VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Anak Mantri Hutan di Belantara Ancol PDF Print
Saturday, 28 August 2010
SIAPA sih yang tak kenal dengan pusat hiburan Taman Impian Jaya Ancol? Siapa pula yang tak tahu Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran?

Namun, apakah Anda kenal siapa orang di balik pendirian tiga tempat spektakuler di Jakarta itu? Dia adalah Soekardjo Hardjosoewirjo, salah satu orang penting di balik pendirian tiga tempat wisata di Jakarta itu. Meski berperan penting, tak banyak yang tahu dengan sosok Soekardjo, mantan pejabat Pemda DKI yang pernah jadi anggota DPR RI itu.

Soekardjo mulai membangun Ancol berdasarkan mandat yang diterima Gubernur DKI Jakarta Soemarno Sosroatmodjo dari Presiden I RI Bung Karno pada dekade 60-an. Bung Karno memerintahkan agar Ancol yang tadinya rawa-rawa dan hutan belukar angker yang dikenal sebagai “tempat jin buang anak”, agar dibangun tempat rekreasi terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara. Sementara itu, pembangunan TMII berdasarkan instruksi Presiden II RI Soeharto melalui Ibu Tien Soeharto.

Penguasa Orba itu begitu terkesan dengan kinerja Soekardjo saat membangun Ancol sehingga memberikan amanah kepadanya untuk meletakkan dasar-dasar manajemen di tempat rekreasi yang merupakan miniatur Indonesia itu. Namun, meski berjasa besar dalam pembangunan tempat wisata terbesar di Indonesia itu,Soekardjo tetap low profile dan jauh dari popularitas.

Hal itu tak lepas dari ajaran orang tuanya,pasangan mantri hutan (ambtenaar) Soeradi Hardjosoewirjo dan Soetijem dari Desa Tambakboyo, Mantingan,Ngawi,Jawa Timur. Soeradi adalah sosok mantri hutan yang lurus dan bersahaja.Hidup di masa-masa akhir pendudukan Belanda di Indonesia,seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, Soeradi hidup dalam keterbatasan. Meski begitu, pantang baginya menjadikan itu sebagai alasan untuk menghalalkan segala cara.

“Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur),”tuturnya. Ketika pulang menyabit rumput untuk piaraannya—kerja sampingan untuk menambah penghasilan— Soeradi menemukan sebutir telur bebek, dia tak berani mengonsumsinya.Padahal,sore itu tidak ada lauk untuk makan malam, sementara anak-anaknya merengek minta agar telur itu digoreng. “Telur itu bukan milik kalian.

Itu bukan hak kita,”ujar Soeradi kepada anak-anaknya.Soeradi sengaja menaruh telur tersebut di meja rumah untuk memberikan pelajaran bahwa sesuatu yang bukan haknya tidak boleh diambil. Dan malam itu juga Soeradi membawa telur tersebut ke rumah Mbah Karto, di seberang hutan yang lumayan jauh dari rumahnya. “Telur itu pasti milik Mbah Karto karena dia satu-satunya pemilik bebek di Tambakboyo,”kenangnya.

Pelajaran kejujuran yang ditularkan oleh Soeradi tersebut begitu membekas pada diri Soekardjo. Meski telah berpuluh tahun lewat, pelajaran kejujuran dari sang ayah itu tetap tertanam dan selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari Soekardjo, orang di balik pendirian Ancol, TMII, dan PRJ Kemayoran. Suri teladan sang ayah yang membekas kuat pada diri Soekardjo itulahyangmenjadisalahsatubahan yang diulas dalam buku Jejak Soekardjo Hardjosoewirjo di Taman Impian Jaya Ancol terbitan Kompas,Jakarta.

Buku setebal 324 halaman yang ditulis oleh wartawan senior Sugianto Sastrosoemarto dan Budiono itu diterbitkan pada Juni 2010 lalu. Tak hanya soal kejujuran,buku tersebut juga banyak mengulas suka-duka Soekardjo dalam membidani lahirnya tiga tempat monumental di Jakarta: Taman Impian Jaya Ancol, manajemenTMII,dan PRJ.

“Namanya identik dengan Ancol.Dan sebagai seorang marhaenis, ia berhasil mewujudkan ide dan cita-cita spektakuler Bung Karno yang memimpikan Ancol yang dulunya ‘tempat jin buang anak’ menjadi tempat wisata berstandar internasional,” tutur Hiskak Secakusuma, kolega Soekardjo di PT Pembangunan Jaya.

Konglomerat Ciputra pun tak segan-segan mengungkapkan kehebatan sosok Soekardjo yang pernah menjadi anggota Fraksi PDIP DPR selama dua periode (1999–2009) itu. “Diaseorangpekerjakerasyangloyal kepada perusahaan,rajin,dan jujur,” ujar Ciputra.“Dan sebagai Direktur Umum (di PT Pembangunan Jaya),ia sangat fleksibel, luwes, dan supel,” tambahnya.

Tak berlebihan, jika Soekardjo dipercaya menjadi pelaksana pembangunan dua tempat monumental dari dua presiden, yakni Soekarno dan Soeharto. Soekarno—melalui Gubernur DKI Jakarta—memerintahkan pembangunan Ancol, sementara Soeharto—melalui Ibu Tien—memerintahkan peletakan dasar-dasar manajemen TMII.

Hebatnya, meski mendapat kepercayaan penuh menggarap megaproyek dari presiden,Soekardjo tak lantas berubah menjadi “Gayus”— pejabat pajak yang mengemplang duit negara Rp6,7 triliun.Itu karena kuatnya ajaran kejujuran yang diajarkan oleh sang ayah melalui filosofi telur bebeknya. (*)

Sudarto,
Lembaga Kajian Sosial
Politik Sabang-Merouke,Cyrcle.