VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
Pentingnya Angkutan Khusus Lebaran PDF Print
Friday, 27 August 2010
MARAKNYA kemacetan serta kecelakaan lalu lintas yang terjadi saat mudik Lebaran disebabkan belum optimalnya sistem transportasi massal di Indonesia.


Karena itu,pemerintah harus mempertimbangkan pembangunan sarana transportasi massal khusus Lebaran yang aman dan nyaman sehingga pemudik memilih untuk menggunakan jasa angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi. Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia di mana sebagian umatnya merayakan hari raya dengan mudik ke kampung halaman.Setiap tahun jutaan orang mudik ke daerah asal-usulnya. Pada 2009 jumlah pemudik mencapai 14,6 juta jiwa.Jumlah itu sama dengan total penduduk negara Belanda pada 2004 dan lebih dari separuh total penduduk Jabodetabek.

Untuk tahun ini, pemerintah memprediksi ada kenaikan arus mudik mencapai 18 juta jiwa. Sayangnya dengan jumlah pemudik yang bertambah setiap tahunnya, Indonesia tidak memiliki sarana angkutan khusus mudik. Sistem transportasi mudik negara kita masih mengandalkan sarana transportasi operasional seharihari yang jumlahnya terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan transportasi mudik, penyedia jasa angkutan umum biasanya menyiasati dengan menambah armada cadangan. Namun, hal itu cukup untuk mendorong masyarakat menggunakan angkutan umum. Berdasarkan catatan Polri, pada 2008 jumlah pemudik yang menggunakan moda transportasi angkutan jalan raya sebanyak 6,3 juta orang.

Dari jumlah itu,85% di antaranya adalah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, sedangkan 15% sisanya tersebar di angkutan bus dan angkutan jalan lainnya. Sementara, jumlah penumpang kereta api sebanyak 3 juta orang,angkutan udara 1,4 juta, angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP) 3,3 juta, dan angkutan laut 1,1 juta. Selain ketersediaan sarana angkutan yang belum memadai, faktor kenyamanan juga menjadi pertimbangan pemudik. Seperti diketahui, angkutan umum yang ada saat ini dinilai belum mampu menyuguhkan rasa aman dan nyaman sehingga masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi.Jadwal yang sering tidak tepat waktu,penumpang berdesakan atau melebihi kapasitas angkut, dan maraknya calo sudah menjadi keluhan sehari-hari para pengguna kendaraan umum.

Dalam logika pemudik, kendaraan pribadi lebih menjanjikan kenyamanan. Dengan kendaraan pribadi, seorang pemudik dapat mengatur waktu dengan efektif sedangkan kendaraan umum tidak fleksibel karena tidak dapat diprediksi. Masih banyak faktor pendorong seseorang menggunakan kendaraan pribadi, misalnya memudahkan mobilitas di kampung halaman.Bagi pemudik kendaraan roda dua, sepeda motor dinilai mampu menerobos kemacetan. Meningkatnya pemilik kendaraan pribadi sebagai konsekuensi meningkatnya pertumbuhan ekonomi tentu tidak bisa dihindari.

Banjir pemudik setiap tahun menyusul meningkatnya jumlah populasi juga sulit diintervensi.Namun, setidaknya pemerintah mampu mengantisipasinya dengan cara mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Karena itu, pemerintah harus mengeluarkan terobosan untuk membatasi kendaraan pribadi yang semakin lama semakin tidak terkendali. Caranya, bangun sarana angkutan khusus mudik Lebaran. Fenomena mudik sudah menjadi rutinitas tahunan sehingga wajar apabila Indonesia punya sistem transportasi yang khusus beroperasi saat musim mudik. Sistem transportasi khusus mudik ini bukan hanya penambahan armada atau kapasitas di masingmasing angkutan Lebaran (darat, laut, dan udara).

Pemerintah juga perlu membangun infrastruktur jalan-jalan baru sebagai alternatif, memperbanyak waktu keberangkatan, dan memperluas penyebaran rute angkutan Lebaran. Selain itu, penyedia jasa angkutan Lebaran juga harus memberikan kenyamanan dan harga yang kompetitif. Apabila syarat-syarat tersebut sudah dipenuhi, niscaya masyarakat akan menerima. (m azhar/litbang SINDO)