VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Pemberontak,Penyapu Jalan,Pasukan Tak Takut Api PDF Print
Thursday, 02 September 2010
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Dinas Kebakaran Pemkot Surabaya Ari Bekto Iswantoro memang sosok unik.Pria ini merupakan seorang Pramuka sejati yang siap menanggung risiko apapun demi sebuah hal yang diyakininya.

MENJADI pegawai negeri sipil (PNS) tidak menghalanginya untuk tetap kritis. Ia pernah memanjangkan rambutnya sebagai bentuk protes terhadap sistem.

Pada Selasa (31/8) SINDO mendapat kesempatan melakukan wawancara dengan Ari Bekti tepat di hari ulang tahunnya yang ke-49. Ditemui di kantor Dinas Kebakaran Posko Pasar Turi Ari tampak ceria.Potongan rambutnya cepak. Badannya cukup tegap.Uluran tangan dan jabat tangan penuh keakraban menjadi kesan pertama yang melekat pada diri arek Suroboyo ini. ”Kalau tidak pekerjaan yang disukai, pasti yang kerja dalam ruangan sejuk dan semua tersedia,” tutur Ari membuka perbincangan dengan guyonan. ”Citacita saya dulu militer.Namun, karena kurang tinggi, saya gagal,” ungkapnya.

Ari pun mendapat kebahagiaan saat mengikuti kegiatan Pramuka.Ketika masih duduk di STM Khusus Angkatan Laut (STMKAL) Bumi Moro kelas tiga ia sudah mengikuti kursus penyelamatan bawah air. Pada 1982 lulus dari STMKAL, Ari langsung mendapat tawaran kerja dari PT PAL.Tawaran itu ditolaknya karena Ari merasa gajinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Namun,Ari tidak lantas menganggur. Dengan bekal dua sertifikat scuba diving,Ari masuk penyelaman swasta. ”Saya pernah ikut proyek pengangkatan kerangka KRI Gajah Mada.Lantas pada 1984 Ari terlibat proyek peledakan karang di Cilacap.

Pada 1985–1986 saya joint dengan perusahaan dari Inggris untuk proyek anjungan di Kalimantan Timur,” papar pria yang dikaruniai dua anak ini. Nah,pada 1985 itulah Ari mencoba mengubah nasib dengan mengikuti tes PNS. Kemudian, pada 1987 Ari resmi bekerja di Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Pemkot Surabaya. Menjadi PNS belum juga membuat hati Ari tenang. Karena itu, pada 1987–2001 Ari mencari pekerjaan sampingan dengan menjadi sopir taksi part time. Ternyata pekerjaan sampingan ini menyita waktu sehingga Ari terpaksa sering tidak masuk. Namun, Ari tidak peduli karena dia hanya ingin mencari uang tambahan yang halal. Kebiasaan membolos itu tetap tidak bisa ditolerir. Ari pun dimutasi ke Dinas Kebersihan pada 2001–2006.

”Saya menjadi tukang sapu jalan Surabaya Pusat,” ungkap Ari penuh bangga.Masa-masa itu sebenarnya masa hukuman bagi Ari.Namun, bagi pria yang suka makan tempe ini tidak menjadi masalah. ”Saya masih punya kesibukan di luar, yaitu guiding tourism. Saya mendampingi mereka yang menyelam,”ujarnya enteng. Selama kerja di PNS itulah Ari mulai merasa ada ketidakberesan dalam sistem pemerintahan. Dengan sengaja ia pun membiarkan rambut kribonya itu panjang. ”Saya gondrong sejak 2005 sampai 2009. Jadi,waktu nyapu jalan rambut saya juga gondrong.Begitu juga saat masuk menjadi pasukan PMK pada 2007,”katanya terkekeh.

Saat menjadi penyapu jalan ada pengalaman yang tidak terlupakan. ”Dulu ada salah satu masyarakat yang suka memberi uang Rp50.000. Itu sangat berharga bagi yang membutuhkan.Namun, tidak bagi saya.Sebab,saya punya ceperan dari menyelam itu,” ungkapnya sambil tertawa. Ari bersyukur masih ada masyarakat yang peduli wong cilik.Sebab,Ari sendiri sangat suka jika bisa menyelamatkan dan menolong orang lain. Mengapa gondrong? Ari mengaku bahwa itu merupakan bentuk pemberontakan atas sistem yang ada. ”Sebenarnya itu tidak ada larangan untuk memanjangkan rambut.Yang ada itu hanya rambut harus rapi,”tutur Ari lagilagi sambil tertawa.

Cuaca Surabaya yang panas tidak begitu terasa karena berbincang dengan Ari sangat menyenangkan. Dengan rambut gondrongnya itu Ari tetap menjalankan tugas sebagai pasukan PMK. ”Rambut tidak mengganggu karena pakai helm,” imbuhnya. Pria yang suka minum air putih ini tidak pernah melupakan saat pertama kali di lepas di tengah kobaran api. ”Saat itu kebakaran dealer Honda Ramayana Jalan Basuki Rahmat pada 2007. Saya masuk sampai ke lantai tiga. Begitu api berhasil padam ternyata air juga habis. Kondisi sangat gelap, saya sendirian.

Api pun menyala kembali dan saya harus mundur karena air habis,” kenangnya. Saat itu pengalamannya sebagai penyelam benar-benar berguna. ”Saya menyusuri selang air untuk bisa menemukan pintu keluar,”imbuhnya. Pengalaman saat kebakaran Pasar Turi pada 2007 pun tidak terlupakan pula.Pada malam hari saat api membara Ari harus bertahan sejak pukul 20.00–22.30 WIB.Sekitar dua setengah jam itu Ari harus menjinakkan api dari arah depan serta samping kanan dan kiri. ”Saat itu air di lantai setinggi 20 sentimeter mendidih,”tuturnya. Dengan posisi agak jongkok Ari bertahan di dalam gedung melawan serang api dari tiga penjuru.” Kalau saya mundur saya salah karena peralatan sudah saya bawa,”tandasnya.

Akibatnya, Ari harus keluar dari dalam kebakaran dengan cara merangkak karena mengalami kram.Atas kerja keras dan dedikasinya itu, pada 2009 Ari mendapat promosi menjadi kasi pencegahan dan pengendalian dinas kebakaran. Kegembiraan sekaligus kesedihan dirasakan Ari. ”Saya dilantik itu setelah 40 hari istri saya meninggal dunia. Sehari sebelum dilantik itu juga saya baru memotong cepak rambut ini,” ucap pria yang menguasai karate sabuk cokelat ini. Ari tetap tidak berubah. Setelah menjadi kasi dedikasinya tetap tinggi.Senin hingga Jumat Ari tidur di kantornya.Menjadi petugas pemadam kebakaran merupakan panggilan jiwa. ”Seorang Pramuka itu jiwanya satu, menolong dan menyelamatkan,” katanya mantap.

Karena itu, Ari tetap menikmati pekerjaannya. Ia mengaku sering sekali menerima cacian karena dianggap terlambat.”Saya jawab enteng saja,sebelum terbakar telepon dulu PMK dan polisi.Setelah PMK dan polisi datang baru dibakar rumahnya. Kalau seperti itu pasti cepat penangannya,”ujar Ari. Bagi pria berkumis ini, pertanyaan seperti itu tidak mungkin dijawab serius.Terpenting,setelah menerima kabar kebakaran petugas PMK secepat mungkin mendatangi lokasi. (zaki zubaidi)

 
coverjatim