VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Asumsi Lifting 2011 Disepakati PDF Print
Thursday, 02 September 2010
JAKARTA(SINDO) – Komisi VII DPR menyepakati asumsi produksi minyak mentah siap jual (lifting) sebesar 970.000 barel per hari (bph) dan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ ICP) USD80 per barel yang diajukan pemerintah dalam RAPBN 2011.

“Komisi VII pada pembahasan asumsi makro penetapan ICP dan lifting untuk bahan APBN 2011 menyetujui ICP sebesar USD80 per barel dan lifting minyak bumi 970.000 bph,”kata Ketua Komisi VII DPR Teuku Riefky Harsya saat membacakan kesimpulan Rapat Kerja tentang Asumsi Makro Penetapan ICP dan Lifting untuk Bahan APBN 2011 di Jakarta,kemarin.

Meski menyepakati,Komisi VII memberikan catatan agar pemerintah meningkatkan target lifting menjadi 975.000 bph dengan mengoptimalkan lapangan Cepu dan Chevron Pacific Indonesia. Menurut Teuku, catatan tersebut akan dievaluasi dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2011. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh menyambut baik keputusan Komisi VII soal asumsi ICP dan lifting.

Menurut dia, asumsi lifting dan ICP yang disampaikan pemerintah sudah melalui dasar perhitungan yang realistis.“Meski demikian desakan Komisi VII agar pemerintah mengupayakan lifting 975.000 bph bisa kita terima sebagai upaya untuk kita mengoptimalkan, lepas dari asumsi makro,”katanya.

Sementara itu, Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDMEvitaHLegowo mengatakan, harga minyak dunia dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti suplai OPEC,suplai non-OPEC dan OPEC NGL, stok minyak AS dan dunia, spare capacity produksi OPEC,dolar AS dan euro,perdagangan berjangka, dan geopolitik.

Adapun untuk suplai non-OPEC dan OPEC NGL diperkirakan masih naik sehingga menyebabkan harga minyak turun. Namun, dengan situasi geopolitik di mana ketegangan dan konflik di negara produsen minyak masih tetap tinggi sehingga harga minyak mengalami kenaikan. “Selain itu PDB dunia mulai recover dan permintaan minyak mulai meningkat sehingga dampaknya harga naik,”ujar Evita.

Adapun dalam penentuan ICP, pemerintah menggunakan formula yang mengacu pada publikasi harga minyak mentah Indonesia di perdagangan internasional, yakni RIM dan Platts. Dalam memproyeksikan harga minyak Indonesia, pemerintah juga menggunakan referensi proyeksi dari beberapa referensi internasional. Sebagai contoh Short Term Energy Outlook Energy Information Administration US-DOE memproyeksikan harga WTI pada 2011 sebesar USD83,5 per barel.

“Dengan memperhatikan referensireferensi tersebut perkiraan ratarata harga minyak mentah Indonesia pada 2011 di kisaran USD75- 90 per barel,”tuturnya. Di sisi lain asumsi lifting sebesar 970.000 bph pada R-APBN 2011, ujar Evita bisa diperoleh dengan adanya potensi tambahan produksi dari lapangan baru sebesar 71 MBOPD, yakni dari NDD area 12-CPI Rokan, Banyu Urip- Mobil Cepu, Sukowati fase IV-JOB Pertamina East Java,Pondok Makmur- Pertamina EP dan Pulau Gading-JOB Talisman.

Kemudian produksi dari put on production (PoP) di Sabar Utara-Petro Cina Jabung, Pendalian 3-Siak Putra Energy sebesar 2 MBOPD dan penambahan dari proyek baru EOR (Rantau, Prabumulih, Musi Barat- Pertamina EP) sebesar 1 MBOPD. Berdasarkan data Kementerian ESDM,angka 970.000 bph pada 2011 antara lain akan disumbang dari Chevron Pacific Indonesia sebesar 370.000 bph, Pertamina 132.000 bph,Total E&P Indonesie 94.000 bph,ConocoPhillips Ind Ltd 61.000 bph.

Adapun Mobil Cepu Ltd diperkirakan hanya akan menyumbang 20.000 bph. “Peningkatan produksi dari MCL 20.000 bph (posisi saat ini). Untuk mencapai full production scale masih memerlukan pembangunan fasilitas produksi (diprogramkan selesai 2013),”kata Evita. Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas) R Priyono menambahkan, pada saat ini EPC 5 untuk Blok Cepu masih dalam proses studi oleh pihak independen. Dia menargetkan, proses studi tersebut rampung pada pertengahan September 2010. (maya sofia)