|
||||||||||||||||||
| Puncak Inflasi 2010 Sudah Terlewati |
|
|
| Thursday, 02 September 2010 | |
|
JAKARTA (SINDO) – Pemerintah diminta untuk mewaspadai gejolak kebutuhan
bahan pokok, terutama pangan menjelang akhir tahun.Hal itu untuk
menekan laju inflasi yang saat ini secara akumulatif sudah menyentuh
4,82%.
Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, puncak inflasi tahun ini diperkirakan sudah terlewati pada Juli dan Agustus.Dia memprediksi, laju inflasi selanjutnya akan lebih rendah dibanding pergerakan inflasi dua bulan terakhir. ”Untuk bulan depan pasti di bawah 0,7%.Perkiraan saya berada pada kisaran angka 0,5%,”ujar dia di Jakarta kemarin. Menurutnya, kebijakan pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) memang berpengaruh pada peningkatan laju inflasi. Dia menilai,kenaikan TDL yang mulai diterapkan per Juli 2010 berpengaruh bukan saja pada laju inflasi, melainkan juga ke sektor alokasi kebutuhan masyarakat. Dia mengatakan, dengan kenaikan TDL,secara otomatis masyarakat akan terbebani dan mengurangialokasikebutuhansepertipendidikan dan kesehatan.” Maka memang perlu ditinjau ulang kebijakan yang baik seperti apa agar porsi pengeluaran masyarakat untuk pendidikan dan kesehatan tidak berkurang dan beralih untuk membayar tarif listrik yang mahal,”katanya. Namun, Erani lebih menyoroti kekhawatiran terjadinya gejolak kebutuhan pokok di masyarakat yang mulai naik secara perlahan. Dia memprediksi, pada November mendatang akan ada persolan terkait kebutuhan pokok yang membuka kemungkinan meningkatkan inflasi jika tidak dikendalikan oleh pemerintah. ”Kita tahu bersama, persoalan beras langka karena perubahan iklim, persediaan di Bulog makin menipis. Kalau di lapangan ada pergerakan permintaan, tapi persediaan tidak ada, maka akan ada kenaikan harga yang memicu inflasi,”katanya. Pemerintah diminta untuk mewaspadai hal ini untuk persiapan akhir tahun. Selain persoalan kebutuhan pokok pangan, persoalan harga minyak internasional yang kemungkinan mengalami kenaikan juga dapat memicu harga minyak dunia. Dia mengatakan,Oktober mendatang negara di kawasan Eropa dan Amerika akan memasuki musim dingin. Dengan begitu, permintaan minyak akan meningkat. ”Ini perlu diwaspadai juga karena harga minyak dunia bisa meningkat dan bisa memengaruhi harga minyak kita juga,”paparnya. Pemerintah,kata dia,harus bisa mengeluarkan kebijakan yang kredibel untuk mengantisipasi lantaran hal ini akan berimbas pada tingkat kepercayaan masyarakat yang menurun terhadap kinerja pemerintah dan perekonomian Indonesia. ”Indeks kepercayaan masyarakat pasti tidak akan stabil,bahkan bisa terus menurun jika kebijakan yang dikeluarkan tidak kredibel,” imbuhnya. Sementara itu, ekonom BNI Ryan Kiryanto memprediksi, inflasi nanti akan lebih rendah dibanding Juli dan Agustus. ”Puncak inflasi sudah kita lewati pada saat rencana kenaikan TDL yang bertepatan dengan persiapan Lebaran yaitu pada Juli 2010 yang mencapai 1,57%,”kata Ryan. Dia memprediksi, inflasi pada September hanya akan berada pada kisaran 0,5%. Dia mengatakan, optimisme laju inflasi yang lebih rendah lantaran masyarakat sudah tidak kaget dengan tarif baru dari kebijakan kenaikan TDL. Selain itu, akhir tahun inflasi juga diprediksi tidak akan lebih besar. Pemerintah optimistis laju inflasi selama 2010 akan terkendali pada kisaran 5 plus minus satu persen.” Kita masih optimistis 5 plus minus satu persen akan tercapai,”kata Menko Perekonomian HattaRajasa. Dia mengatakan,tingkat inflasi pada Agustus lebih rendah dibanding Juli, yang menunjukkan upaya pengendalian harga pangan menunjukkan hasil.BPS mencatat laju inflasi Agustus 2010 mencapai 0,76%, inflasi tahun kalender 4,82%, dan inflasi year on year sebesar 6,44%. Dia mengakui, kenaikan TDL yang ditagih pada Agustus memang memberi efek pada tingkat inflasi. ”Ini harus diwaspadai di 2011. Ini harus kita lihat dan cermati,”katanya. Semula diperkirakan sumbangan kenaikan TDL terhadap inflasi hanya 0,22%, tapi kemudian mencapai 0,35%. (wisnoe moerti/ant) |