|
||||||||||||||||||
| Pengemis Kiriman Serbu Masjid Agung |
|
|
| Thursday, 02 September 2010 | |
|
PALEMBANG (SINDO) – Semakin mendekati Hari Raya Idul Fitri,jumlah
pengemis di sekitar Masjid Agung Palembang semakin banyak.Diperkirakan,
dalam sehari setidaknya ada 50 pengemis di seputar salah satu masjid
tertua di Palembang ini.
Ketua Forum Pemuda Masjid Agung (Fordama) Ali Ovha mengatakan, sejak awal Ramadan hingga mendekati Idul Fitri, jumlah pengemis terus bertambah.Umumnya, para pengemis merupakan pengemis musiman dari daerah pinggiran Kota Palembang. “Para pengemis ini didatangkan khusus dari daerah pinggiran Kota Palembang. Setahu kami, pagi-pagi mereka diangkut menggunakan mobil pikap oleh pihak tertentu. Selanjutnya, sore hari mereka akan di jemput kembali,” ujar Ali di sekretariat Fordama Yayasan masjid Agung kemarin. Fenomena ini sudah berlangsung hampir setiap Ramadan. Ramainya para pengemis di lingkungan masjid Agung tak terlepas dari banyaknya jamaah yang datang ke rumah ibadah tersebut setiap Ramadan. Para pengemis memanfaatkan momen Ramadan, di mana biasanya setiap orang memperbanyak sedekahnya. Ditambah, mereka biasanya mendapatkan zakat mal dan fitrah yang dibagikan pengurus lembaga amil zakat. “Sejak 2009, pola ini telah diubah, zakat, infak, dan sedekah (ZIS) tidak lagi dibagikan secara langsung, tapi disalurkan melalui pihak panitia amil zakat di setiap RT dan RW masingmasing. Jadi, penyaluran zakat lebih tertib dan tepat sasaran” bebernya. Sejauh ini,kata Ali,keberadaan para pengemis ini belum dianggap mengganggu lingkungan masjid. Sebab, mereka hanya berada sebatas halaman dan tidak masuk hingga mengotori ruangan masjid. “Selama mereka tidak mengganggu khusyukkan ibadah jamaah, hal ini tidak dilarang. Sebab, masjid adalah rumah Allah, milik siapa saja yang ingin menjaga kesuciannya. Terlepas apakah ini ada yang mengoordinasi atau apa,tentunya bukan menjadi wewenang kami,”papar Ali. Kepala Dinas Sosial Kota Palembang Hasbullah Tuwi menuturkan, pengemis-pengemis tersebut merupakan kiriman dari daerah lain.Keberadaan mereka seperti sengaja dilepas oknum tidak bertanggung jawab di daerah perbatasan. ”Demi menanggulangi hal ini, kami terus menggencarkan razia terhadap para gepeng ini,” ucap dia. Menurut Hasbullah, sesuai imbauan Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra, masyarakat diharapkan untuk tidak memberi bantuan kepada pengemis yang datang. Sebaiknya, jika masyarakat tersebut benar-benar ingin membantu, hendaknya disalurkan ke jalur yang benar, seperti panti asuhan atau badan infak dan sedekah.Jadi,manfaat dan peruntukannya lebih jelas. ”Kami harap upaya pemerintah untuk menekan jumlah gepeng ini haruslah diikuti partisipasi masyarakat dengan tidak membiasakan diri memberi sedekah atau sumbangan kepada anjal, gepeng, dan pengemis di jalan-jalan,”imbuhnya. (febria astuti) |