VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Protes Pak Gubernur PDF Print
Thursday, 02 September 2010
RASA-rasanya virus protes semakin tak mengenal pangkat. Jika sulit dikendalikan, virus ini bisa saja mengalir deras, bahkan tak menghiraukan waktu dan tempat.

Didasari rasa geregetan yang m e m u n - cak, protes itu pulalah yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Wa l u y o , S a b t u (28/8). Di depan sejumlah anggota Komisi V DPR yang memantau kesiapan Lebaran, Bibit merasa Jawa Tengah dianaktirikan oleh pemerintah pusat. Imbas minimnya perhatian ini, pembangunan untuk Jawa Tengah seret, investor ogah melirik, perekonomian melambat dan ujungnya pendapatan masyarakat rendah.

Dia menyebut salah satu indikatornya adalah pengembangan Bandara Ahmad Yani Semarang yang hingga dua tahun kepemimpinannya (masa percepatan pembangunan) seperti tak terurus. Kira-kira gerundelan itulah yang ada di benak Pak Gubernur. Secara manusiawi, sebenarnya sah-sah saja seorang kepala daerah melayangkan protes. Toh memang zaman sudah berubah. Bahkan karena berdalih perubahan zaman dan demokrasi itu pulalah,sampai ada seorang Kapolres yang berani memprotes Wakapolri langsung lantaran anaknya tak diterima menjadi taruna Akpol.

Kejadiankejadian ini mungkin mustahil terjadi di era Orde Baru. Secara subtantif, sebenarnya isi protes gubernur juga tak jauh beda dengan kegalauan warga Cilacap yang merasa kurang diopeni pemerintah provinsi. Bedanya, warga Cilacap sampai mengusulkan pemecahan wilayah, sementara gubernur-yang notabene menolak keras pemekaran itu-cukup sebatas lontaran.Tapi dua-duanya sama-sama protes atas ketidakadilan. Terlepas kondisi emosional yang melingkupi saat protes terlontar, apapun kegalauan-kegalauan yang dirasakan masyarakat tak boleh dianggap sambil lalu saja.

Gubernur, bupati, camat, lurah, kepala desa dan warga biasa sekalipun adalah pihak-pihak yang banyak memahami kondisi di lapangan. Mereka tentu ingin perfect,syukur- syukur bisa menjadi teladan bagi pihak lain. Namun melihat Jawa Tengah akhir-akhir kini, alih-alih menjadi teladan, provinsi ini malah kerap ditinggal dalam proyek-proyek besar. Kalau memang yang dipersoalkan bandara misalnya,bandingkan Ahmad Yani dengan di Sultan Hasanuddin Makassar, Juanda Surabaya, Selaparang Mataram maupun Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang.

Memang Jawa Tengah sudah lumayan memiliki Adisumarmo di Solo yang cukup representatif.Tapi harus diingat bahwa Semarang adalah pintu gerbang (main gate) provinsi ini.Predikat main gatemenuntut Semarang memiliki etalase yang eksotik. Bandara Changi Singapura secara geografis tak jauh beda dengan bandara-bandara umumnya di Indonesia yang berada di dekat pantai.Namun ketika kaki menginjakkan bandara, senyum keramahan dan berbagai tawaran layanan gratis berteknologi tinggi memanjakan pendatang.Selepas itu,menyusuri jalanan penuh kehijauan dan tanpa macet.

Tawaran tak jauh beda juga terlihat di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok,Thailand.Meski terkenal padat, namun bandara ini sudah terintegrasi langsung dengan jalan tol dan sejenis monorel. Meski lebih sederhana, bandara di Hong Kong juga memiliki akses transportasi yang luar biasa nyaman. Di Adisutjipto Yogyakarta, bangunannya tak jauh beda di Ahmad Yani.Namun bandara ini bisa terintegrasi dengan kereta dan jalan Solo-Yogyakarta. Bandingkan dengan di Ahmad Yani atau Adisumarmo. Jika dari ke bandara mau ke kota, tentu masih berpikir dua kali karena pilihan transportasi yang terbatas.

Nada protes Pak Gubernur mungkin sama juga dirasakan warga yang akan pulang kampung hari-hari ini. Mereka hanya bisa membanding-bandingkan fasilitas publik di provinsi ini mungkin dengan di Hong Kong,Changi,Stasiun Gambir, Stasiun Senen, Terminal Rawamangun,Grogol ataupun Pulogadung Jakarta. Sekali lagi manusiawi, karena hingga mereka menjenguk keluarga lagi setelah setahun berpisah,ternyata hanya sedikit infrastruktur yang berubah. Jalur rel ganda tak kunjung beres, jalan tol Semarang-Solo yang terus molor, ataupun Terminal Terboyo terus beno.

Masyarakat tentu menuntut kepala daerah bekerja cerdas dan cepat, apalagi mereka banyak yang baru terpilih. Kalau mereka hanya gagah- gagahan, jangan salahkan oleh-oleh warga di Lebaran tahun ini tak hanya baju atau kue, tapi juga protes. (*)

ABDUL HAKIM
Wartawan Seputar Indonesia

 
coverjateng