|
||||||||||||||||||
| Guru Dilatih Pendidikan Karakter |
|
|
| Thursday, 02 September 2010 | |
|
PENDIDIKAN karakter telah ada dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan.Pusat kurikulum sampai saat ini juga sudah membentuk master trainer yang diharapkan melatih para guru. Kementerian Pendidikan Nasional telah menyusun desain besar pendidikan karakter bangsa.Konsep ini akan segera diimplementasikan pada tingkat satuan pendidikan. Ditargetkan, seluruh satuan pendidikan telah mengembangkan pendidikan karakter bangsa pada 2014. ”Pusat kurikulum sampai saat ini sudah membentuk master trainer yang diharapkan melatih para guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk bisa menghidupkan atau menjadi pionir pendidikan karakter bangsa di satuan pendidikan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemdiknas Mansyur Ramli. Mansyur optimistis pendidikan karakter dapat segera diimplementasikan pada satuan pendidikan. Sekurang-kurangnya, 25% satuan pendidikan mulai menerapkan pada 2012.Sudah banyak satuan pendidikan, perguruan tinggi, berbagai tokoh masyarakat, dan pemerhati pendidikan yang sudah mengembangkan karakter bangsa melalui pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Lebih lanjut Mansyur menyampaikan, hampir semua perguruan tinggi telah mengembangkan pendidikan karakter bangsa.Berbagai satuan pendidikan, menurut dia, juga telah menerapkan pendidikan karakter bangsa dengan bermacam cara seperti kantin kejujuran di sekolah, melalui nilai-nilai keagamaan dan budaya. ”Dengan potret yang kami lakukan, kami optimis.Tinggal mendorong dan menularkan apa yang telah dikembangkan satuan pendidikan tertentu dan masyarakat,” katanya. Dia mengatakan, pendidikan adalah motor penggerak utama dalam membangun karakter bangsa. Kalau itu berhasil,maka akan mendorong semua lini, semua elemen masyarakat untuk bisa membentuk karakter bangsa yang baik, yang diperoleh dari berbagai nilainilai, baik nilai budaya,nilai agama maupun nilai-nilai yang lainnya, terutama nilai-nilai Pancasila. Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam sebuah diskusi di Maarief Institute menuturkan bahwa permasalahan yang hadir di masyarakat seperti korupsi, kekerasan,tindak anarkis dan lainlainnya menjadi latar belakang mengapa pendidikan karakter perlu dilaksanakan. Pada dasarnya, pendidikan karakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan yang tercantum pada Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini menyebutkan, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. ”Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan,”ujar Fasli. Fasli menekankan,pendidikan karakter pada implementasinya, tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku, melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam proses belajar. Karena itu, dia mengimbau agar setiap lembaga pendidikan membiasakan pendidikan karakter dalam kesehariannya sehingga dapat menciptakan budaya sekolah yang berkarakter. Pendidikan karakter telah ada dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan. Nilai-nilai sportivitas dan kreativitas dapat tercermin dalam mata pelajaran olahraga, sedangkan nilai keuletan dan ketelitian dapat diperhatikan pada mata pelajaran matematika. ”Mengenai moral tentunya sudah menjadi domain pendidikan agama. Apabila aktualisasi mata pelajaran ini benar, maka sudah berhasillah pendidikan karakter tersebut,”ujarnya. Pemerhati pendidikan karakter, Ratna Megawangi menyebutkan, diperlukan pengetahuan tambahan bagi para pendidik dan tenaga pendidik mengenai teori-teori pendidikan untuk menjalankan pendidikan karakter. Hal ini akan menjadikan para pelaku pendidikan memahami proses pendidikan melalui tahapan watak peserta pendidik. ”Inti dari pendidikan karakter adalah mengajarkan bagaimana para peserta didik memahami nuraninya sendiri,”tuturnya. Sementara, pakar psikologi sosial Yayah Khisbiyah mengatakan, pendidikan karakter sangat erathubungannya denganperasaan nasionalis masyarakatnya. Pendidikan karakter ini perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta Tanah Air. Karena itu, pendidikan karakter ini disinergikan dengan pendidikan kewarganegaraan. Di tempat terpisah, pembina Kolese Kanisius E Baskoro Poedjinoegroho, dalam diskusi Forum Pelita Pendidikan di Tanoto Foundation, mengaku pendidikan karakter sudah biasa dibicarakan para cerdik pandai atau insan pendidikan. Namun, pelaksanaannya boleh dikatakan nihil.Proses pendidikan dihabiskan untuk memompa pencapaian angka ujian nasional lantaran mutu sekolah ditentukan oleh hasil UN semata sehingga kegiatan sekolah tidak ada yang lain kecuali usaha mati-matian untuk menyiapkan UN. Proses ini akan terus berjalan jika tidak ada kesadaran dan keyakinan dasar bahwa UN yang dimutlakkan seperti sekarang akan meniadakan munculnya lulusan berkarakter sekaligus memerosotkan mutu pendidikan.”Pendidikan karakter harus menyesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah,” tutur dia. Dengan penanaman karakter sejak di bangku sekolah pada peserta didik, bukan hanya dapat mengikuti olimpiade sains saja, tapi lebih kepada menjadi peserta didik yang bermutu yaitu yang dapat berpikir positif dan memperjuangkan kejujuran karena bangsa memerlukan kedua hal itu. (hermansah) |