VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
BI Rate Diperkirakan Tetap 6,5% PDF Print
Thursday, 02 September 2010
JAKARTA(SINDO) – Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) bulan ini diperkirakan akan tetap bertahan di level 6,5%.Level tersebut dipertahankan bank sentral sejak Agustus 2009.

”BI Rate tetap 6,5% karena perbaikan makroekonomi dan masih sejalan dengan perkembangan ekonomi global,” ujar Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan kepada harian Seputar Indonesia di Jakarta kemarin. Fauzi mengatakan, BI seharusnya menaikkan suku bunga acuan karena angka inflasi akan terus naik seiring kenaikan bahan pangan ataupun dampak dari kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Namun, BI belum berani menaikkan suku bunga karena akan berdampak pada sektor riil. ”BI harus mulai menaikkan bunga acuannya di akhir kuartal III/2010,”katanya. Kenaikan bunga acuan tersebut, kata dia karena dampak inflasi yang mulai naik dan akan berdampak ke semua bidang.Namun,dampak dari BI Rate yang bertahan ini membuat pengusaha merasa tertekan untuk tidak menaikkan suku bunga. Padahal, inflasi sudah semakin meningkat.

”Tapi, kalau inflasi hingga akhir tahun ini akan naik terus, BI harus mulai mempertimbangkan lagi.Dampaknya akan ada tekanan ke rupiah karena BI selalu behind the curve atau selalu telat mengantisipasi apa yang terjadi di pasar, ungkapnya. Senada dengan Fauzi, ekonom HSBC Wellian Wiranto menyatakan, BI Rateakan tetap bertahan di level 6,5% untuk ke-14 kalinya.

Hal itu karena inflasi Agustus sudah mulai berkurang dari kontribusi kenaikan bahan pangan. ”BI Rate akan tetap 6,5% karena ada indikasi bahwa harga pangan sudah tidak melonjak terlalu drastis meskipun sudah memasuki bulan puasa,”kata Wellian. Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, inflasi Agustus sebesar 0,76% (mom), sekitar 4,42% (ytd),dan 4,53% (yoy).

Hal itu masih sesuai dengan prediksi inflasi baik dari Bank Indonesia maupun pemerintah di kisaran 5 plus minus 1%. Adapun faktor yang mengontribusikan inflasi besar yaitu dari perumahan,air,listrik,gas,dan bahan bakar sebesar 1,59%. Sementara inflasi inti Agustus sebesar 0,52%. Sedangkan makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menyumbang inflasi 0,67%.

Berbeda dengan Fauzi dan Wellian,Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara menyarankan agar bank sentral menaikkan bunga acuannya bulan ini. Hal itu seiring dengan inflasi yang sudah di atas target. ”BI Rate harus mulai naik karena inflasi sudah di atas target dan pertumbuhan impor sudah terlalu tinggi,”kata Mirza.

Dengan inflasi yang sudah merangkak naik dan pertumbuhan impor yang tinggi,lanjut dia,harus diiringi oleh kebijakan moneter yang selaras. Mirza menilai, BI terlalu ragu-ragu dalam menaikkan BI Rate.Walau BI Ratedinaikkan sebesar 50 bps, hal itu masih dianggap terlalu rendah oleh para investor. ”Kenaikan BI Rate itu untuk mengimbangi inflasi yang sudah mendekati target.

BI seharusnya ahead the curve dan jangan behind the curve,”katanya. Bank sentral, menurut Mirza, terlambat dalam merespons kebijakan moneter (behind the curve) sehingga baru dikoreksi jika telah terjadi sesuatu di pasar. Tetapi, bulan ini bank sentral juga diprediksi akan tetap mempertahankan bunga acuannya di level 6,5%. Inflasi yang sudah merangkak naik tidak terlalu direspons oleh bank sentral akibat sikap behind the curvetadi. ”Tampaknya BI Rateakan tetap dipertahankan dalam dua atau tiga bulan lagi,”pungkasnya. (didik purwanto)