VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Polres Gowa Dinilai Lamban PDF Print
Thursday, 02 September 2010
SUNGGUMINASA (SINDO) – Polresta Gowa dinilai lamban menangani aksi teror pembakaran di sejumlah fasilitas pemerintah di Kabupaten Gowa. DPRD Gowa menilai telah terjadi pembiaran.


Pembiaran terjadi dalam kasus pembakaran sejumlah aset pemerintah dan perusakan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang terjadi pascapilkada di Gowa beberapa waktu lalu. Hal ini diungkapkan sejumlah anggota DPRD Gowa saat rapat dengar pendapat (hearing) dengan Kapolresta Gowa AKBP Totok Lisdiarto di Ruang Karaeng Galesong kemarin. Wakil Ketua DPRD Gowa Rahman Syah mengatakan, sesaat sebelum terbakarnya mobil Dishubkominfo Gowa di Terminal Cappa Bungayya, dia sudah mendapat kabar dari seorang rekannya di kepolisian. Rahman Syah mengaku dapat kabar akan adanya serangan tersembunyi pada aset Gowa malam itu.

Ironisnya,informasi itu berasal dari rekannya yang merupakan anggota Polresta Gowa. “Pukul 21.00 Wita malam, saya sudah dapat informasi bahwa akan ada yang menyerang lagi. Informasi ini dari rekan saya di kepolisian. Ternyata, masih juga tetap terbakar.Ada apa dengan polisi?” ungkapnya. Hal senada juga diungkapkan anggota Dewan lainnya,salah satunya berasal dari anggota Komisi B DPRD Gowa, Ramli Rewa. Dalam kesempatan itu, dia mengatakan bahwa polisi terkesan tak serius menangani kasus pembakaran dan perusakan tersebut. Polresta Gowa baru saja mengungkap kasus penemuan mayat di Samata. Kasus ini jelas terbilang rumit, lantaran korban tak memiliki identitas.

“Kinerja Polresta Gowa sepertinya harus dipertanyakan, apa benar masih mau menyelesaikan kasus ini? Kasus penemuan mayat serumit itu saja bisa terungkap. Mana mungkin kasus teror dan perusakan ini belum bisa terungkap sampai sekarang,” tandas Ramli. Tak hanya itu,anggota Komisi D DPRD Gowa Hasniaty Hayat menilai hal yang sama.Dia bahkan menilai dari rentetan peristiwa di Gowa pascapilkada, terdapat oknum yang terlatih.Aksi teror itu terjadi sangat rapi, padahal ada anggota keamanan yang berjaga-jaga di sekitar lokasi kejadian.

“Hampir semua lokasi kebakaran ada yang menjaga.Ironisnya, pelakunya selalu lolos. Perkiraan saya, pelakunya orang terlatih. Mudah-mudahan saja bukan orang di tubuh sendiri,”pungkasnya. Sementara itu,Totok Lisdiarto mengatakan, polisi masih menangani kasus tersebut. Pihaknya tetap menyelidiki kasus tersebut secara maksimal. “Kami tetap lakukan maksimal.Ini juga perintah Kapolda,”kata dia. Pengungkapan kasus kebakaran yang terjadi di Gowa beberapa pekan lalu tentu saja berbeda dengan pengungkapan kasus penemuan mayat. Kasus kebakaran yang ada di Gowa sangat membutuhkan fakta hukum dan sampai saat ini polisi masih melakukan penyelidikan.

Sementara itu, masalah perusakan Kantor DPRD Gowa, Totok mengatakan, masih terkendala sejumlah saksi mata yang enggan memberikan keterangan di kepolisian. Sejumlah saksi mata yang kebanyakan anggota DPRD Gowa tidak mau menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) terkait dengan kasus itu sehingga pemeriksaan terhambat. “Keterangan saksi dari anggota Dewan juga masih kurang. Padahal, untuk memanggil anggota Dewan harus melalui persuratan yang cukup rumit.

Kami minta anggota Dewan mau datang sendiri ke Polresta untuk memberikan keterangan,” ujar dia. Dalam hearing tersebut,sejumlah anggota Dewan sepakat memberikan keterangan kepada polisi tanpa melalui persuratan untuk mempermudah penyelidikan.

Kapolresta: Tembak di Tempat Pelaku Teror

Kapolresta Gowa AKBP Totok Lisdiarto memerintahkan seluruh anggotanya menembak di tempat kepada para pelaku perusakan dan pembakaran aset pemerintah pascapilkada. Tembak di tempat tersebut dibenarkan apabila pelaku berusaha melarikan diri. “Untuk polisi, tembak di tempat bukan saja mematikan, tapi melumpuhkan,” ungkap Totok dalam hearingdengan DPRD Gowa di Ruang Karaeng Galesong Pemkab Gowa,kemarin. Saat ini polisi akan mengungkap kasus terbakarnya Kantor Lurah Katangka dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI). Hanya, dia enggan menyebutkan langkah pengungkapan kasus melalui TI tersebut.

Untuk kasus terbakarnya mobil Dishubkominfo, pihaknya mengaku menemukan fakta bahwa mobil tersebut diduga dibakar dari dalam mobil.Tidak ada kaca yang dipecahkan. Sementara mobil awalnya diketahui dalam keadaan terkunci. Ironisnya, tidak ada satu pun anggota Dishubkominfo yang saat itu sedang piket. Semuanya diketahui pulang untuk bersahur. (herni amir)

 
covermakasar