VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Pendiri Perpustakaan di Atas Keledai PDF Print
Tuesday, 31 August 2010
Tak terbilang tatapan mata yang memandangnya tak biasa,aneh,karena dia membawa sekitar 120 buku sambil membacanya di atas keledai.Hal ini tak ubahnya seperti tontonan sirkus belaka.

NAMUN, di mata ratusan anakanak di desa-desa terpencil di Kolombia, Luis Soriano jauh dari gambaran seorang badut. Dia adalah lelaki yang mempunyai misi menyelamatkan anak-anak perdesaan dari buta huruf.“Ada beberapa waktu ketika banyak orang mengira saya orang gila. Mereka berteriak musim karnaval telah selesai. Tapi sekarang saya bisa mengatasi hal itu,”ujarnya. Lelaki berusia 38 tahun ini merupakan penduduk asli dari La Gloria,Kolombia.

Dia adalah guru sekolah dasar (SD) yang menghabiskan waktu senggangnya dengan mengoperasikan biblioburro, yakni perpustakaan bergerak yang ada di atas keledai.Melalui perpustakaannya inilah dia memberikan pendidikan membaca untuk ratusan anak yang hidup di daerah telantar atau terpencil di Magdalena, Kolombia. “Di wilayah perdesaan, anakanak harus berjalan atau naik keledai selama 40 menit menuju ke sekolah terdekat.

Anak-anak hanya memiliki sedikit kesempatan untuk pergi ke sekolah. Selain itu, jumlah guru yang mengajar juga sangat sedikit,”tuturnya. Kesadaran Soriano memberikan pengajaran membaca untuk anak-anak daerah terpencil muncul ketika kariernya sebagai guru memasuki tahun ke-17.Saat itu dia menyadari bahwa beberapa anak memiliki kesulitan bukan hanya pada saat belajar,tapi juga menyelesaikan tugas rumah mereka.

Kebanyakan anak-anak tinggal di perdesaan yang sangat tertinggal, para orang tua mereka juga buta huruf, dan mengalami kesulitan mengakses buku untuk menyelesaikan tugas mereka. Untuk membantu menjembatani kesenjangan tersebut, Soriano memutuskan membawa dan memberikan buku ke anak-anak secara personal.“Saya melihat dua keledai yang tidak dipakai di rumah dan saya memiliki ide menggunakan mereka untuk proyek biblioburro saya karena dua hewan ini bisa membawa muatan yang sangat banyak,”urainya.

Soriano pun meletakkan buku di belakang pelana keledai itu. Setiap Rabu saat senja dan Sabtu pagi, Soriano meninggalkan istri dan tiga anaknya yang masih kecil untuk pergi ke perdesaan terpencil itu. Perjalanannya memakan waktu 4 hingga 8 jam dengan menunggang keledai bernama Alfa.Adapun keledai keduanya, Beto, mengikuti di belakangnya,membawa berbagai buku tambahan di dalam tas yang diletakkan di atas Beto.Soriani dan keledainya ini mengunjungi 15 desa secara bergantian.

Apa yang dia lakukan bukanlah perkara mudah.Pernah pada 2006, dia dirampok para penjahat saat melewati sungai dan dia pun berlindung di atas pohon karena tidak memiliki uang.Pada Juli 2008,kakinya retak karena dia jatuh dari salah satu keledai. Meskipun kejadian ini membuat kaki kirinya pincang, semangat Soriano tidak pernah menurun. Semua hal itu tak mampu menyurutkan semangatnya untuk terus datang ke desa terpencil dengan perpustakaan keledainya.

Di setiap desa,sekitar 40 hingga 50 anak menunggu untuk mendapatkan bantuan menyelesaikan tugas rumah mereka.Di perpustakaan keledai ini pula mereka belajar membaca atau mendengar berbagai dongeng,kisah-kisah petualangan, dan pelajaran geografi. (susi)