudah distop merokok sejak minggu pertama terapi.Awalnya orang tua AR kewalahan karena anaknya menangis, meronta, dan membenturkan kepala manakala keinginannya untuk merokok tidak dipenuhi. Tim terapis lantas menerapkan terapi bermain untuk mengalihkan perhatian dan keinginan AR akan rokok. “Kita ciptakan lingkungan yang kondusif bagi AR,di mana ada taman, media bermain, dan anakanak seumuran sebagai teman bermain. Begitu dia menangis minta rokok, kita langsung alihkan ke bermain ayunan misalnya. Ini dilakukan terus-menerus dan berkelanjutan sampai dia lupa dengan rokok,”papar Hasrifah. Pernyataan Hasrifah diamini Diana,ibundaAR. Menurut dia,saat ini sang anak sudah tidak meminta rokok lagi kendati melihat orang sedang merokok.“Paling-paling dia mendekat, narik-narik rambutnya (si perokok),dan kadang malah menegur, ‘Bapak jangan merokok di depan saya ya’,”ujarnya menirukan ucapan putranya. Diana pun berjanji sekembalinya ke kampung halaman tidak akan lagi memberikan sebatang rokok pun kepada anaknya. Dia juga akan mengupayakan anaknya bergaul dengan anak-anak seusianya, bukan dengan orang dewasa. (inda s) |