VALAS

KURS

JUAL

BELI

USD9100.008850.00
SGD7229.807214.80
AUD9828.759523.75
JPY118.58114.12
9-Feb-2012 / 10:42 WIB

 
Kaus Merah Tuntut Pemilu PDF Print
Monday, 15 March 2010
Image

PRO-THAKSIN,
Massa pendukung mantan Perdana Menteri (PM) Thaksin Shinawatra melakukan demo besar-besaran di Bangkok, kemarin mendesak PM Thailand Abhisit Vejjajiva mundur dan menggelar pemilu. Pendukung Thaksin memberi waktu 24 jam kepada PM Abhisit untuk menyampaikan jawaban.

BANGKOK(SI) – Sekitar 80.000 pendukung mantan Perdana Menteri (PM) Thailand Thaksin Shinawatra, kemarin menggelar demonstrasi besar-besaran dengan pengamanan ketat dari aparat keamanan. Pendukung Thaksin menyerukan pemerintahan PM Abhisit Vejjajiva untuk mundur dan menggelar pemilu. Para demonstran telah mulai berdatangan ke Bangkok sejak Jumat (12/3),namun demonstrasi resmi digelar kemarin siang.

Diawali dengan pidato pedas dari pemimpin ‘Kaus Merah’, julukan kelompok pendukung Thaksin, Veera Musikapong. “Kaus Merah menyerukan kepada pemerintah untuk mengembalikan kekuasaan kepada rakyat dan membubarkan DPR secepatnya,” papar Veera.“Kami akan berkumpul di sini dan menunggu jawaban dalam kurun waktu 24 jam,” ujarnya disambut tepuk tangan para demonstran.

Kelompok yang mengorganisasi unjuk rasa ini, Front Demokrasi Penentang Kediktatoran (UDD) menyatakan 100.000 demonstran bakal bergabung dalam unjuk rasa tersebut. Mereka menyatakan bahwa unjuk rasa akan berjalan damai dan terus berlangsung jika pemerintah menolak keinginan pengunjuk rasa.Mereka membawa spanduk yang bertuliskan,“ Cukup,Sudah Cukup”.

“Selama ini tidak ada keadilan, Thailand tidak bisa bersatu. Kami ingin kekuasaan harus dikembalikan ke tangan rakyat,” ujar Jaran Ditthapichai, salah satu tokoh pemimpin Kaus Merah. Sedangkan menurut pemimpin UDD Natthawut Saikua,Kaus Merah tidak akan bernegosiasi dengan Korbsak Sabhavasu, Sekretaris Jenderal PM. Namun, akan senang jika bertemu Deputi PM Suthep Thaugsuban.

Pengunjuk rasa yang mengenakan kaus merah itu datang dari kawasan pedesaan utara Thailand. Thaksin memang memiliki pendukung fanatik dari wilayah pedesaan. Mereka menggunakan berbagai macam sarana transportasi, seperti truk,mobil,dan motor sambil membawa bendera merah dan berpakaian merah. Mereka menyuarakan demokrasi dan kebebasan. “Saya tidak khawatir jika terjadi kekerasan.

Kami tidak menggunakan senjata. Saya juga tidak khawatir dengan tekanan dari pemerintah,” ujar Benjawan Pholprasart, 50,warga Chonburi,80 km timur Bangkok. Dia mengungkapkan bahwa PM Abhisit tidak memperhatikan rakyat. Merespons seruan mundur dari Kaus Merah, Abhisit pun kemarin berkomentar pada tayangan mingguan di televisi. “Saya memiliki hak untuk menyelesaikan masa tugas saya,” paparnya.

Dia juga mengatakan tidak ada rencana untuk membubarkan demonstrasi yang sejauh ini dilaksanakan dengan damai dan taat pada aturan. “Pemerintah tidak diuntungkan dengan membubarkan demonstrasi,” ujar Abhisit kepada Bangkok Post.Abhisit sebelumnya telah memperingatkan bahwa demonstrasi tersebut memungkinkan adanya sabotase. Hingga akhirnya dia menunda kunjungan ke Australia akibat demonstrasi tersebut.

Sekitar 50.000 aparat keamanan dikerahkan untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam aksi demo itu. Beberapa jalanan di dekat kantor utama pemerintah pun ditutup. Beberapa kedutaan besar menyarankan warganya tidak mengunjungi Bangkok. “Mungkin bisa terjadi kerusuhan setelah beberapa hari ketika para pemimpin demonstrasi dan pengunjuk rasa mulai lelah dan frustrasi,” ujar Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Thailand Jenderal Thawil Pliensri.

Thailand kerap dilanda unjuk rasa politik sejak Thaksin masih berkuasa karena penentangnya, yang mengenakan kaus kuning, menuntut dia mundur dengan tuduhan korupsi.Thaksin akhirnya digulingkan oleh militer pada 2006 ketika sedang menghadiri sidang Majelis Umum PBB di New York. Pada 2008,para pendukungnya berhasil merebut kekuasaan lewat pemilihan umum.

Namun, kelompok penentang Thaksin menggelar unjuk rasa massal dan sempat menguasai kantor perdana menteri serta dua bandara utama di Bangkok. Thaksin kini mengasingkan diri di Dubai dan sudah diganjar hukuman penjara selama dua tahun oleh pengadilan Thailand karena penyalahgunaan kekuasaan. (AFP/Rtr/BP/andika hm)