VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Populerkan Makanan Halal di Prancis PDF Print
Wednesday, 01 September 2010
Tidak banyak restoran di Prancis yang menjamin makanan halal kecuali restoran Turki dan Arab. Namun, sebuah restoran ternama di Prancis,Quick, berani memperkenalkan menu makanan halal.Ide ini dipelopori oleh CEO Quick Jacques-Edouard Charret.

ISU makanan halal dan berbau Islam memang sangat sensitif di Prancis.Sejak menu makanan halal itu diluncurkan dalam masa percobaan Februari silam, beberapa politisi kiri langsung bereaksi menentang ide tersebut dan melancarkan boikot. Tetapi, Quick bergeming, bahkan ide cerdas Charret menuai kesuksesan. Charret membuktikan bahwa makanan halal bukan sebagai pembeda antara muslim dan nonmuslim.

Dia juga menangkal bahwa makanan halal sebagai biang perbedaan dan perpecahan. Kini menu halal itu menunjukkan perkembangan luar biasa, termasuk di beberapa negara uni Eropa. Cabang Quick di Belgia justru mulai mengalihkan 14 restorannya hanya melayani makanan halal.Menu makanannya telah mendapatkan jaminan halal sesuai dengan syariah Islam.Sementara di Prancis Quick telah memiliki delapan restoran berlabel halal. Kini restoran Quick yang menjual menu halal sebanyak 6% dari keseluruhan cabangnya di Prancis sebanyak 300 cabang.Quick menambahkan dana segar untuk berinvestasi pada menu halal.

“Melihat hasil percobaan pada Februari silam, kita memutuskan untuk mempertahankan makanan halal di delapan restoran dan akan memperpanjangnya hingga dari 1 September,” ujar Charret kepada AFP.Diamemangpandaimelihatpeluang di Prancis. Menu halal apa yang menjadi andalan Quick? “Menu favoritnya adalah burger dan sandwich ikan,” ujar Charret kepada journaldunet. com.

Dua menu sangat diminati bukan hanya oleh umat muslim, melainkan juga orang nonmuslim. Selain ikan,Charret pun mengimpor daging sapi asal Turki yang telah dijamin kehalalannya.“Gerakan halal ini didesain sebagai uji coba untuk kepentingan komersial dan kemudahan teknis dalam mengonsumsi makanan,” tuturnya. Selama Februari hingga kini, menu halal Quick tetap menjadi kontroversi di Prancis.

Wali Kota Roubaix di Prancis utara, Rene Vandierendonck, menyerukan boikot terhadap restoran tersebut. Dia menyebut, menu halal tersebut sebagai bentuk diskriminasi terhadap warga nonmuslim.“Saya tidak mempermasalahkan menu halal,” ujar Vandierendonck.“ Tapi jika hal ini dilanjutkan lebih jauh, menu itu telah menjadi suatu hal diskriminasi,”imbuhnya. Bukan hanya pemerintahan lokal yang mengecamnya. beberapa deputi Presiden Prancis Nicolas Sarkozy pun ikut mengecam gerakan menu halal itu.

Marine Le Pen, wakil presiden kubu kanan Barisan Nasional, memperingatkan hal itu sebagai “Islamisasi”. Meski banyak kecaman dari para politisi yang ingin menarik simpati itu, menurut Quick, tidak ada komplain mengenai menu halal dari para pelanggannya. Para pelanggan nonmuslim tidak mempermasalahkan dan cenderung mencoba menu halal.

Charret yang kini berusia 47 tahun meraih gelar master ekonomi dan manajemen dari Universitas Lyon-2 dan meraih gelar MBA dari EM Lyon.Dia memulai karier pada 1988 di Departemen Pemasaran Unilever.Pada 1992 dia bergabung dengan grup Casino sebagai brand manager. Dari 1999-2009, menjabat sebagai CEO Opera.Pada 4 Januari lalu Charret ditunjuk sebagai CEO Quick. (andika hendra m)