|
||||||||||||||||||
| Pemulihan Berhadapan dengan Perlambatan Aktivitas Industri |
|
|
| Thursday, 02 September 2010 | |
|
Momentum pemulihan ekonomi di sejumlah negara dalam beberapa bulan
terakhir dihadapkan pada pelemahan sektor industri yang diperparah
dengan tingginya pengangguran. KEKHAWATIRAN terhadap melambatnya ekonomi muncul mengingat kondisi hampir serupa pernah terjadi di Jepang pada 1990- an. Saat itu perekonomian Jepang disebut sebagai “dekade yang hilang” akibat gelembung ekonomi yang membuat aset-aset melonjak melebihi nilai pasar yang semestinya. Bedanya, saat ini ekonomi di Jepang terancam karena perlambatan pertumbuhan dan penguatan yen yang mengganggu ekspor.
“Risikonya lebih tinggi dari yang pernah ada sebelumnya.Data terakhir yang dirilis terlalu optimistis bagi Amerika Serikat (AS) dan sangat pesimistis untuk Eropa,” ujar profesor ekonomi Universitas Paris-Dauphine Philippe Trainar kemarin. Pendapat tersebut muncul menyusul melemahnya perekonomian AS pada kuartal II/2010 yang direvisi menjadi hanya tumbuh 1,6% dari semula 2,4%. Sementara Jepang juga melemah 0,4% dibanding tahun sebelumnya. Awal terjadi “dekade yang hilang” di Jepang pada 20 tahun silam dipicu gelembung keuangan dan pasar properti di Jepang yang akhirnya meledak dan berujung deflasi akibat turunnya pendapatan dan harga-harga. Seperti sekarang, konsumen kala itu menunda pembelian dengan harapan harga terus menurun. Akibatnya,pertumbuhan ekonomi Jepang selama dekade 1990- an rata-rata hanya 1% per tahun. “Pengalaman Jepang dalam penguranganutangsangatlambat. Anggaran dan langkah-langkah dukungan keuangan yang tidak cukup untuk mempercepat pertumbuhan,”kata ekonomlainnya dariUniversitasCooconi di Milan Francesco Giavazzi. Ahli ekonomi dari University of Maryland Carmen Reinhart juga sepakat bahwa AS dan ekonomi Eropa akan berada di jalur pemulihan yang sangat lambat untuk dekade berikutnya. “Ini sangat mungkin bahwa kita akan memiliki tujuh hingga 10 tahun pengangguran tertinggi di AS,” tambahnya.Sekadar diketahui,bulan lalu tingkat pengangguran AS masih tetap berada di level 9,7%. Saat ini, ujar para ekonom, masalah utama perekonomian global adalah kurangnya kepercayaan yang luas di masa mendatang sehingga membuat rumah tangga mengurangi konsumsi dan menabung lebih banyak, terutama bagi mereka yang banyak dililit utang. Akibatnya, permintaan rumah tangga tidak cukup kuat untuk menjalankan mesin perekonomian. James Bullard,seorang anggota panel pengaturan suku bunga Bank Sentral AS (Federal Reserve),memperingatkan bahwa ekonomi AS memiliki risiko “bergaya Jepang” karena stagnasi akibat deflasi. Dalam jurnal Fed,Bullard menuliskan bahwa AS kini lebih dekat dengan satu dekade yang hilang itu. Gubernur The Fed Ben Bernanke bulan lalu juga mengatakan, bank sentral bertekad mencegah deflasi meski risikonya tetap rendah.Senada dengan Bernanke, Goldman Sachsdalamcatatannya jugamengatakan, pelemahan ekonomi selama beberapa bulan ke depan mungkin akan meningkatkan risiko deflasi. Sementara itu, kelompok bisnis Eropa kemarin mendesak China untuk memperluas akses pasar bagi perusahaan asing. Kamar Dagang dan Industri Eropa (EUCC) dalam laporan terbarunya kemarin menyatakan hukum yang jelas bagi investor asing yang akan menanamkan investasinya di China diperlukan.“Ini bukan karena perusahaan Eropa enggan melakukan ekspansi di China, melainkan karena tingginya risiko bagi dewan direksi dan pemegang saham,” ujar Presiden EUCC Jacques de Boisseson kemarin. “Pasar tunggal memerlukan aturan tunggal yang proaktif dalam hal perdagangan demikian juga di China,”tambahnya. (AFP/yanto kusdiantono) |