VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9125.00 8875.00
SGD7185.82 7170.82 
AUD9810.20 9506.20 
JPY118.25 113.83 
10-Feb-2012 / 11:40 WIB

 
30 Juta Penduduk Menderita Hepatitis PDF Print
Wednesday, 28 July 2010
YOGYAKARTA(SI) – Jumlah penderita penyakit hepatitis B dan C di Indonesia diperkirakan mencapai 30 juta orang.Golongan umur yang menjadi pengidap hepatitis pun berkisar pada usia produktif yakni 15–44 tahun.


Hal ini membuat Indonesia digolongkan sebagai negara dengan prevalensi tingkat endemisitas menengah sampai tinggi. Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan, lebih dari dua miliar penduduk dunia telah terinfeksi oleh virus hepatitis B.“Dan lebih dari 360 juta penderitanya menjadi pengidap kronis,” kata Endang dalam acara pencanangan dan peringatan Hari Hepatitis Sedunia di RS Dr Sardjito, Yogyakarta, kemarin. Selain itu, kata Endang, 130– 170 juta penduduk dunia juga merupakan pengidap virus hepatitis C dengan angka kematian lebih dari 350.000 orang per tahun. Sementara itu, di Indonesia 15 juta orang dari penderita hepatitis B dan C berpotensi menderita chronic liver diseases.

Endang menjelaskan,dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007,prevalensi nasional hepatitis klinis sebesar 0,6%. Tercatat, 13 provinsi di Indonesia memiliki prevalensi di atas nasional,tertinggi di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Proporsi penyebab kematian pada golongan semua umur dari kelompok penyakit menular penyakit hati, termasuk hepatitis kronik,menduduki urutan kedua. “Data tersebut juga menyebutkan bahwa pada golongan umur 15–44 tahun di pedesaan,penyakit hati menduduki urutan pertama sebagai penyebab kematian. Sedangkan di daerah perkotaan menduduki urutan ketiga,” katanya.

Untuk menanggulangi penyakit hepatitis ini, Endang mengungkapkan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya di antaranya pilot projectimunisasi hepatitis B di Pulau Lombok. “Meskipun telah melakukan berbagai upaya, Hepatitis masih merupakan masalah yang besar. Tantangan yang kami hadapi adalah kurangnya kesadaran pemahaman masyarakat dan petugas kesehatan, kurangnya data dan informasi,serta cakupan imunisasi yang belum merata sehingga besarnya masalah tidak diketahui,”ungkapnya. Endang menambahkan, dengan kenyataan kurangnya kemajuan dalam pencegahan dan pengobatan, khususnya di negara berkembang, Indonesia berinisiatif melakukan upaya global untuk pencegahan dan pengobatan hepatitis yang bersifat komprehensif.

Upaya yang dilakukan adalah mengusulkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar hepatitis menjadi isu dunia. “Indonesia mengusulkan, hepatitis ditetapkan sebagai resolusi World Health Assembly (WHA) tentang viral (virus) hepatitis. Usulan tersebut diterima WHO untuk dibahas dalam sidang WHA atau Majelis Kesehatan Sedunia Ke-63 pada Mei 2010. Diserukan kepada seluruh negara di dunia untuk melakukan penanganan hepatitis secara komprehensif dan menjadikan 28 Juli sebagai Hari Hepatitis Sedunia,”imbuhnya.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY Bondan Agus Suryanto menuturkan, penyebab angka kematian tertinggi di DIY masih didominasi penyakit demam berdarah dan malaria.Namun,kewaspadaan terhadap penyakit hepatitis perlu ditingkatkan. “Dan, sejak 1990-an keseriusan Pemprov DIY dalam menyikapi penyakit ini ditunjukkan dengan meluncurkan imunisasi hepatitis B yang wajib dijalani bayi yang lahir pada waktu itu dan setelahnya,”ungkapnya. (ratih keswara)