|
||||||||||||||||||
| Agar Mudik Aman dan Nyaman |
|
|
| Friday, 27 August 2010 | |
|
Ritual mudik Lebaran masih dihantui masalah minimnya ketersediaan
angkutan,kemacetan lalu lintas,sampai maraknya angka kecelakaan.
Bagaimana antisipasi pemerintah?
HARIraya Idul Fitri 1431 H sebentar lagi akan dirayakan oleh muslim seluruh dunia. Di Indonesia sebagian penduduk saat ini tengah bersiapsiap melakukan mudik Lebaran untuk menutup bulan suci Ramadan dengan berkumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman. Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang masa mudik selalu muncul berbagai kendala, mulai dari ledakan jumlah pemudik, minimnya sarana transportasi,kemacetan, hingga maraknya kecelakaan lalu lintas. Sudahkah pemerintah mengantisipasi berbagai persoalan tersebut? Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono memper-kirakan, jumlah arus mudik pada musim Lebaran 2010 akan mencapai lebih dari 15 juta orang. ”Mudik 2010 akan mengalami peningkatan antara 12–15% dari tahun sebelumnya yang mencapai 14,6 juta orang dan pemudik bersepeda motor akan mendominasi jalur darat,” ujar Bambang beberapa waktu lalu. Sementara,Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) memprediksi jumlah pemudik pada 2010 lebih besar yaitu sebanyak 18 juta. Ketua Umum MTI Danang Parikesit mengatakan, prediksi lembaganya lebih besar dari versi pemerintah karena pengalaman bahwa angka yang disodorkan pemerintah biasanya lebih rendah dari fakta di lapangan.” Tahun ini kita perkirakan jumlah pemudik ada sekitar 18 juta orang, di mana lebih dari setengahnya (7,2 juta) adalah pengendara sepeda motor,”kata Danang. Berdasarkan catatan yang dihimpun harian Seputar Indonesia (SINDO), tren penduduk yang mudik Lebaran selalu meningkat setiap tahun. Pada 2006 jumlah pemudik mencapai 14 juta orang. Pada 2007 jumlah itu meningkat menjadi 14,8 juta orang dan naik lagi menjadi 16,4 juta orang pada 2008. Pada 2009 jumlah pemudik sebanyak 14,6 juta orang. Apabila prediksi pemerintah benar,maka sebanyak lebih dari 15 juta orang atau setara separuh total penduduk Jabodetabek akan melakukan mobilitas ke kampung halaman. Dapat dibayangkan tumpah ruah penduduk dan kesemrawutan lalu lintas yang akan terjadi di ruas-ruas jalur mudik.Pertanyaannya, apakah infrastruktur dan sarana transportasi yang ada saat ini sudah sebanding dengan jumlah pemudik? Hal ini patut diperhatikan mengingat jumlah pemudik yang besar setiap tahunnya kerap berbanding terbalik dengan kapasitas armada transportasi yang tersedia, terutama bagi pemudik yang menggunakan jasa angkutan umum.Ambil contoh, angkutan darat jenis kereta api.Kendati baru beberapa hari memasuki bulan Ramadan, tiket kereta api H-7 sampai H-1 di Stasiun Gambir sudah habis terjual. Kebanyakan tiket yang habis merupakan tiket kereta api jurusan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibatnya,calon pemudik yang sudah rela mengantre terpaksa gigit jari atau menggunakan jasa calo.Ludesnya tiket kereta api jauh sebelum periode mudik patut dipertanyakan. Calo tiket ternyata masih berkeliaran dan leluasa mengambil keuntungan secara sepihak. Pemerintah jangan tutup mata dan harus segera menertibkan para calo yang sudah amat meresahkan masyarakat ini. Masyarakat yang ingin mudik menggunakan jasa kereta api kini tinggal berharap pada gerbong cadangan.Menurut Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop I Mateta Rijalulhaque,pihaknya akan menyediakan rangkaian kereta tambahan guna mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang. ”Kita sediakan 28 perjalanan kereta pergi-pulang termasuk Kereta Pasundan di Bandung jurusan Surabaya. Penambahan tersebut menyebar di seluruh stasiun Daop I,”ujarnya. Selain sarana angkutan Lebaran, tantangan berikut yang harus dihadapi adalah kemacetan lalu lintas.Kemacetan selalu mewarnai setiap perjalanan mudik Lebaran. