VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Merajut Asa dari Sepak Bola PDF Print
Saturday, 28 August 2010
APA yang mungkin terjadi jika seorang pria Korea yang gagal berbisnis bertemu dengan sekumpulan anak miskin dari Timor Leste? Mereka bersinergi dan melahirkan mimpi. Ini memang kisah nyata yang sedikit absurd.

Seorang pria asal Korea Selatan memutuskan untuk tinggal dan mengajarkan sepak bola kepada anak-anak miskin di Timor Leste (dulu Timor Timur). Orang mungkin akan menganggap Kim Won-Kwang,nama pria itu,sedikit gila. Tapi,perjalanan hidup sepertinya memang sudah menakdirkannya untuk melakukan sesuatu yang luar biasa di negara miskin tersebut. Kim (atau Kim Shin-hwan), dulunya adalah pemain sepak bola di Korea.

Setelah gantung sepatu, ia memutuskan untuk berbisnis. Sayangnya, bisnisnya tak berjalan lancar.Kehidupan rumah tangganya juga berantakan. Mencoba menghilangkan kesedihan, Kim (diperankan Hie-sun Park) lalu pergi ke Sumatera. Di sana ia juga mencoba menjajaki adanya peluang bisnis. Namun, seorang teman yang juga warga negara Korea menyarankan Kim untuk pergi ke Timor Leste.

Kim pun pergi ke sana.Namun, melihat kondisi negara tersebut, pupus sudah niat Kim untuk memulai bisnis. Saat itu tahun 2002,Timor Leste baru saja merdeka,lepas dari Indonesia. Sisa-sisa kepiluan akibat bentrok golongan pro dan antikemerdekaan masih sangat terasa. Gedung-gedung hancur, jalanan rusak,dan yang pasti, hampir seluruh rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Tak ada orang asing di negara ini. Kalaupun ada,mereka pastilah sukarelawan, anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), atau pegawai kedutaan yang bertugas di sana, bukan seseorang yang ingin membangun bisnis macam Kim. Menyadari hal ini,Kim lalu memutuskan kembali ke Korea. Namun, dalam perjalanan menuju bandara, ia melihat sekelompok anak bermain sepak bola dengan kaki telanjang dan kaus yang lusuh. Entah ide bodoh dari mana, Kim lantas kepikiran untuk berbisnis toko perlengkapan sepak bola di Timor Leste.

Kim lantas mengisi tokonya dengan berbagai kaus,sepatu,dan bola merek terkenal dengan harga yang mahal.Tentu saja, seperti sudah diduga, tokonya bangkrut seketika karena tak ada yang beli. Namun,Kim tak mau menyerah.Ia lalu menjual secara kredit sepatu sepak bolanya kepada anak-anak itu. ”Satu hari satu dolar, mengerti?” ujar Kim dengan bahasa campur- campur Korea, Indonesia, dan Inggris.

Sambil menunggu sepatu-sepatu itu terbayar lunas, Kim melatih anak-anak tersebut bermain sepak bola.Awalnya,setoran ”satu hari satu dolar” berjalan lancar, sampai akhirnya anak-anak miskin itu tak mampu membayar lagi. Kim bisa saja marah dan langsung pulang ke Korea, tapi kali ini Kim sudah ”terjebak”.Hatinya sudah keburu berlabuh pada semangat anak-anak miskin itu untuk bermain sepak bola.

Selagi Kim susah payah melatih dan menghadapi rintangan di sana-sini, takdir yang hebat sudah menunggu Kim dan anak-anak miskin yang dilatihnya itu. Oleh beberapa media di Korea Selatan, A Barefoot Dream disebutsebut sebagai film Korea paling inspiratif pada tahun ini. Film garapan sutradara Kim Tae-Gyun ini diputar di 350 bioskop di Korea. Ia bahkan juga diputar di markas besar PBB di New York.

Terlepas dari sejarah kisah nyatanya,film ini memang digarap dengan apik.Selama dua jam,Kim Tae-Gyun mengajak penonton untuk berwisata emosi,mulai tertawa karena tingkah Kim,muram karena kondisi anak-anak miskin di Timor Leste,lalu campur aduk antara gembira dan cemas saat film menuju klimaksnya.

Dalam menceritakan ulang kisah nyata ini, sutradara Kim memutuskan untuk mengambil sudut pandang pelatih Kim. Ia secara perlahan mentransformasi kepribadian Kim dari sekadar pria yang hanya melihat suatu wilayah dari segi bisnis,menjadi seseorang yang penuh kepedulian pada lingkungan sekitar.

Transformasi ini digambarkan cukup ekstrem, saat pelatih Kim akhirnya rela mengorbankan segala miliknya demi mimpi besar anak-anak miskin tersebut.Orangorang di sekitar pelatih Kim mungkin menganggap bahwa Kim adalah pahlawan bagi anak-anak itu. Namun, Kim justru merasa bahwa anak-anak itulah yang telah menolongnya untuk kembali ”hidup”.

”Aku selalu memulai, tapi tak pernah menyelesaikan. Bersama anak-anak ini,aku yakin bahwa kali ini aku bisa menyelesaikan satu hal dalam hidupku dengan baik,” begitu kira-kira perkataan Kim kepada teman diplomatnya. Pergulatan menumbuhkan semangat hidup Kim ini berpadu dengan pergulatan kemiskinan yang dialamianak-anakdidikKim.

Tanpa berlebihan dan berpanjang-panjang menyorot kepiluan hidup, sutradara sudah cukup memberikan gambaran bahwa konflik berkepanjangan mampu membuat anakanak menjadi yatim piatu di usia dini, bahwa konflik berkepanjangan adalah bibit paling ampuh menciptakan kebencian pada anak-anak sejak usia dini,dan penyakit kurang gizi adalah pemandangan yang lumrah ada.

Karena itu, bermimpi dan memiliki harapan adalah hal sangat mahalbagimereka, kalautidakmau disebut mustahil. Meski penuh dengan unsur kepiluan hidup, sutradara Kim memilih untuk membuat A Barefoot Dream sebagai film yang menghibur. Ia bisa membuat penonton tertawa, menangis,tersenyum,sambil sekaligus merenungi makna hidup. (herita endriana)