VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Branding untuk Bangun Image PDF Print
Thursday, 02 September 2010

BRANDING atau sering juga disebut sebagai brand buildingbanyak dikaitkan dengan upaya sebuah perusahaan untuk membangun image.Imageyang dimaksud tentunya harus memiliki manfaat di dalam memberikan sebuah persepsi tertentu yang umumnya bersifat positif.

Kekuatan brandingyang luar biasa dapat sangat berpengaruh terhadap suksesnya bisnis sebuah perusahaan. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) Firmanzah menjelaskan, sebuah perusahaan haruslah memiliki brand. Setidaknya ada dua macam brand yang dipergunakan sebuah perusahaan, yakni brand produk dan brand corporate. ”Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan,” ujar dia saat dihubungi Seputar Indonesia. Perusahaan yang memiliki banyak produk dan omzet besar biasanya akan memilih menciptakan sebuah brand produk. Misalkan saja perusahaan Unilever. Orang tentu lebih banyak mengenal produk Pepsodent atau Lifebuoy dibandingkan Unilever.

Sementara perusahaan yang memiliki capital besar tentu lebih menyukai memilih mengembangkan brand corporate. Salah satu contoh perusahaan yang mengembangkan corporate brand adalah salah satu produsen mobil terbesar di dunia Toyota Motor Corp. Dalam membangun sebuah brand memerlukan waktu yang tidak sedikit. Di dalamnya terkandung trust, kualitas, dan kapitalisasi. Begitu masyarakat mempercayai brand yang dimiliki sebuah produk atau perusahaan, tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengalihkan konsumen menggunakan produk lain.

Chairman Capital Price Roy Sembel menjelaskan, salah satu fungsi brand perusahaan adalah untuk menjembatani antara produk barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan dengan konsumen. Karena itulah, sebuah perusahaan baru harus memiliki brand sendiri yang nantinya akan memudahkan konsumen untuk membeli atau mempergunakan jasa perusahaan tersebut. Banyak perusahaan yang belum menyadari bahwa membangun brand image dengan komunikasi pemasaran tidak sebatas lewat iklan dan promosi saja.Ada banyak kegiatan lain yang juga berdampak besar. Misalkan saja desain kemasan, termasuk isi tulisan/pesan yang disampaikan atau bagaimana perusahaan menangani keluhan, masukan dari konsumen setelah terjadi transaksi.

Jadi, pada dasarnya perusahaan perlu memperhatikan semua elemen komunikasi dalam bentuk apa pun yang menghubungkan konsumen dengan brand perusahaan. Minimalkan kemungkinan terjadinya ketidakpuasan konsumen sehingga berita seputar brand bisa selalu berita baik.

Alat Marketing Semakin Beragam
Keberadaan internet, khususnya situs jejaring sosial (social network) merupakan salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak kinerja pemasaran (marketing). “Jika dulu kegiatan marketing fokus pada televisi, radio, atau media cetak saja, kini banyak ragam media yang bisa dimanfaatkan, seperti internet atau social network. Kami menyebutnya sebagai Marketing 360°(360 derajat),” kata Pimpinan Consumer Sector TNS APAC Sebastien Janini dalam dialog bertema Making 360° Marketing Work Harder di Jakarta kemarin. Sebagai bagian dari TNS Innovation Lectures Series,TNS Indonesia mengundang sejumlah ahli dalam bidang consumer research &marketing dari kawasan Asia Pasifik untuk berbagi tentang cara, teknik, dan pembelajaran tentang bagaimana membuat Marketing 360°bekerja lebih efektif.

Indonesia, kata dia, saat ini sedang berkembang sebagai negara terbesar yang aktif dengan social networking. “Ini sekali lagi menciptakan kesempatan besar dan suatu tantangan bagaimana menggunakan social networkingtersebut agar lebih terhubung dengan konsumen,” ungkap dia. Menurut Sebastian,walaupun 360° Marketing adalah suatu kata yang saat ini sedang in,namun masih ada rintangan yang menghalangi pemanfaatan yang maksimal dari kesempatan ini. Menurut dia, tantangan yang terbesar yang dihadapi para marketerdi lapangan saat ini adalah kurangnya sinkronisasi dari marketing effort.

Hal ini, lanjutnya, akan menimbulkan suboptimalconsumer connect. Sementara itu,pimpinan Brand Strategy TNS APAC Anne Woodhams menilai, dalam menghitung return on investment (RoI) dari macam penggunaan media masih banyak menghadapi benturan. Dari sejumlah metode marketing,yakni tradisional ataupun modern, menurut dia, harus dipilih mana yang paling efektif dan memberikan lebih. “Namun, tools &technique tertentu akan membantu menentukan nilai harga dari penggunaan media yang berbeda, ini akan sangat membantu para marketer,” ujar dia.

Sementara Shirley Raman, TNS Regional Expert on Understanding Emotions, menyatakan bahwa seorang marketing yang baik sangat harus mampu mendeteksi dan membangun hubungan emosi dengan konsumen mereka. “Setiap touch point (sasaran konsumen) mempunyai emotive compass yang berbeda dan marketing yang efektif harus mampu mengetahuinya setiap kali menyusun strategi,” ujar dia. Shirley mengelompokkan pendekatan emosi tersebut menjadi enam kategori, sesuai dengan nama-nama dalam dewa Yunani, seperti Zeus, Hera, dan lainnya. (anton c/hermansah)