VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Impor Naik,Industri Lampu Kuning PDF Print
Thursday, 02 September 2010
JAKARTA(SINDO) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai lonjakan produk yang membanjiri pasar di dalam negeri, dan defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2010 sebesar USD128,7 juta merupakan lampu kuning bagi sektor industri dalam negeri.

”Defisitnya (dengan China) bukan main. Industri diserbu barang impor. Impor dari China mencapai USD10,97 miliar, sedangkan ekspor hanya USD6,9 miliar. Ini sudah menjadi lampu kuning bagi industri dalam negeri,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Dedi Mulyadi di Jakarta, kemarin.

Selain dengan China, lanjut dia,defisit perdagangan juga dicatat dengan negara-negara ASEAN yang memiliki kerja sama perdagangan bebas dengan Indonesia, misalnya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) dan perdagangan bebas dengan negaranegara ASEAN (AFTA). ”Dengan Singapura pun kita defisit, impor yang banyak masuk dari negara ini adalah elektronik dan kimia.Dampak impor adalah produksi dalam negeri tergilas,”ujarnya.

Menurut Dedi, impor memang tidak bisa dibendung.Impor hanya bisa dibendung oleh perilaku dan rasa cinta dari konsumen terhadap produk dalam negeri.”Impor tidak bisa dibendung secara aturan, mungkin bisa kita bendung oleh behaviour dan rasa nasionalisme yang tinggi,”katanya. Bahkan penerapan standar nasional Indonesia (SNI) Wajib yang hingga saat ini gencar diterapkan oleh pemerintah, kurang cukup ampuh untuk meredam lonjakan produk impor.

”SNI akhirnya tidak ampuh melawan impor. Kita memperbanyak SNI tapi tidak ampuh, kalaupun masih bisalah ya,”ujarnya. Dedi menegaskan, yang harus diantisipasi adalah produk impor asal China,terutama terkait legalitas produk impor tersebut. ”Sekarang dengan permintaan cukup tinggi menjelang Lebaran, spekulasi untuk impor makin tinggi,” bebernya.

Ditemui terpisah,Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, pada Juni–Juli sudah pasti terjadi lonjakan impor, terutama untuk produk jadi. ”Buat industri, akhirnya lebih banyak jadi penjual. Selain itu dari negara tetangga, seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam akan meningkatkan pasarnya ke sini melalui impor, karena Indonesia pasarnya bagus dan di Indonesia semua bisa diterima,” katanya. (sandra karina)