|
||||||||||||||||||
| Pengungsi Memaksa Pulang |
|
|
| Thursday, 02 September 2010 | |
|
MEDAN(SINDO) – Ribuan pengungsi di sejumlah tempat memaksa pulang ke
rumahnya masing-masing. Mereka mengabaikan imbauan Pusat Vulkanologi
dan Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) untuk tetap menjauh dari
radius 6 kilometer dari Gunung Sinabung.
Warga lebih memilih pulang ke rumah dan bekerja di ladang.Namun, kepulangan mereka ada yang sementara ada pula yang bertahan di rumahnya. Bagi yang pulang sementara, mereka pada sore hari kembali ke pengungsian setelah seharian bekerja. “Situasi nampaknya sudah biasa-biasa saja. Sudah tidak ada lagi tercium bau belerang dan debu. Karena itu, kami memutuskan untuk pulang ke rumah,” kata Lias Bangun,45,saat ditemui di ladangnya di Desa Sukandebi, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo,kemarin. Lias yang bekerja bersama suami dan lima orang pekerjanya baru tiba pukul 05.00 WIB dari pengungsian di Medan. Desa Sukandeli diperkirakan hanya beradius sekitar 5 km di sebelah tenggara Sinabung. Ahmad Rizki Sitepu, 25, juga lebih memilih pulang ke rumah meskipun tidak pergi ke ladang. Dia hanya berjaga di desa bersama pemuda lainnya.Geliat kehidupan di beberapa desa yang berada kawasan Sinabung sejak kemarin berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Berdasarkan pantauan, beberapa desa yang berada di sepanjang jalan raya dari Kecamatan Payung hingga Kecamatan Tiganderket sudah ramai penduduk. Di sepanjang jalan yang menghubungkan Kabupaten Karo dengan Kabupaten Dairi ini banyak warung yang sudah buka.Namun, di tiga desa, Kecamatan Payung, yakni Suka Meriah, Guru Kinayan dan Selandi, yang paling dekat Sinabung masih sepi. Hal yang sama juga terlihat di tiga desa terdekat dengan Sinabung di Kecamatan Tiganderket, yakni Mardingding, Kuta Baru dan Perbagi. Namun, di Kecamatan Naman Teran,tujuh desa yang masih sepi. Sejak kemarin malam, Sinabung terus tertutup kabut. Kabut yang cukup tebal ini menutupi gunung dan desa di bawahnya hingga sore hari. Kabut sempat menipis pada pukul 09.00 WIB–11.00 WIB saat sejumlah tokoh masyarakat dari beberapa desa di Kecamatan Naman Teran menggelar ritual di Desa Suka Nalu. Ritual ini digelar di bawah sebuah pohon yang tidak jauh dari desa. Warga meletakkan sirih yang biasa di makan kaum perempuan Karo di bawah pohon itu.Selain itu, mereka juga menghidupkan rokok yang dijepitkan pada kayu yang ditancapkan ke tanah. Dalam ritual ini, dua orang perempuan yang dianggap sebagai keturunan leluhur desa sempat kerasukan. Mereka berbicara tentang kondisi Sinabung yang belakangan tidak mendapat perhatian dari masyarakat. Kepala Desa Suka Nalu Paten Sitepu mengatakan,ritual yang dia prakarsai bersama sejumlah tokoh masyarakat bertujuan mengingat leluhur desa. Selama ini,menurut Paten, masyarakat yang sudah tidak peduli dengan Sinabung tempat leluhur. “Kami pikir-pikir sudah tidak ada lagi kesopanan penduduk kita,”ujar Paten. Dia mengakui, warga desa selama ini tidak pernah menggelar ritual seperti ini. Hal ini disebabkan masyarakat sudah memeluk agama masing-masing,yakni Islam dan Kristen.Meletusnya Sinabung dijadikan dasar untuk menggelar ritual dengan harapan tidak ada lagi bencana yang lebih besar. “Kami yakin dan percaya tak akan ada lagi letusan,”ujarnya. Kepala PVMBG Surono menegaskan, bahwa timnya belum bisa menurunkan status Sinabung dari awas menjadi siaga. Hal ini disebabkan peningkatan aktivitas vulkanik Sinabung.Berdasarkan data seismik, sejak pukul 00.00 WIB– 12.00 WIB tercatat 31 kali gempa vulkanik dan 8 kali hembusan. Namun, gempa ini sama seperti hari-hari sebelumnya hanya berkekuatan kecil, yakni di bawah 2 SR. Sedangkan ketinggian debu atau asap yang keluar dari puncak Sinabung masih terus terjadi dengan ketinggian rata-rata 50 meter. Gempa ini meningkat dengan dua hari sebelumnya, sejak pukul 00.00 WIB–24.00 WIB tercatat 50 kali gempa vulkanik. Sedangkan tiga hari sebelumnya, tercatat 31 kali gempa vulkanik.“Artinya aktivitas vulkaniknya masih terus meningkat. Karena itu, masih belum bisa diturunkan statusnya,” ujar Surono. Mengenai banyaknya warga yang tidak mengindahkan imbauan PVMBG, Surono enggan memberi tanggapan karena bisa menimbulkan perdebatan. Hal itu kembali kepada kesadaran warga yang disarankan harus mengosongkan desa dari radius 6 km dari Sinabung.“Hal yang penting rekomendasi kita sudah jelas dan tegas,”ujarnya. Sementara itu,sejumlah partai politik berduyun-duyun menyalurkan bantuan ke pengungsi korban bencana meletusnya Gunung Sinabung. PDIP langsung membentuk tim tanggap darurat sedangkan PAN salurkan bantuan 1 ton beras. Ketua Tim Tanggap Darurat PDI Perjuangan Sumut, Taufan Agung Ginting mengatakan bantuan saat ini banyak menumpuk di posko yang terletak di Kota Berastagi dan Kabanjahe.Sementara yang bersedia mengantarkan langsung ke posko penampungan masih sangat minim. Karena itu, PDIP bentuk Tim Tanggap Darurat PDI Perjuangan Sumut untuk mendistribusikan barang-barang kebutuhan pengungsi di lima desa lokasi pengungsian. (m rinaldi khair/ rijan irnando purba) |