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya,kemacetan lalu lintas rawan terjadi di hampir seluruh ruas jalur utara maupun jalur selatan Pulau Jawa dengan titik kemacetan terparah di tiga wilayah yaitu Merak (Banten), Pejagan (Jawa Tengah),dan Nagrek (Jawa Barat). Meningkatnya kepemilikan kendaraan bermotor di kota-kota besar diyakini menjadi salah satu penyebabnya. Menurut catatan Polri, pada 2008 tercatat lebih dari 10 juta kendaraan melintasi jalur mudik. Di Jakarta saja, jumlah kendaraan yang keluar dari Ibu Kota mencapai lebih dari 700 ribu kendaraan. Dari jumlah itu,65% di antaranya kendaraan roda dua,25% roda empat,dan 10% bus dan truk. Karena itu,Kementerian Perhubungan dan kepolisian harus bekerja ekstra keras mengatasi macet. Percepatan proyek pelebaran jalan dan infrastruktur lainnya harus segera dirampungkan.Pembangunan pos-pos polisi di daerah rawan macet dan kecelakaan juga perlu ditingkatkan. Tak ketinggalan, penyiapan jalur-jalur alternatif sebagai penyeimbang arus kendaraan. Selain itu, pasar tumpah yang mengganggu kelancaran arus mudik juga perlu ditertibkan.Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengatakan, setidaknya ada 78 titik pasar tumpah yang harus diwaspadai terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah.Menurut Freddy,pada prinsipnya pasar tumpah tidak dilarang namun pemerintah akan menertibkan agar tidak mengganggu arus mudik. ”Itulah yang akan diantisipasi sehingga kita minta kerja sama pemda dan polisi untuk menjaga,” tandas mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini. Selain kemacetan, kecelakaan lalu lintas juga menjadi satu hal yang selalu mengiringi ritual mudik Lebaran. Menurut data Polri, sejak tiga tahun belakangan angka kecelakaan pada arus mudik dan arus balik Lebaran cenderung tinggi. Pada 2007 terdapat 1.875 kasus kecelakaan dengan 798 korban tewas,952 luka berat,dan 2.034 luka ringan.Pada 2008 kecelakaan meningkat menjadi 2.553 kasus dengan jumlah korban tewas 1.092 orang, luka berat 2.484, dan 1.379 luka ringan. Pada 2009 tercatat ada 1.646 kasus kecelakaan dengan korban tewas 702 orang,korban luka berat 859 orang, dan luka ringan 1.697 orang. Meski menurun dari tahun sebelumnya,angka kecelakaan lalu lintas Lebaran tetap memprihatinkan. Berdasarkan jenis kendaraannya, kecelakaan didominasi oleh pengemudi sepeda motor (76%), disusul oleh mobil pribadi (9%),bus (7%),dan angkutan lainnya (8%). Berdasarkan lokasinya, kecelakaan lalu lintas merata terjadi di sepanjang jalur mudik. Menurut data Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, terdapat 18 titik rawan kecelakaan.Ke-18 titik tersebut adalah Losari (Brebes), Bumiayu dan Pejagan (Tegal), Ulujami (Pemalang), Tulis, Plelen, Truko (Batang), Jalan Raya Tugu, Kaligawe, Bawen (Semarang).Kemudian Sayung (Demak), Jalan Raya Kudus-Pati, Jalan Raya Pati-Rembang, Jalan Lingkar Solo, Jalan Raya Solo-Mantingan,Kalirejo (Kebumen), dan Butuh (Purworejo). Sementara, Dinas Perhubungan Jawa Timur melansir ada 54 titik rawan kecelakaan. Di antaranya adalah ruas jalan Baureno-Bojonegoro KM 76–79,Widang Tuban KM 80–103, Purwodadi-Pasuruan KM 64,8–65,8, jalur Purwosari-Pasuruan KM 59–60.Kemudian,Piton-Probolinggo KM 142–144,Banyuputih- Situbondo KM 252-253, Lawang- Malang KM 71–72, Keraton-Pasuruan KM 54–55, dan Lega-Bangkalan KM 55. Tingginya jumlah kecelakaan lalu lintas Lebaran memang disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah human error.Berdasarkan catatan Polri,kecelakaan disebabkan pelanggaran tata tertib lalu lintas,kelebihan muatan,serta kondisi kendaraan yang tidak layak. Untuk itu, kita berharap pihak kepolisian dengan dukungan masyarakat bersama-sama mewujudkan mudik yang aman dan nyaman. Kepolisian seyogianya terus mengimbau masyarakat agar menaati segala peraturan lalu lintas.Pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi sepatutnya mengecek kendaraannya agar benar-benar siap untuk dibawa mudik. Terkait maraknya kecelakaan yang terjadi pada pengemudi sepeda motor, aparat kepolisian juga harus tegas melarang pemudik yang mengangkut beban melebihi muatan untuk melanjutkan perjalanan, bahkan kalau perlu ditilang. Bagaimanapun, peraturan ditegakkan untuk keselamatan pengendara dan pengguna jalan lainnya. Kecelakaan lalu lintas tidak hanya disebabkan kelalaian pengendara tetapi juga faktor infrastruktur jalan yang buruk. Oleh sebab itu, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum,pemerintah daerah,dan dinas- dinas terkait harus meningkatkan pelayanan ruas jalan di daerahnya masing-masing.Banyaknya penyempitan jalan,minimnya marka, dan jalan berlubang di sana-sini patut mendapat perhatian serius. Mudik lebaran yang aman dan nyaman adalah hak masyarakat yang harus dipenuhi. (m azhar/litbang SINDO) |