|
||||||||||||||||||
| Kompetensi Guru Perlu Ditingkatkan |
|
|
| Thursday, 02 September 2010 | |
|
KUALITAS pendidikan di Indonesia memang masih jauh dari harapan. Berbagai persoalan terus saja membelit dan tidak mampu dipecahkan secara tuntas. Kondisi semacam inilah yang cenderung menjadikan kualitas pendidikan Indonesia semakin tertinggal dibandingkan dengan kualitas pendidikan negara-negara maju. Ada satu kunci penting dalam reformasi dunia pendidikan yang kurang memperoleh perhatian secara serius,yaitu guru.Dengan menitikberatkan pada eksistensi guru yang berkualitas, bukan berarti aspek yang lainnya tidak penting. PraktisipendidikandariI-Teach Education Training Center, Ruth Solaiman,menyatakan bahwa kompetensi guru yang kurang sering disertai dengan motivasi belajar yang rendah. Karenanya,upaya pengembangan profesi guru perlu disertai dengan evaluasi institusi pendidikan dan guru,didukung dengan pendampingan melekat. ”Motivasi belajar yang lebih tinggi dan kehausan akan pengetahuan dan metode pembelajaran baru lebih mudah ditemukan pada guru-guru di daerah,” kata dia dalam sebuah diskusi pendidikan di Jakarta. Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta HAR Tilaar mengungkapkan keterbatasan kompetensi guru dan institusi pendidikan sering tidak diperhitungkan dalam pembuatan kebijakan pendidikan sehingga praktik pendidikan tidak dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Ditambah lagi dengan adanya permasalahan kompetensi sumber daya manusia yang dianggap menghambat terjadinya desentralisasi pendidikan seperti yang diharapkan. ”Desentralisasi adalah malapetaka karena masalah kompetensi yang belum memadai,terutama berkaitan dengan penguasa daerah,”tutur dia. Tilaar berharap semua stakeholders pendidikan dapat lebih memfokuskan untuk guru-guru yang terlupakan dan termarginalisasikan di daerah-daerah. Karena itulah,dia menyambut baik adanya upaya yang dilakukan sejumlah kalangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sejumlah daerah, seperti Sumatera Utara, Riau,dan Jambi melalui program pendidikan dapat menjadi sebuah sarana nyata. Tentu hasil pendidikan akan jauh lebih memuaskan jika guru berkualitas diimbangi dengan tersedianya sarana prasarana yang mendukung bagi pencapaian hasil belajar secara maksimal.Namun, sarana dan segala perangkat pendukung pembelajaran yang sangat lengkap tidak akan banyak artinya jika guru tidak mampu memaksimalkan dalam penggunaannya. Program sertifikasi belum menjawab terhadap tantangan dan kebutuhan reformasi secara total. Guru seharusnya lebih diberdayakan secara maksimal sehingga potensinya dapat tumbuh berkembang secara pesat. Hanya guru yang berdaya saja yang mampu membangun jiwa anak didiknya menjadi manusia yang lebih berkualitas. Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kebangkitan Bangsa, Iwan Syahril, mengharapkan adanya celah agar saran, kritik, dan inovasi yang dikembangkan masyarakat madani. Seperti yang terjadi dalam berbagai forum pendidikan dapat menjadi bagian dari strategi, filosofi, dan manajemen pendidikan yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional. (hermansah) |