VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Trans-Sulawesi Longsor PDF Print
Thursday, 02 September 2010
MAMUJU (SINDO) – Jalur lintas Sulawesi di sejumlah titik longsor,bergelombang,bahkan terkena abrasi. Akibatnya,jalur yang menghubungkan Sulawesi Barat (Sulbar) menuju Sulawesi Tengah (Sulteng) ini nyaris putus.


Kerusakan paling parah terjadi di jalan turunan di Desa Sallugatta, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju. Jalan sepanjang hampir setengah kilometer ini nyaris tak bisa dilalui kendaraan besar karena ruas jalan sangat sempit.Di ruas ini, tebing sebelah kiri longsor dan jalan bergelombang, sementara pengguna jalan harus menghindari jurang terjal yang ada di sebelah kanan. Kondisi terparah juga ada di Kecamatan Lariang, Kabupaten Mamuju Utara. Akibat Sungai Lariang yang meluap mengakibatkan jalanan terkikis dan terjadi abrasi yang sangat parah.

Luapan air sudah mencapai pertengahan jalan.Tampak di tepi jalan tersebut dipasang beronjong baja. Bahkan sungai ini menyerupai bendungan yang sangat besar. Sebab diameternya mencapai sekitar dua kilometer. Di bibir sungai tak ada lagi terlihat rumah penduduk. Warga yang bermukim di daerah itu sudah dievakuasi ke wilayah yang lebih aman. Abrasi ini juga mengakibatkan kerusakan parah di jembatan penghubung satu-satunya dari Mamuju ke Mamuju Utara.Kendaraan dari arah Sulbar menuju Sulteng, hanya bisa melalui jembatan ini. Luapan air menghancurkan penyangga jembatan.

Sungai Lariang tetap meluap, meski pada musim kemarau.Kondisi ini diprediksi akibat adanya pengalihan fungsi hutan dan illegal logging. “Kondisi Sungai Lariang memang memprihatinkan. Kami sudah membicarakannya dengan Dewan. Khusus untuk jembatan, Dewan sepakat memasukkannya dalam APBD Perubahan,” kata Kepala Dinas PU Sulbar Nasaruddin kemarin. Untuk mencegah pengikisan, Balai Sumber Daya Air Pompengan, Jenebarang sudah membuat beronjong dan bangunan penunjang lain.

Dana normalisasi sungai ini mencapai Rp5 miliar yang akan dituangkan dalam APBD Perubahan tahun ini. “Kami belum menghitung, tapi kisaran Rp5 miliar,”paparnya. Pemprov Sulbar sudah membeton lantai jembatan yang rusak parah. Pengerjaannya dilakukan malam hari untuk menghindari terganggunya pengguna jalan. Rencananya lantai jembatan rampung pada akhir tahun ini. “Sebenarnya bisa saja cepat, tapi kami harus menunggu distribusi beton yang diangkut kontainer melalui Makassar. Sementara jalur yang dilalui kendaraan itu juga rusak,”ujarnya.

Parahnya jalan nasional jalur Sulbar-Sulteng ini tentu berpengaruh pada distribusi kebutuhan sehari-hari masyarakat di Mamuju Utara. Karena itu, DPRD Sulbar meminta Dinas PU bertindak cepat. Desakan itu disampaikan saat rapat tertutup Komisi III DPRD Sulbar di ruang Ketua Dewan. Sejumlah anggota Dewan yang sudah survei ke lapangan mengaku prihatin kondisi Sungai Lariang dan beberapa ruas jalan.

Poros Bone-Wajo Masih Terputus

Sementara itu, poros Bone- Wajo tepatnya di Kecamatan Dua Boccoe masih terputus sehingga arus lalu lintas dialihkan melalui Soppeng sehingga jaraknya lebih jauh. Pengalihan arus tersebut hanya berlaku pada kendaraan roda empat. Sementara untuk kendaraan roda dua masih bisa melintas karena ada jembatan yang dibangun warga sekitar.Warga menarik retribusi Rp5.000 untuk setiap kendaraan roda dua yang melintas. Untuk angkutan umum, penumpang harus turun dan berganti mobil di seberang jalan karena tak bisa melintas.

“Jalan yang terputus sejak empat bulan lalu itu belum diperbaiki Pemprov Sulsel,” ujar Kepala Bidang Darat Dishub Bone Andi Winarno kemarin.Jalan yang terputus tersebut sekitar 10 meter dengan kedalaman sekitar 3-4 meter. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bone Andi Sultan Pawi mengatakan, masalah tersebut bukan ditangani Pemkab Bone melainkan Pemprov Sulsel.“Namun kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Bina Marga. Ini masih terkendala karena masih banjir, sehingga harus menunggu,”tuturnya.

Mengenai anggaran, mantan Kadis Perindag Bone itu,mengaku tidak mengetahuinya, sebab langsung dari Pemprov. Pihaknya sebatas koordinasi pengerjaan. (herman/ahmi djafar)

 
covermakasar