|
||||||||||||||||||
| Ekonomis tapi Berisiko Tinggi |
|
|
| Friday, 27 August 2010 | |
|
MUDIKmenggunakan sepeda motor merupakan fenomena yang marak sejak lima
tahun belakangan. Menurut data yang dikumpulkan SINDO, jumlah pemudik
dengan menggunakan sepeda motor tumbuh mencapai 15–30% setiap tahunnya.
Pada musim Lebaran 2008, jumlah pemudik sepeda motor sebanyak 2,4 juta orang dan pada 2009 naik lagi menjadi 3,1 juta orang.Tahun ini Menteri Perhubungan Freddy Numberi memprediksi, pemudik sepeda motor lebih dari 3,6juta orang. Pertumbuhan ini cukup mengejutkan mengingat sepeda motor sejatinya bukan merupakan kendaraan yang didesain untuk bepergian ratusan kilometer jauhnya. Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya pemudik bersepeda motor. Pertama, angka kepemilikan sepeda motor yang semakin tinggi di kota-kota besar. Di DKI Jakarta saja, menurut data Polda Metro Jaya, kepemilikan sepeda motor pada 2009 mencapai lebih dari 7,1 juta unit. Itu belum termasuk kepemilikan sepeda motor di kotakota penyangga seperti Bekasi,Tangerang, Depok dan Bogor. Harga yang relatif murah ditambah kredit kepemilikan sepeda motor yang sangat kompetitif meningkatkan permintaan masyarakat akan kendaraan roda dua tersebut. Faktor kedua adalah nilai ekonomis dari mudik dengan sepeda motor. Faktor ekonomi dominan lantaran rata-rata pemudik sepeda motor merupakan masyarakat kelas menengah ke bawah. Jika dibandingkan dengan moda transportasi lainnya,ongkos yang harus dikeluarkan pemudik sepeda motor memang relatif lebih murah. Biaya operasional dan perawatan sepeda motor juga relatif murah. Sepeda motor juga lebih diandalkan ketika menghadapi kemacetan. Keunggulan lainnya,sepeda motor memungkinkan pemudik untuk melakukan mobilitas lebih tinggi di kampung halamannya. Namun, di balik berbagai segi ekonomisnya, mudik menggunakan sepeda motor rawan kecelakaan. Berdasarkan data Polri, angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor cenderung meningkat setiap tahunnya. Pada 2007, dari 798 korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas, sebanyak 74% di antaranya adalah pemudik bersepeda motor. Jumlah itu meningkat dari tahun 2006 di mana sebanyak 64% dari korban tewas merupakan pemudik sepeda motor. Tingginya kecelakaan sepeda motor salah satunya disebabkan kelalaian dan perilaku pengendara sepeda motor itu sendiri, terutama akibat mengangkut penumpang atau barang yang melebihi muatan dan faktor kelelahan. Banyaknya pemudik yang nekat membonceng satu keluarga plus barang di atas satu motor merupakan pemandangan yang selalu kita lihat dari tahun ke tahun. Bahkan, ada pengendara yang membonceng anaknya di depan yang tentunya berbahaya bagi kesehatan sang anak. Hal ini sangat memprihatinkan dan berpotensi kecelakaan.Padahal, tidak kurang berbagai imbauan teknis telah diupayakan oleh pihak kepolisian dan instansi terkait. Misalnya, larangan membonceng lebih dari satu orang,larangan mengebut, beristirahat setiap menempuh dua jam perjalanan,pengawalan oleh petugas,dan menyalakan lampu di siang hari. Harus diakui, mencegah kecelakaan lalu lintas hingga mencapai tingkat zero accident memang sulit. Untuk itu, perlu dicarikan solusi yang jitu menekan angka kecelakaan seminimal mungkin. Salah satunya mewajibkan wanita dan anak-anak tidak ikut mudik dengan sepeda motor. Biarkan pemudik laki-laki yang menggunakan sepeda motor, sementara anggota keluarga dan barang-barang pemudik menumpang angkutan umum atau kendaraan pribadi. Metode ini jauh lebih baik daripada satu sepeda motor ditumpangi 2–3 penumpang. Apalagi dengan adanya fasilitas dari PT Kereta Api yang sudah menyediakan gerbong khusus sepeda motor sejak 2008 lalu.Ada baiknya calon pemudik sepeda motor mempertimbangkan fasilitas ini demi menekan risiko kecelakaan. Kepolisian dan instansi di daerah juga harus mengecek kesiapan jalur-jalur utama yang biasanya rawan kecelakaan. Sebab, kecelakaan sepeda motor sering disebabkan infrastruktur jalan yang kurang memadai misalnya jalanan yang berlubang. (m azhar/litbang SINDO) |